πππππ π½ππππ
Trisha hanya terdiam setelah membaca pesan spam dari Akbar saat sedang menunggu pesanan makan siang di kafe sebelah art Gallery yang ia datangi bersama Damar. Sudah lama sekali padahal Trisha memblokir kontak Irza dan memutus semua akses yang ada di sosial media. Ternyata dia benar- benar menikahi wanita beruntung itu. Trisha meremat ujung bajunya dengan sangat erat.
Aku sudah kalah telak ya, berarti?
" Trish?" Suara Damar yang duduk di depannya membuat Trisha kembali menegakkan kepalanya.
Damar yang menyadari perubahan sikap Trisha beberapa menit tadi hanya menatap mata Trisha yang terlihat tak nyaman.
" Are you okay, Trish? " Damar berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Trisha yang masih terdiam. Damar meraih tangan Trusha yang masih erat memegang ujung bajunya. " Mau pulang aja? Kayaknya kamu lagi nggak baik ya mood nya? "
" Mas.... " Netra Trisha menangkap tatapan khawatir Damar. " Gak apa- apa. Aku mau makan dulu ya, sebelum pulang? "
Damar yang ragu dengan jawaban Trisha hanya mengangguk pelan. Tapi tangannya masih menggenggam tangan wanita itu.
" Kamu mau cerita nggak perihal yang mengganggu pikiran kamu sekarang? "
Trisha terdiam sejenak. Diraihnya ponsel yang tergeletak di meja makan dan menyerahkan kepada Damar. Dengan segera Damar meraih ponsel Trisha yang menampilkan layar percakapan pesan singkat yang baru saja Akbar kirim.
" Aa, Teteh. Ini makanannya sudah datang. " Suara pramusaji kafe mengalihkan fokus mereka.
" Ohh iyaa.... " Trisha langsung mengambil pesanan yang disimpan pramusaji di atas meja mereka. " Makasih banyak ya, Teh. "
" Sama- sama. Selamat menikmati, ya.... " Pramusaji itu undur diri meninggalkan mereka yang masih tetap berada di posisinya.
" Mas Damar duduk dulu, yuk? Nggak nyaman duduk di bawah gitu. " Trisha menggenggam tangan Damar untuk segera kembali duduk di kursi. Damar menatap Trisha sambil mengusap kepala gadis itu lembut.
" Irza ngundang kamu? " Suara Damar mulai terdengar dingin. Membuat Trisha sedikit bingung dan tak nyaman. Karena tak biasanya Damar bicara dengan nada se dingin itu.
" Iya, Mas. " Jawab Trisha dengan suara pelan. Kepalanya kembali menunduk. Perasaannya semakin campur aduk rasanya.
Suasana di antara mereka kembali hening. Damar membaca kembali pesan Akbar dan mengembalikan handphone Trisha ke meja.
" Kamu mau datang, Trish? " Tanya Damar sambil menggeser minuman pesanan mereka.
Trisha kembali meremat tangannya ke ujung bajunya.
" Aku gak tahu, Mas. Aku bingung. " Trisha mempertahankan posisi kepalanya tetap menunduk.
" Trish, coba tatap saya sebentar, ya? " Damar menunggu respon Trisha dengan sabar. Perlahan, Trisha mengangkat kepalanya menghadap wajah Damar. Senyum Damar terlihat menenangkan. Trisha sedikit lega melihatnya.
" Maaf ya pertanyaan saya buat kamu nggak nyaman. " Cepat- cepat Trisha menggeleng kepalanya menyanggah pernyataan Damar.
" Trisha, saya boleh ngasih saran ke kamu nggak? " Damar melipat kedua tangannya di atas meja, agar lebih tenang saat mengobrol.
" Boleh, Mas. Aku gak masalah kok.... "
" Kamu pernah denger kalimat " Temui dan selesaikan semuanya sebelum pergi dan melupakan"? Saya harap kamu bisa temui Irza sebelum benar- benar melepaskan semua perasaan dan cinta dalam diam kamu ke dia. " Trisha seketika mengedipkan matanya cepat, mencerna setiap ucapan yang Damar katakan tadi.
" Kamu pasti ragu, ya? Saya anggap itu wajar karna mungkin di lubuk hati kamu masih ada pengharapan untuk mendapatkan hati dia, kan?" Damar menarik nafas pelan.
