π™±πšŽπš›πšœπšŽπš—πš“πšŠ π™Άπšžπš›πšŠπšž

" Alhamdulillah, akhirnya selesai juga.... " Trisha meregangkan tubuhnya yang sadari tadi kaku karena berkutat dengan beberapa dokumen dan mengurus beberapa tender dari klien. Jam analog sudah berpindah ke arah angka 16.45, sebentar lagi jam pulang kerja akan tiba. Trisha melirik ke meja kerja Dasha, anak magang baru yang dibimbing oleh Neona, rekan kerjanya yang masih merapikan arsip perusahaan di layar komputer. 
" Dash, kamu belum selesai? " Tanya Trisha sambil menepuk bahu Dasha lembut. 
" Dikit lagi, Teh. Ini aku sambil cross check aja sebelum nanti aku minta Teh Neona cek juga." Jawab Dasha dengan senyum tipis. 
" Kalo udah beres gapapa tinggalin aja. Soalnya bentar lagi kita semua pulang. "
" Iya, Teh. Makasih yaa." Trisha hanya mengangguk pelan sembari mengusap pelan bahu Dasha dan bersiap merapikan meja kerjanya. 

Baru saja Trisha berdiri dari kursi kerja, netranya tak sengaja bertemu pandang dengan Irza. Mood Trisha yang semula stabil, tiba-tiba menjadi sedikit turun dan dadanya sedikit sesak. 

Ini bukan takdir yang Trisha inginkan. Sudah sangat bersusah payah Trisha memungut pecahan hatinya yang pecah dan merekatkan kembali karena pria itu. Tapi kenapa ia harus saling bertemu dengan orang itu? 

Trisha mengalihkan pandangannya ke layar handphone yang sedari tadi bertengger di tangan kanannya. Trisha menatap layar handphone nya dengan senyum tipis. Rupanya Damar mengirimkan pesan singkat sejak 5 menit yang lalu. 

( abaikan time stamp nya 😊 ) 

Akhir- akhir ini Damar seperti mengetahui isi kepala Trisha. Contohnya saja hari ini. Trisha yang selalu melarikan diri ke makanan ketika sedang kesal, namun tiba- tiba tanpa diminta, Damar mengajaknya untuk berburu makanan enak. Entah bentuk takdir atau malah kebetulan. 

Ya Allah, apakah ini bentuk kesengajaan- Mu untuk mempertemukan aku dengan Mas Damar?

" Trish?" Suara bass khas orang itu membuyarkan pikiran Trisha. Kepalanya refleks mendongak dari layar handphone nya, menatap Irza dengan raut datar.
" Kamu pulang sendirian, kan? Mau aku antar—" Tawar Irza begitu bersitatap dengan Trisha.
" Gak usah gak apa - apa." Jawab Trisha dengan gelengan pelan. " Aku pulang sama temen. Lagipula ngapain kamu antar aku pulang? Apa istri kamu nggak akan mikir yang aneh- aneh tentang aku?"
" Kenapa masih harus bawa nama Helda dalam obrolan ini, sih?" Nada bicara Irza seketika berubah. Mengandung sedikit emosi di dalamnya.
Trisha memiringkan kepalanya heran. Matanya memicing tajam. " Lah? Dia kan istri kamu. Udah sewajarnya gak sih aku mikirin gimana perasaan istri kamu as a woman?" 
Irza melangkahkan kakinya agar sedikit dekat dengan posisi Trisha berdiri. Namun dengan cepat Trisha memundurkan kakinya.
" Aku gak bahagia nikah sama dia. Aku pikir selama ini kami bisa berbagi kebahagiaan setelah menikah. Tapi, entah kenapa rasa itu malah semakin berkurang. Aku hanya bahagia saat berpacaran sama dia—"
" GILA YA KAMU!" Mata Trisha membola sempurna seiring dengan emosi yang memuncak begitu mendengar ucapan Irza. " Kenapa kamu nikahin dia kalo ujungnya bakal kayak gini? Kamu gak boleh gitu, Za! Istigfar!"
" Aku menyesal karna waktu itu malah ninggalin kamu pas confess 8 tahun yang lalu—" 
" Kenapa masih bahas soal itu, sih?" Trisha menggelengkan kepalanya kencang. " Aku bahkan udah lupain soal itu, Za! Susah payah aku bertarung sama ingatan itu. Dan kamu seenaknya bahas itu di sini? Dengan dalih kamu menyesal menikahi Helfa!" Suara Trisha bergetar begitu jelas. Matanya menutup pelan untuk mengontrol nafasnya yang tersengal. Diliriknya isi ruangan kerja departemen desain yang kini orang- orang di sana menatap mereka dengan kaget. Mereka tak menyangka jika Irza dan Trisha saling mengenal sebelum bekerja di sini padahal mereka bahkan tak pernah menunjukkan keakraban sejak Irza dipindah tugaskan di kantor ini.

