Postingan

π™Όπšžπš•πšŠπš’ π™³πšŽπš”πšŠπš

Gambar
Sebenarnya di usia yang sudah melewati seperempat abad ini, Trisha tak perlu ragu untuk mengapresiasi dirinya sendiri. Bisa saja ia mengambil liburan ke luar kota. Menikmati banyak hal yang sudah ia lewati sejak kecil. Ia tak perlu menyibukkan dirinya dalam pekerjaan. Ia bisa meraih kebebasan itu. Tapi, tanpa sadar Trisha masih terkurung dengan banyak " larangan " yang sudah ditanamkan oleh Umma nya sejak kecil. ' Ngapain pergi jauh- jauh? Kamu gak bisa jaga diri.' ' Kamu perempuan. Kalo kamu pergi keluyuran kayak gitu, orang- orang bakal nganggep Umma ngajarin yang nggak bener.' ' Nanti kalo di jalan ada apa- apa, yang repot tetep orang rumah.' ' Kamu tuh kebiasaan ngelawan! Dikasih tahu malah nggak nurut!' ' Terserah kamu! Kalo Umma nggak ada, baru tahu rasanya.' Semua ucapan itu tertancap begitu dalam di kepala Trisha. Dia mengalah bukan berarti dia menurut begitu saja. Ia e...

πšƒπš’πšπš’πš” π™½πšŠπšπš’πš›

Gambar
Trisha hanya terdiam setelah membaca pesan spam dari Akbar saat sedang menunggu pesanan makan siang di kafe sebelah art Gallery yang ia datangi bersama Damar. Sudah lama sekali padahal Trisha memblokir kontak Irza dan memutus semua akses yang ada di sosial media. Ternyata dia benar- benar menikahi wanita beruntung itu. Trisha meremat ujung bajunya dengan sangat erat.  Aku sudah kalah telak ya, berarti?  " Trish?" Suara Damar yang duduk di depannya membuat Trisha kembali menegakkan kepalanya.  Damar yang menyadari perubahan sikap Trisha beberapa menit tadi hanya menatap mata Trisha yang terlihat tak nyaman.  " Are you okay, Trish? " Damar berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Trisha yang masih terdiam. Damar meraih tangan Trusha yang masih erat memegang ujung bajunya. " Mau pulang aja? Kayaknya kamu lagi nggak baik ya mood nya? " " Mas.... " Netra Trisha menangkap tatapan khawatir Damar. " Gak apa- apa. Aku mau makan dulu ya, sebelum p...