" Itu semua berproses, Trish. Dan takdir yang Tuhan tulis bukan memberikan ending terbaik untuk kamu dan Irza bersatu. Tuhan punya rencana lain yang mungkin lebih baik buat kamu dan Irza, walaupun melalui jalan yang berbeda.... "
" Aku ngerti, Mas. Mungkin aku harus segera melupakan dia. Aku juga capek karna bayang- bayang dia seolah masih selalu mengikuti aku. " Trisha mengangguk pelan dan menyesap lemon tea pesanannya.
" Saya ngerti. So, kamu mau datang ke pernikahan dia, kah? Kalo kamu mau, berkenankah saya menemani kamu?"
" Apa Mas Damar nggak kerepotan harus nemenin saya ke sana? Mas ngga ada jadwal konsultasi di tanggal itu? "
" Sebentar.... " Damar menyalakan handphone nya dan mencari aplikasi kalender jadwal di ponsel nya. " Saya liat di kalender jadwal, saya tidak ada jadwal konsultasi. Jadwal saya kosong di tanggal segitu."
Trisha kembali menatap handphone nya dan sibuk mengetikkan beberapa pesan ke Akbar.
Trisha mengangguk pelan. " Mas Damar, temani aku datang ke sana, ya? "
Damar mengangguk. Dan mereka melanjutkan makan siang yang tersaji di meja.
◦•●◉✿✿◉●•◦
Sabtu, 12 September 2026.
Trisha masih menatap kosong ke arah cermin riasnya setelah menyelesaikan make up setengah jam yang lalu. Damar baru saja mengirim pesan jika ia sudah sampai di dekat rumah flat Trisha. Tapi Trisha masih enggan untuk bangkit dari kursi riasnya. Hatinya sedikit gundah. Padahal seminggu yang lalu ia sudah meyakinkan diri untuk datang dan menyelesaikan semua perasaan yang mengganjal terhadap Irza. Rasanya ia ingin kembali ke ranjang kamarnya dan tidur seharian untuk melupakan hari ini.
Drrtt~ drrt~
Panggilan masuk dari Damar mengalihkan pikiran Trisha kembali ke realita. Trisha meraih ponsel pintarnya dengan setengah ragu. Dan menyentuh layar hijau untuk terhubung ke Damar.
" Assalamu'alaikum, Trish. Kamu udah selesai siap- siapnya? " Tanya Damar dari seberang telepon. Trisha menatap ke arah cermin. Dan mengangguk disertai dehaman kecil sebagai respon.
" Ya sudah. Saya sudah ada di bawah. Gak perlu terburu- buru. Kamu bisa tenangin diri kamu sejenak...."
" Maaf ya Mas. Aku turun ke bawah sebentar lagi. " Trisha bangkit dari kursi rias nya dan meraih tas selempang kecil yang tergantung di gantungan.
" Jalannya pelan- pelan saja. Hati-hati, ya? "
Trisha mengangguk otomatis. Seolah Damar berada di dekatnya mengingatkan langsung. Ia turun ke lantai dasar dengan anak tangga yang lumayan banyak. Karena tidak ingin membuat Damar menunggu lebih lama lagi.
Damar yang tengah bersandar di pintu kursi depan pun tersenyum tipis saat netranya bertemu pandang dengan Trisha yang baru tiba di gerbang kecil rumah flat nya. Damar sedikit terpana melihat penampilan Trisha yang kali ini menggunakan dress panjang di bawah lutut berwarna broken white dengan lengan panjang tiga per empat dipadukan tas selempang dan sepatu model docmart berwarna putih. Tak lupa rambutnya yang kali ini hanya tergerai lurus seperti biasanya.
" Maaf, Mas. Aku udah buat kamu nunggu lama.... " Trisha berdiri hanya berjarak tiga langkah dari Damar memasang wajah sedikit panik. Damar menggeleng pelan. Dan membukakan pintu penumpang depan untuk Trisha.
" Ayo masuk, Trish! Kita langsung berangkat, takutnya telat sampe gedungnya. "
" Makasih banyak, Mas. " Tangan Damar refleks bertengger di atap pintu mobil agar kepala Trisha tidak terbentur saat masuk. Setelah itu Damar berputar menuju pintu kemudi dan bersiap berjalan menuju tempat pernikahan Irza.