" Aku mau pulang." Trisha meraih tas nya sedikit terburu- buru dan melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan ruang kerjanya. Trisha sudah tak peduli tatapan terkejut semua rekan kerjanya sekarang. Mungkin setelah Trisha tenang, mungkin dia akan menjelaskan semuanya kepada mereka.

Trisha menekan tombol lift menuju lobby yang berada di lantai dasar. Begitu pintu lift terbuka, ia segera masuk dan menyandarkan tubuhnya ke dinding lift. Nafasnya masih berderu kencang, matanya begitu panas. Mungkin sebentar lagi air mata itu akan keluar dari ujung matanya. Trisha kesal pada dirinya sendiri. Kenapa dia bisa se lemah itu saat berhadapan dengan Irza.

Sementara di ruang kerja departemen desain, semua karyawan di sana menatap penuh tanya ke arah Irza. Namun, Neona menghampiri Irza dengan wajah tenangnya. 

" Saya gak tahu masalah apa yang terjadi di antara kalian berdua sampai Trisha se marah itu. Tapi, Pak, kalo bisa sebaiknya kalian selesaikan masalahnya di luar jam kerja dan di luar gedung kantor  biar suasana kerja kita semua tetap kondusif." Neona menundukkan kepalanya sejenak dan pergi meninggalkan ruang kerja bersama karyawan lain. Neona sebenarnya ingin bertanya soal kejadian yang baru saja ia lihat kepada Trisha. Namun mungkin ia harus menahan diri barang sebentar sampai Trisha mau menceritakan sendiri soal ini.

Irza mengusak rambutnya dengan keras, hingga helaian rambutnya yang rapi berubah menjadi berantakan. Irza tak seharusnya berbicara seperti itu kepada Trisha. Dia ingin memperbaiki semuanya. Komunikasi diantara mereka berdua. Dan juga, hubungan cintanya.

" Maafin aku, Trish...."

                                    πŸ’”


Damar menghentikan laju mobilnya ketika sudah tiba di dekat lobby perusahaan Trisha. Damar mengetik beberapa pesan kepada Trisha. Memberitahu jika Damar sudah tiba di tempat Trisha bekerja. Ia melepas seatbelt nya dan keluar dari kursi kemudi agar memudahkan Trisha menyadari kehadirannya. 

Netra Trisha menangkap kehadiran Damar yang baru saja keluar dari mobilnya. Trisha buru- buru mengusap wajahnya dengan tangan. Memastikan bahwa tidak ada jejak air mata yang tadi keluar saat dia menunggu di lift. Trisha memasang senyum simpul saat Damar melambaikan tangan ke arahnya.

" How's your day, Trish?" Tanya Damar dengan senyum tipis. Ia mulai menyadari sesuatu. Senyum yang ditampilkan Trisha tidak seperti biasanya. Seperti sedikit dipaksakan. Damar mungkin akan menanyakannya di sepanjang perjalanan mereka hari ini.
" I'm okay, Mas. Alhamdulillah hari ini kerjaan aku aman. Jadi biasa pulang teng go." Trisha melebarkan lagi senyumnya. Bersikap seolah dia baik- baik saja. Tapi percuma, kali ini Trisha tak bisa berbohong di depan Damar.
" Ayo kita langsung jalan aja, ya? Mungkin bakal sedikit macet ke arah festival kulineran nya. Gak apa- apa, kan?" Damar membual pintu penumpang depan dan mempersilakan Trisha masuk. Trisha hanya mengangguk pelan sambil bergumam ucapan terimakasih atas inisiatif Damar. Setelah memastikan Trisha sudah masuk mobil dengan nyaman, Damar langsung mengemudikan sedannya meninggalkan gedung kantor tempat Trisha bekerja.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi ada seseorang yang memperhatikan pergerakan mereka di ruang lobi. Tangannya mengepal kuat. Menahan kesal yang sedari tadi ia tak ungkapkan.
 
' Teman siapa yang kamu maksud, Trish? Siapa laki- laki kurang ajar itu?'

                                   πŸ’”

Di dalam perjalanan kali ini, Damar memlih fokus pada laju kemudinya. Memastikan Trisha nyaman dalam perjalanan ini. Walaupun sebenarnya kepala Damar sudah penuh dengan pertanyaan yang ingin diungkapkan kepada Trisha. Namun ia mencoba menahan dirinya. Membiarkan Trisha membicarakannya langsung dari ujung bibirnya tanpa paksaan. 

Radio di mobil Damar tiba- tiba berganti dengan lagu Bersenja Gurau milik Raim Laode, penyanyi kenamaan Indonesia. Seketika mereka larut dengan lirik demi lirik yang disampaikan dengan begitu sederhana namun indah itu.


Banyak yang salah mengira.Senja bukan tentang kopi.Lagu indie dan cerita.Ku kasi tahu kepadamu.Senja adalah hadiah.Pejalan kaki menjemput magribnya.

