πΌππππ π³ππππ
Sebenarnya di usia yang sudah melewati seperempat abad ini, Trisha tak perlu ragu untuk mengapresiasi dirinya sendiri. Bisa saja ia mengambil liburan ke luar kota. Menikmati banyak hal yang sudah ia lewati sejak kecil. Ia tak perlu menyibukkan dirinya dalam pekerjaan. Ia bisa meraih kebebasan itu. Tapi, tanpa sadar Trisha masih terkurung dengan banyak " larangan " yang sudah ditanamkan oleh Umma nya sejak kecil.
' Ngapain pergi jauh- jauh? Kamu gak bisa jaga diri.'
' Kamu perempuan. Kalo kamu pergi keluyuran kayak gitu, orang- orang bakal nganggep Umma ngajarin yang nggak bener.'
' Nanti kalo di jalan ada apa- apa, yang repot tetep orang rumah.'
' Kamu tuh kebiasaan ngelawan! Dikasih tahu malah nggak nurut!'
' Terserah kamu! Kalo Umma nggak ada, baru tahu rasanya.'
Semua ucapan itu tertancap begitu dalam di kepala Trisha. Dia mengalah bukan berarti dia menurut begitu saja. Ia enggan memperpanjang masalah atau perdebatan yang diciptakan sang ibu. Hingga akhirnya, ketika Trisha menemukan titik lelahnya, ia nekat melarikan diri ke Bandung. Trisha Mecari pekerjaan yang bisa menunjang kehidupannya dengan Umma. Sampai akhirnya ia bekerja di perusahaan yang ia tempati sekarang, merupakan sebuah hasil dari " kenekatan" nya.
" Walaupun udah disetujuin sama perusahaan, tetep aja aku harus izin sama Umma dan Da Hanan. Huufftt...." Trisha membanting pelan handphone nya ke sisi kanan tubuhnya. Matanya begitu khidmat menatap langit- langit kamar. Berpikir caranya untuk mendapat izin kedua anggota keluarganya agar bisa pergi bersama Damar.
" Apa harus dateng ke rumah Da Hanan, ya?" Gumam Trisha pelan. Matanya menutup perlahan. Dari semua hal yang bisa Trisha lakukan, hanya hal inilah yang menurutnya berat.
........
π₯ Rumah Sakit Kota Bandung
Damar masih sibuk berkutat dengan berkas data pasien yang melakukan konsultasi dengannya hari ini. Setelah mendapat persetujuan Trisha untuk ikut dengannya ke Yogyakarta, ia kembali membuka laman WhatsApp untuk mengirim beberapa bubble chat kepada Daris, adik kesayangannya.
Sudah tak aneh. Damar memang acap kali berdebat dengan Daris. Tapi tidak setiap hari. Hanya ketika Damar sudah berbicara serius, tapi Daris menanggapinya sambil tertawa atau mengejek. Untung nya sifat jahil Daris masih bisa ditoleransi oleh Damar. Maka dari itu terkadang Daris senang sekali membuat kakak nya itu marah.
Damar menggulir layar handphone nya dan mencari kontak Bunda negara di daftar kontak yang ia simpan. Setelah menemukan nama kontak Bundanya, ia menempelkan layar gawai itu ke daun telinga kirinya.
" Assalamualaikum, Bunda."
" Waalaikumsalam. Kenapa Mas Damar sayang?"
" Bunda sama Ayah apa kabar? Maaf Damar tidak sempat mengabari kalian akhir- akhir ini. Pekerjaan Damar sedikit padat dari biasanya."
" Ayah sama Bunda alhamdulilah sehat. Mas Damar apa kabar? Masih sempat buat istirahat kan?"
" Alhamdulillah Damar sehat. Tenang saja, Bunda. Damar masih menyempatkan diri untuk istirahat. Pola makan Mas Damar mungkin sedikit berantakan. Tapi masih bisa Mas handle, Bun."
" Waduhhhhh anak Bunda sayang. Pokoknya harus tetep jaga kesahatan ya, Sayang. Ayah, Bunda, sama Daris pun belum sempat jenguk kamu ke Bandung karena pekerjaan kami mulai padat di akhir tahun."
" Tidak apa- apa, Bun. Lagian Damar menelpon Bunda karena ingin memberitahu jika akhir tahun ini Mas pulang ke Yogya."
" Walahhh~ kamu dapat cuti? Pulang naik mobil atau kereta, Mas?"
" Naik kereta, Bun. Mas sudah membeli dua tiket. Karena kali ini Mas mengajak Trisha pergi ke sana juga."
" Trisha pasien yang jadi temenmu itu, Mas? Duhh mau nemuin calon istrimu ke Ayah sama Bunda kah?"