◦•●◉✿✿◉●•◦
Sepanjang perjalanan menuju tempat pernikahan Irza, suasana di mobil Damar terdengar hening. tak ada yang bicara satupun. hanya terdengar suara nafas mereka yang berhembus pelan. Menyadari itu, Damar langsung engalihkan sedikit fokusnya ke arah Trisha.
" Trish?" Suara lembut Damar membuat Trisha sedikit terkejut. Karena terlau sibuk ke dalam lamunannya.
" Kenapa, Mas?"
Damar menghela nafasnya pelan. " Are you okay? Kayaknya kamu lagi sedikit nggak nyaman, ya?"
Trisha menggigit bibir bawahnya gugup.
" Ternyata Mas Damar nyadar, ya? Maaf ya Mas, aku diem aja sepanjang perjalanan ini...."
Damar tersenyum tipis. Lalu Damar sedikit mengurangi kecepatan mobilnya. " Mau menepi dulu sebentar? Biar kamu tenang?"
Trisha menggeleng pelan. " Gak apa- apa, Mas. Kita lanjutin aja perjalanannya. Biar cepet sampe, bisa cepet pulangnya juga."
Damar mengangguk dan mulai mempercepat laju mobilnya.
Waktu sudah menunjuk ke arah 10.15 ketika mereka tiba di parkiran gedung semi outdoor yang digunakan Irza untuk melangsungkan janji sakral bersama Helfa. Damar dengan cepat keluar dari kursi kemudinya untuk membuka pintu penumpang yang ditempati Trisha.
Trisha tersenyum tipis dan berdiri berhadapan dengan Damar.
Dengan santai Damar mengulurkan tangan kanannya ke depan Trisha. Gadis itu memiringkan wajahnya sedikit heran.
" You can hold my hand, Trish. If you feel uncomfortable, tell me, ya?" Damar sedikit mengayunkan telapak tangannya memberi kode. Dengan agak ragu, Trisha mengulurkan tangannya meraih telapak tangan Damar yang masih setia menunggu.
" Mas Damar, makasih banyak, ya?" Trisha menyelipkan kelima jarinya ke buku tangan Damar. Mendengar itu, Damar hanya tersenyum dan mengeratkan genggaman tangan Trisha.
Mereka berjalan menuju meja penyambut tamu di pintu utama. Setelah menulis nama dan menyerahkan kado yang tadi dibawa Trisha, langkah kaki mereka serempak memasuki venue pernikahan Irza yang mulai terlihat ramai tapi terasa nyaman dan intimate.
Akbar dan Yolan yang berdiri di sisi kanan pintu utama venue terkejut karena melihat kehadiran Trisha. Dan yang lebih mengejutkan bagi mereka adalah, kehadiran lelaki tinggi dan tampan itu yang berjalan beriringan di samping Trisha sambil menggenggam tangan.
" Sayang , kamu tahu siapa cowok itu?" Bisik Akbar ke telinga Yolan. Tapi tatapannya masih terfokus ke arah Damar dan Trisha.
" Aku gak tahu, Yang. Soalnya Trisha pun setiap curhat sama aku gak pernah bahas soal cowok...." Yolan menatap Akbar bingung. " ..., baru aja aku mau nanyain ke kamu. Ternyata sama nggak tahunya."
" Kita samperin dulu. Sambil tanya tipis- tipis aja...." Akbar menarik tangan Yolan menuju tempat berdiri Damar dan Trisha di sisi kiri jajaran tamu.
" Hai, Trish! Datang juga elu ternyata." Mata Trisha membola terkejut karena kedatangan Akbar dan Yolan yang tiba- tiba berada di depannya.
" Astaghfirullah! Kebiasaan deh elu ngagetin gua nya, Bar!" Trisha memukul pelan lengan kiri Akbar dengan mata melotot.
" Sorry ya, Trish. Dia emang kek gitu mulu kelakuannya." Yolan tersenyum tipis tetapi netra nya sibuk menatap ke arah Trisha dan Damar bergantian.
" Elu kagak mau spill nihhh cowok siapa?" Tanya Akbar menaik turunkan alisnya, seperti mengejek.
Trisha menatap Damar yang masih berdiri di sisi nya sambil tersenyum ramah. Iya menarik nafasnya pelan dan menatap ke arah sepasang kekasih di depannya.
