πΊππππππππ πππ πππππππππ ππππ ππππππ πππππ
Assalamu'alaikum.
Temen- temen pasti banyak yang kaget sama keputusan aku yang terkesan mendadak ini. Karena, jujur keputusan yang aku ambil ini terkesan terburu- buru dan tanpa mikir dua kali, ya? Tapi, pada kenyataannya, aku emang sempet kepikiran buat rehat sejenak dari dunia sosial media dari tahun 2021 awal, pas aku sering ngalamin panic attack dan gangguan kecemasan yang berulang. Dan, akhirnya baru direalisasikan di tahun ini karna kondisi aku yang memang sulit aku kendalikan.






Honestly, sosial media tuh tempat aku mencari hiburan setelah mengalami hari- hari yang berat dan melelahkan di tempat kerja. Aku suka scroll TikTok, Instagram, X, Threads, dan YouTube di waktu istirahat sejenak. Sampai- sampai aku sering kurang istirahat dan mempengaruhi kondisi kesehatan fisik sama mental aku.
Dalam sehari aja di weekend, aku bisa seharian penuh buka sosial media tanpa henti karna memang segala sumber informasi dan hiburan tuh ada di sana. Selain itu, aku kadang suka melihat story Instagram yang teman- teman posting. Semula aku masih biasa aja. Namun, ada satu momen di mana aku merasa bahwa sosial media yang aku lihat itu menjadi boomerang buat diri aku sendiri.
Dari tak sengaja melihat postingan temen- trmen yang kelihatannya tuh " bahagia " banget, terus postingan yang memamerkan kebahagiaan bersama keluarga dan pasangan, atau mungkin postingan teman- teman yang bisa liburan jauh ke tempat- tempat bagus. Aku masih biasa aja, awalnya. Malah termotivasi buat bisa ngerasain hal yang teman- teman bagikan di sosial media. Tapi, lama kelamaan, aku mulai merasakan perasaan iri dan perasaan - perasaan negatif lainnya yang berpotensi menjatuhkan hati aku sendiri. Sederhana nya, aku seperti mencari penyakit sendiri dengan membandingkan hidup orang lain yang bahagia dengan kehidupan aku yang datar.
Selain itu, aku terlalu memaksakan standar sosial media di berbagai hal. Entah dari standar kecantikan biar disukai oleh lawan jenis, atau standar penampilan yang menarik, dan bahkan standar- standar sosial media lainnya yang menyangkut persoalan kehidupan pribadi. Aku ingin di notice oleh orang lain dengan cara yang dilakukan orang lain di media sosial, namun itu justru menjadi sumber penyakit hati yang sulit sekali lepas dari dalam diri.
Setiap liat sosial media tuh, kadang aku suka bilang :
" Kok mereka bisa banget sihhh nemu kebahagiaan mereka nya? "
" Kenapa sihhh keluarga orang lain tuh harmonis banget? "
" Kenapa sihhhh ibu bapak mereka ngasih kebebasan anaknya buat explore banyak hal? "
" Kapan yaaa aku bisa kayak mereka? "
" Gimana yaa cara nua biar cantik kayak mereka?"
" Pantes aja dapet pasangan yang baik banget, toh mereka nya juga positive vibes banget. "
" Kok aku nggak bisa kayak mereka ya? "
Dan banyak kenapa gimana lainnya yang berputar di kepala aku.
Makin lama, aku gak bisa mentoleransi pertanyaan yang berputar di kepala liat di kepala aku. Semakin banyak pikiran yang berkeliaran di otakku, semakin lelah juga fisik yang menompang jiwa aku ini.
Sampai akhirnya, aku harus kembali lagi berkunjung dan berbincang dengan dokter spesialis kejiwaan lagi.
Ya, aku harus ke psikiater lagi.
Setelah hampir 3 tahun aku nggak pernah lagi berkonsultasi ke psikiater dan ke psikolog dengan alasan lelah dan bosan harus berhadapan dengan obat- obatan penenang itu, aku kembali dengan kondisi paling down.
Yup, aku mengalami panic attack lagi 4 hari yang lalu. Dan kali ini, panic attack yang menyerang ku tak bisa aku hadapi dengan hanya bermodalkan - mengatur nafas - saja.