Trisha mengagumkan lirik demi lirik yang disampaikan sang penyair. Menyerap semua pesan tersembunyi di balik kalimat puitis itu. Tenyata benar, bahwa sebenarnya Tuhan menyajikan pemandangan senja untuk orang yang begitu antusias menjalani hablu minallah di rumah Allah. Trisha seharusnya tak perlu sedih atau gundah. Trisha punya Allah untuk mencurahkan seluruh isi hatinya yang tertahan sejak tadi.

Selalu ada pelangi.Pada setiap mendungnya.Setiap derita,Ku kan ada slalu untukmu.Temani setiap derita.Jadi pelukan ternyaman untukmu.

Damar melirik ke arah tempat Trisha duduk dengan ujung matanya. Ia mulai lega. Trisha kini terlihat nyaman dengan posisi duduknya. Mungkin nanti sesampainya di festival kuliner, Damar akan mulai bicara pelan- pelan kepada Trisha.

Jika sempit hidup ini (jika sempit hidup ini).Tidur selalu tak tenang.Pagi selalu menyiksa.Semua akan baik saja.
Sebab Tuhan tlah berjanji.Setelah sempit ada kemudahan.
Kita miliknya.Semua telah tertulis.Dan akan kembali padanya.

Selalu ada pelangi.Pada setiap mendungnya.Setiap derita.Selalu ada pelangi.
Pada setiap mendungnya.Setiap derita.Ku kan ada selalu untukmu.
Temani setiap derita.
Jadi pelukan ternyaman untukmu.

Perjalanan mereka kali ini sedikit alot karena bertepatan dengan rush hour  para karyawan kembali pulang ke rumah setelah menjalani rutinitas padat di tpat kerja mereka. Damar kembali melirik ke arah Trisha. Memastikan bahwa Trisha tak terganggu dengan kemacetan ini.

" Trish, mungkin nanti kita shalat magrib dulu ya sebelum ke stand kulinernya. Gak apa- apa, kan?" Ucap Damar sambil memutar setirnya ke kanan, menuju parkiran untuk pengunjung festival. 
" Iya, Mas. Gak apa- apa. Aku juga shalat magrib kok. Udah bawa mukena travel di tas." Jawab Trisha sambil menepuk tas selempang yang tersimpan rapi di pangkuannya.
Damar mengangguk pelan. Dan mematikan mesin mobilnya. 
" Ayo, kita shalat dulu ya? Di deket sini ada masjid besar." Damar melepas seatbelt nya dan membantu melepaskan seatbelt milik Trisha juga. Trisha mengangguk. Dan membuka pintu mobil dengan pelan. Memastikan pintunya tak bertabrakan dengan mobil yang terparkir di sebelahnya.

Mereka berjalan beriringan menuju masjid yang dimaksud Damar yang jaraknya hanya 100 meter dari tempat parkiran.
Mereka berpisah menuju tempat wudhu sesuai syariat. 

Sepuluh menit setelah mereka berpisah untuk shalat di area yang berbeda, mereka bertemu di pelataran masjid untuk mengenakan kembali sepatu mereka. Damar menatap air muka Trisha yang begitu tenang. Ahh tidak! Wajahnya itu hanya mengelabui dirinya agar tidak bertanya ada apa dengan Trisha hari ini. Tapi yang namanya penasaran, Damar akhirnya membuka suara.

" Trish, ada yang pengen kamu bagiin ke saya hari ini, nggak?" Pertanyaan Damar seketika membuat Trisha terkejut. Trisha menoleh ke samping, tepat dimana Damar berada. Matanya menyiratkan ragu. Namun Damar mencoba meyakinkan Trisha bahwa tidak ada salahnya jika gadis itu ingin bicara.
" Gak apa- apa. Saya nggak akan maksa kamu. Kalau kamu mau cerita, saya akan dengarkan. Tapi kalau tidak, it's okay. Saya tidak akan paksa...."
Trisha menghela nafasnya pelan. " Aku udah usaha buat keliatan fine- fine aja, Mas. Ternyata tetep ketahuan, ya?" Ucap Trisha disusul suara tawanya yang pelan tapi terdengar sumbang karena dipaksakan. Damar bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya ke depan wajah Trisha. 
" Ayo! Kita bisa mengobrol sambil jalan-  jalan pelan. Biar kamu nyaman pas ngobrolnya." Tanpa ragu Trisha langsung menyambut uluran tangan Damar dan ikut bangkit berdiri. Trisha mengangguk pelan. Memastikan bahwa ia akan mencoba mengatakan bagaimana kondisinya hari ini kepada teman sekaligus dokter psikiater nya itu. 

                                 πŸ’”


Komentar

Postingan populer dari blog ini

πšƒπš’πšπš’πš” π™½πšŠπšπš’πš›

π™Όπšžπš•πšŠπš’ π™³πšŽπš”πšŠπš

π™ΊπšŽπš™πšžπšπšžπšœπšŠπš— πšŠπš”πšž πš’πšœπšπš’πš›πšŠπš‘πšŠπš πšπšŠπš›πš’ πšœπš˜πšœπš’πšŠπš• πš–πšŽπšπš’πšŠ