" Dia Mas Damar. Temen sekaligus psikiater di Rumah sakit gua berobat." Jawab Trisha sambil melepas genggaman tangan Damar. " Mas, kenalin. Ini Akbar sama Yolan. Temen aku waktu sekolah dulu. Dia yang ngabarin aku soal pernikahan Irza kemarin."
Mendengar itu, Damar tersenyum sambil mengulurkan tangannya ke arah Akbar dan Yolan.
" Halo, saya Damar. Saya temannya Trisha...." Dengan santai Akbar menerima uluran tangan Damar untuk berjabat tangan. Begitu pun dengan Yolan.
" Bukannya kamu bilang kalo psikiater kamu itu Prof. Hasan, ya?" Tanya Yolan.
" Prof. Hasan mendapat kesempatan promosi sebagai dewan direksi rumah sakit. Dan, Mas Damar yang menggantikan posisi beliau di ruang praktik RS nya."
" Oalahhhh. Senang berkenalan sama kamu, Mas Damar. Semoga ke depannya kita bisa berteman kayak Mas Damar berteman sama Trisha." Ucap Akbar dengan percaya diri.
" Makasih banyak. Saya juga senang bertemu dengan teman baiknya Trisha. "
" Ayo masuk, Trish, Mas Damar. Soalnya acaranya mau mulai bentar lagi." Yolan menarik tangan Trisha untuk berjalan duluan. Sementara Akbar dan Damar mengikuti di belakang.
Suasananya begitu hangat dan manis. Perpaduan warna biru navy dan putih menghiasi latar pelaminan pengantin. Trisha hanya terdiam. Mencoba kembali mencerna apa yang sudah ia lihat. Bahwa ini jelas bukan mimpi. Pria yang ia cintai diam- diam selama 8 tahun itu benar-benar menikahi wanita pujaannya, dan itu bukan dirinya.
" Hadirin semuanya. Terimakasih untuk menghadiri acara paling sakral dan abadi untuk kedua pengantin kita hari ini, A Irza dan Teh Helfa. Karena sebentar lagi acara ijab Qabul akan dilaksanakan, mohon kepada tamu yang hadir untuk menyalakan mode silent di handphone nya dan jika ingin merekam momen ini dimohon untuk tidak menyalakan flash pada kamera. Agar acara ini berjalan dengan lancar dan khidmat...." Suara pengisi acara bergema memenuhi ruangan tersebut. Semua orang sibuk dengan handphone nya. Mungkin sedang mematikan mode dering nya atau bersiap untuk merekam momen yang paling ditunggu- tunggu.
Hingga netra Trisha teralihkan ketika pengisi acara memanggil nama pria itu. Dengan gagah nya ia berjalan menuju meja akad dengan senyum sumringah. Mengenakan kemeja dan jas putih gading dengan warna celana senada, tak lupa menggunakan kopiah di kepalanya. Wajahnya begitu cerah. Seolah menemukan titik kebahagiaan atas hidupnya. Menikahi wanita yang ia cintai.
" Trish, you okay?" Bisik Yolan di sisiku saat mata Trisha bertemu pandang dengan netra Irza. Trisha hanya diam. Membeku. Tubuhnya Bakan tidak bisa merespon permintaan otaknya. Kepalanya serasa berputar.
" Yol, this isn't a dream, ya?" Tanya Trisha dengan tatapan kosong ke arah kursi akad. Damar yang berdiri tepat di belakang nya langsung menepuk pelan bahu Trisha.
Seketika Trisha memutar tubuhnya ke arah Damar.
" Mas...."
" Gak apa- apa. Saya ada di sini." Damar meraih tangan Trisha. Kembali menggenggam nya erat. Yolan mundur ke belakang, berdiri di sisi Akbar. Membiarkan Damar dan Trisha berdiri di depan mereka.
Seluruh tamu undangan memfokuskan pandangan ke arah tempat akad nikah dilangsungkan. Sudah tampak Irza yang bersiap menjabat tangan calon ayah mertuanya. Dengan dua saksi dan penghulu yang duduk di depannya. Trisha menundukkan pandangan ke rumput yang tampak segar. Ternyata Trisha masih tidak sanggup menerima kenyataan ini.