Aku kesulitan bernafas, dada di bagian kiri terasa nyeri, tangan bergetar hebat, kepala pusing, perasaan tak nyaman, dan bahkan untuk sekedar menenggak air putih saja aku sudah tidak sanggup. Padahal aku sedang masuk kerja di shift malam dan kambuhnya saat aku akan melaksanakan shalat magrib.
Aku menahan tangis di toilet selepas shalat isya. Mencoba mengendalikan sesuatu yang ada pada diriku.
But, it doesn't work!
Mau tak mau, aku harus tetap bekerja seperti biasa sambil menahan rasa tak nyaman itu. Aku bahkan sudah kehilangan fokus dan kena tegur atasan. Aku banyak melamun dan enggan berbicara dengan rekan- rekan kerjaku. Aku menahan semua perasaan tak nyaman itu selama 8 jam penuh dan pulang ke rumah dengan tangisan yang tak henti- henti untuk menenangkan jiwaku.
Akhirnya, aku baru bisa melakukan konsultasi online dengan psikiater di aplikasi Alodokter di hari Sabtu ini, tanggal 2 Agustus 2025 pukul 18.31 malam. Aku bertemu dengan dr. Alim, psikiater online yang sangat baik hati dan membantuku untuk mengetahui diagnosis kondisi mental ku. Beliau banyak mengajukan pertanyaan untuk bisa kujawab. Karna sulit sekali bagiku untuk menceritakan semua permasalahan ku jika tidak ada pertanyaan yang menjadi pemicunya. Beliau dengan sabar menunggu aku bercerita dan bahkan membantu menguatkan hatiku. Beliau menjelaskan kondisi ku secara diagnosis medis dan jawaban paling umum. Hampir 45 menit kami berbicara, sampai akhirnya beliau menyampaikan diagnosis akhir dari perbincangan kami.
Ya, aku yang semula 3tahun yang lalu hanya mendapat diagnosis Borderline Personality Disorder (BPD), tapi kini bertambah menjadi PTSD, gangguan somatoform, depresi psikosis, bipolar, dan anxienty.
Aku hanya terdiam untuk beberapa saat. Membaca kembali kata demi kata yang dokter sampaikan. Sampai aku tersadar, bahwa aku sudah menangis kencang di sudut kamarku.
Aku meratapi diriku yang mulai kehilangan jati diri. Luka batin yang kutahan 3 tahun kemarin itu ternyata mengkhianatiku. Aku hanya lelah jika harus pulang pergi ke rumah sakit untuk bertemu psikiater, tapi kenapa harus meninggalkan banyak diagnosis baru di dalam diriku ini. Aku marah pada diriku sendiri. Kenapa aku harus berakhir seperti ini?
Sampai akhirnya, di akhir perbincangan kami, dr. Alim meresepkan obat dan memberikan rujukan untuk janji temu ke psikiater yang berbeda dengan psikiater pertamaku. Aku hanya terdiam dan mengucapkan terimakasih. Dan berusaha memenuhi janjiku kepada beliau untuk mengikuti saran yang beliau berikan padaku. Aku menutup mataku pelan. Dan air mata berikutnya saling berlomba memenuhi sudut mataku.
Sampai aku tiba pada keputusan paling akhir.
Aku mulai menghapus beberapa sosial media untuk menenangkan diri. Beristirahat sejenak di dunia maya itu. Hanya tersisa Whatsapp sebagai media komunikasi dan YouTube, sumber hiburan positive ku.
Aku capture beberapa pesan dr. Alim buat aku. dan mungkin juga bisa buat temen- temen yang survive sama kondisi mental.
Maka dari itu, aku mutusin buat istirahat. Aku mau sibuk sama hobi lama aku yang terbengkalai. Hobi nulis, baca novel, memotret, dan kegiatan lainnya yang bisa mengalihkan fokus ku menjadi lebih positif lagi. Aku juga bakal mencoba me rutinkan kembali konsultasi offline ke psikiater. Setelah aku dirasa sudah bisa mengendalikan diri dan menerima diriku sendiri seutuhnya, aku bakal buka lagi laman sosial media lagi. Aku bakal bagiin cerita perjalanan pengobatan ku jika sempat yaa? Aku janji bakalan cepet balik lagi sehat. Doa in aku ya, Temen- temen ☺.
Semoga temen- temen selalu dalam kondisi sehat lahir batin ya? Semoga kebahagiaan juga selalu menyertai perjalanan kehidupan kalian ke depan nya.
See you laterπ©΅
@khymtk_
Komentar
Posting Komentar