" Bismillahirrahmanirrahim. Saudara Irza Angkasa Dault bin Johan Dault. Saya nikahkan dan kawinkan engkau, dengan anak perempuan saya, Helfa Alfasyah Hardiansyah binti Adi Hardiansyah , dengan maskawin emas 10 gram dan uang tunai dua juta empat ratus dia belas ribu dua puluh enam rupiah, dibayar tunai! " Suara ayah mertua Irza begitu mantap mengucapkan kalimat ijab sembari menjabat tangan pria itu dengan erat.
" Saya terima nikah dan kawinnya Ulfa Alfasyah Hardiansyah binti Adi Hardiansyah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai! " Dadaku bergemuruh keras saat suara Irza memenuhi venue pernikahan. Suara yang begitu tegas dan mantap. Betapa sangat siapnya dia untuk mempersunting wanita yang dicintainya itu.
" Bagaimana saksi? Sah? " Tanya penghulu sambil menunjuk ke arah dua saksi.
" SAH! " Suara tamu undangan begitu semangat menjawab pertanyaan penghulu. Ribu kebahagiaan mengiringi doa yang dipanjatkan penghulu untuk mendoakan kedua pengantin. Dada Trisha mulai terasa tak nyaman.
Tanpa disadari, genggaman tangan Trisha yang berdasarkan dalam dekapan tangan Damar mengerat. Sehingga Damar sangat menyadari perubahan Trisha.
" Trish.... " Suara lirih Damar tertangkap daun telinga Trisha. Kepalanya kembali mendongak, menatap mata Damar yang begitu teduh. Ujung mata nya tengah berusaha keras menahan air mata yang mungkin akan langsung jatuh dalam satu kedipan.
" Mas.... " Suara Trisha sudah mulai tersekat. Nafasnya mukai tak teratur. Damar mengusap pelan punggung Trisha untuk memastikan nafas wanita yang mulai dia cintai itu kembali normal.
" Mau ke belakang dulu? Kamu harus nenangin diri dulu. " Damar menggenggam tangan Trisha lembut. Trisha hanya diam mengikuti langkah kaki Damar menuju tempat duduk khusus tamu di taman venue.
Hingga langkah kaki mereka terhenti di depan kursi panjang di taman belakang venue. Damar mendudukkan Trisha ke kursi itu. Sementara Damar berlutut di depan Trisha sembari mengusap genggaman tangan mereka.
" Mas Damar, maaf aku nggak sanggup untuk kuat. Tenyata masih ada rasa sakitnya.... " Ucap Trisha diiringi air mata yang sudah berjatuhan di pelupuk matanya. Suara tangisnya nyaris tak terdengar. Tapi bahunya mulai bergetar pelan. Damar kembali mengeratkan genggamannya. Damar hanya mengangguk. Dan membiarkan Trisha menumpahkan semua air mata yang tertahan selama ini.
" Gak apa- apa. Kamu nangis aja dulu. Saya bakal nunggu sampai kamu tenang, Trish. "
" Aku udah kalah, Mas. Takdir aku bukan dia ternyata.... " Kepala Trisha semakin tertekuk dalam. Air matanya semakin deras. Hal itu membuat Damar semakin sakit melihatnya.
Membutuhkan waktu tiga puluh menit sampai akhirnya tangis Trisha berakhir. Matanya sedikit sembab. Bekas jalur air matanya memenuhi pipi tirusnya. Sesekali Damar mengusap lembut pipi Trisha dengan sapu tangannya.
" Bagaimana? Sudah mulai tenang? " Tanya Damar begitu hati- hati. Trisha hanya mengangguk pelan. Lalu menghapus air mata yang masih tertinggal di ujung mata.
" Cuci muka dulu, yuk? Habis ini kamu tinggal pilih untuk kembali ke venue atau pulang ke rumah. " Damar bangkit berdiri dengan cepat. Tangannya terulur ke depan Trisha. Membantu wanita itu bangkit berdiri. Langkah kedua insan itu mulai mengarah ke toilet venue pernikahan. Memberi ruang untuk Trisha untuk merapikan penampilannya kembali. Sementara Damar menunggu di depan sembari mengecek notifikasi ponselnya.
Lima belas menit menunggu, akhirnya Trisha keluar dari toilet dengan penampilan sedikit lebih besar fresh. Damar nengangguk pelan dengan ukuran tangan yang bersiap menyambut Trisha.
" Makasih banyak, Mas Damar. Makasih udah nunggu aku rapiin penampilan aku.... " Trisha menyambut uluran tangan Damar.
" Kalo kamu mau pulang, kasih tahu saya, ya? " Biar kita bisa pamit dengan baik- baik ke temen- temen kamu di sini. "
" Okay, Mas. "
Kedatangan mereka disambut teman - teman Trisha yang baru saja mengikuti sesi lempar bunga.
" Trish! Kamu kemana aja? Sesi lempar bunganya udah beres. Ternyata Yolan yang dapet bunganya. Padahal dia cuma diem di belakang. " Tiba-tiba tiba Wini menghampiri Trisha dan Damar dengan muka sumringah. Trisha melihat reaksi Yolan yang bingung menatap bunganya. Semantara Akbar hanya tersenyum salah tingkah karena teman- temannya mengejeknya untuk segera menikahi Yolan.
" Okay, untuk tamu- tamu yang hadir di sini, kira-kira ada yang mau ikut menyumbangkan suara emas kalian bareng kita nggak? Atau mungkin mau request lagu? " Suara wedding singer yang berada di pojok kanan pelaminan membuyarkan lamunanku. Semua orang saking menyodorkan orang lainnya untuk maju ke panggung. Sampai akhirnya....
" Trisha! Kamu ikut nyanyi aja! Kan suara kamu bagus banget!" Suara Ripaldi yang berat itu mengalihkan atensi semua orang ke arah Trisha. Matanya membola terkejut. Mengapa tiba- tiba sekali?
Suara kasak kusuk tamu undangan semakin membuat Trisha sakit kepala tiba- tiba.
" Nggak mau, ah! Kalian aja yang nyanyi. Aku diem aja padahal. " Trisha menyodorkan omonganku ke orang lain.
" TRISHA! TRISHA! TRISHA!" Semua tamu undangan bersorak memanggil nama Trisha. Damar yang berdiri di samping Trisha hanya menatap lembut Trisha yang masih terdiam.
" Trish...." Tangan Damar menggoyangkan genggaman mereka. Trisha menoleh ke arah Damar dengan wajahnya memelas.
" Coba dulu aja. Gak apa- apa kalau kamu mau menyumbangkan lagu pernikahan buat mereka. " Netra Trisha bergantian menatap ke arah Damar dan ke arah pelaminan. Menunggu waktu yang lumayan lama sampai akhirnya kepala Trisha mengangguk pelan.
Kaki jenjang Trisha melangkah ke arah spot wedding singer diiringi sorak bahagia tamu yang datang. Trisha meraih microphone yang sudah disodorkan tim penyanyi pernikahan tersebut.
" A, saya mau nyanyi lagu Titik Nadir, bisa nggak ya?" Tanya Trisha ragu. Penyanyi pria yang memberikan mic tadi melirik ke arah tim band. Memastikan apakah mereka sanggup menerima permintaan Trisha.
" Lagunya Kahitna ya, Teh? Boleh, kita bisa kok! " Jawab pemain bass yang berdiri di sisi tengah pengiring lagu.
" Makasih banyak, A...." Trisha menyatukan kedua tangannya sebagai bentuk rasa terimakasih. Dan musik opening lagu Titik Nadir milik Kahitna mulai menggema di seluruh venue.
Semua orang semakin bersorak gembira seolah bersiap menyambut suara manis milik Trisha. Ya, Trisha sangat menyukai dunia tarik suara. Selama di sekolah pun, dia suka mengikuti perlombaan nyanyi antar kelas di Pekan Kreatif Siswa. Sudah begitu lama. Trisha tidak begitu yakin dengan kemampuan suaranya kini masih sama atau mungkin berkurang.
Cinta ini semakin tak mungkin ku raih.
Mata Trisha tak lepas dari pemandangan pelaminan yang ada Irza dan Helfa di sana. Tampak Irza yang sedikit terdiam dan Helfa yang memasang senyum tipis.
Tak kusangka sungguh teganya.
Kau mengikat akad yang seharusnya milikku.
Kini miliknya.
Meski hatiku untuk kamu.
Dan hatimu tetap aku.
Jangan coba kita tuk bertemu.
" Kita nggak seharusnya bertemu dengan jalur takdir seperti ini, Za."
Takkan sanggup aku bertahan diam.
Ingin berlari memelukmu.
Yang pernah kumiliki.
"Kalau aku nggak punya malu, aku pengen langsung lari ke arah kamu. Peluk kamu. Memohon ke kamu biar aku bisa jadi milik kamu."
Di benakku selalu terlintas.
Jalinan kisah kita indah selamanya.
" Aku pernah berkhayal, Za. Bahwa aku bisa menjadi wanita yang paling bahagia jika berakhir happy ending sama kamu. Tapi nyatanya, happy ending kamu bukan sama aku."
Dan di pelaminan itu.
Masih sempat kau melihat tepat ke arahku.
Aku tertunduk.
" Kamu masih bisa begitu tenang menatap aku dari sana. Senyum kamu masih mengembang manis. Seolah kamu tidak menyadari bahwa isi lagu ini adalah isi hati aku ke kamu."
Meski hatiku untuk kamu.
Dan hatimu tetap aku.
Jangan coba kita tuk bertemu.
Takkan sanggup aku bertahan diam.
Ingin berlari memelukmu.
Yang pernah kumiliki.
Harus kuhapus bayanganmu.
" Za, tugasku sekarang bertambah banyak. Aku harus lupa sama kamu. Semua kenangan aku yang ada kamu di dalamnya pun ikut termasuk dalam tugasku kini."
Mengapa hati selalu memanggil namamu.
" Tapi aku gak bisa munafik. Lubuk hati aku masih meraung- raung memanggil kamu."
Semakin aku menjauh.
Semakin jiwa tak bisa terpisahkan.
Meski hatiku untuk kamu.
Dan hatimu tetap aku.
Jangan coba kita tuk bertemu.
Takkan sanggup aku bertahan diam.
Ingin berlari memelukmu.
Yang pernah kumiliki.
Jangan coba kita tuk bertemu.
Takkan sanggup aku bertahan diam.
Ingin berlari memelukmu.
" Aku udah kalah, Za. Aku kalah."
Yang pernah kumiliki.
Yang pernah kumiliki.
" Impian aku untuk mendapatkan hati kamu sudah kandas. Hancur perlahan."
Yang dulu milik aku.
" Kini, pemilik hatimu adalah Helfa, istri kamu. Dia pemenangnya."
Saat musik pengiring berakhir, Trisha masih menatap lurus ke arah kedua pengantin. Kali ini tatapannya hanya kosong. Tak ada arti apapun. Hingga suara tepuk tangan meriah dari tamu membuyarkan lamunan Trisha. Dengan refleks Trisha langsung menyerahkan mic tadi ke penyanyi pria tadi dan bersejarah turun dari tamu, menemui Damar yang hanya terdiam di sisi kanan panggung musik.
" Mas—"
" Mau langsung pulang atau temui Irza untuk terakhir kalinya sambil mengucapkan selamat atas pernikahan mereka?" Tatapan Damar terlihat sendu. Membuat Trisha merasa bersalah dan juga ada sedikit kebingungan atas perubahan mimik wajah Damar.
Damar meraih tangan kanan Trisha untuk digenggam. Laku berjalan menuju pelaminan yang tengah sepi tamu undangan.
" Selamat ya, A Irza dan Teh Helfa. Semoga keluarga kalian menjadi sakinah mawaddah wa rahmah, ya?" Damar menyalami tangan kedua pengantin bergantian. Langkah Damar memundur ke belakang, memberikan ruang kepada Trisha untuk mengucapkan sepatah dua patah kata pada Irza dan Helfa.
" Selamat ya, Teh. Semoga kehidupan pernikahan kalian dikelilingi kebahagiaan, ya?" Trisha hanya menyalami tangan Helda tanpa melirik ke arah Irza. Ekspresi Irza berubah menjadi sendu, penuh rasa bersalah. Belum sempat Helfa menjawab, Trisha langsung menarik tangan Damar untuk meninggalkan venue pernikahan. Tugas Trisha baru selesai satu. Tinggal merapikan tugas melupakan dan bangkit dari rasa sedihnya.
" Irza, semoga ini benar- benar pertemuan terakhir kita. Jangan inget aku lagi, ya? "
◦•●◉✿✿◉●•◦
Komentar
Posting Komentar