Damar menggaruk kepalanya tak gatal, menahan salah tingkah lebih tepatnya. " Ahh Bunda apaan, sih?"
" Gak usah malu- malu, Mas! Bunda malah senang loh akhirnya kali ini Mas beneran ngajak seseorang buat ketemu juga sama keluarga kita."
" Masih pendekatan saja loh Bun padahal. Tapi doain Mas ya mudah- mudahan Trisha bisa lihat perjuangan Mas."
" Aamiin. Tentu dong doa baik siapapun bakal Bunda aminkan. Pokoknya kalo mau berangkat kabarin Bunda atau Ayah ya? Biar sampai sana kami bisa jemput kalian."
" Oke, Bun. Makasih banyak ya...."
" Sama- sama, Sayang. Ya sudah semangat kerjanya ya?"
" Iya. Titip salam buat Ayah ya, Bun. Bunda juga semangat kerjanya. Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Setelah sambungan telepon dengan Bunda berakhir, Damar kembali mencari kontak seseorang di daftar nomor telepon. Setelah menemukan nama yang dicari, Damar menyentuh layar telepon dan kembali menempelkan gawai itu ke telinganya.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam, Da Hanan. Apa saya ganggu waktu Da Hanan hari ini?"
" Nggak, Dam. Ada apa?"
" Da, saya mau ke rumah Da Hanan dan Kak Zakia. Saya ingin bertemu dengan Umma untuk minta izin."
" Minta izin? Minta izin apa, Dam?"
" Akhir tahun ini saya ada niatan mengajak Trisha ke Yogyakarta, Da. Ke kampung halaman saya. Sekalian jalan- jalan. Kira- kita boleh nggak ya, Da?"
Hanan mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. " Kamu ke rumah bareng Trisha nya, nggak?"
" Nggak, Da. Saya pergi sendiri."
" Kalo aku sih pasti kasih izin. Paling kamu harus agak bujuk Umma biar ngasih izin. Nanti aku sama Zakia bantu, deh."
" Oohh oke, Da. Makasih banyak ya, Da Hanan. Semoga Umma kasih izin saya buat ajak Trisha jalan- jalan."
" Sama- sama. Nanti sore aku pulang, kok. Sampai ketemu nanti ya, Dam!"
" Siap. Kalo gitu saya tutup ya, Mas. Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Damar tersenyum tipis dan kembali sibuk membuka rekam medis pasien yang akan berkunjung hari ini. Mungkin kali ini jadwalnya tidak terlalu padat. Semoga waktunya bisa disempatkan untuk membawa buah tangan ke rumah Hanan nanti sore.
" Semoga Trisha senang dengan surprise saya...." Ucap Damar dalam hati.
..............
Trisha meregangkan tubuhnya saat jam menunjuk ke angka 12.15 siang. Saatnya karyawan kantornya bekerja untuk beristirahat mengisi perut yang sudah berontak minta diisi. Trisha membuat tas kecil yang berisi kotak makan dan tempat minum yang biasa ia bawa. Kali ini Trisha akan makan di dalam kubikel nya karena ada beberapa poin deadline yang belum sempat diselesaikan. Matanya menatap sesekali ke arah handphonenya yang tergeletak di samping tempat ATK nya. Biasanya ia mendapat notifikasi pesa dari Damar. Walaupun hanya pesan yang berisi reminder untuk istirahat makan siang dan mengingatkan shalat, Trisha mulai terbiasa dengan hal itu.
" Tumben nggak ada chat masuk dari Mas Damar? Apa mungkin dia sibuk, ya?" Trisha menyalakan lockscreen gawai nya dan menyimpan kembali ke tempat asal. Tapi, Trisha merasa bahwa kali ini ia yang harus mulai menghubungi Damar duluan. Diraihnya kembali gawai miliknya itu, lalu memotret makanan dan minum yang ia santap hari ini, dan mengirim pesannya kepada Damar melalui pesan WhatsApp.
Trisha hanya tersenyum tipis dan mengembalikan handphone nya ke meja kerja. Ia kembali menyantap menu makan siang buatannya itu. Sebetulnya ia sangat gengsi jika menghubungi Damar terlebih dulu. Karena biasanya Damar lah yang mengabari dirinya setiap makan siang. Namun kali ini, rekor terbesar seumur hidupnya kalo ini terwujud. Menurunkan gengsinya.
..…........
π₯Rumah Sakit Kita Bandung.
Damar mulai salah tingkah karena membaca kembali pesan dari Trisha. Ia bersyukur dengan kelupaannya hari ini. Karena berkat hal itu, ia bisa melihat dan merasakan bagaimana dengan legowo nya Trisha menurunkan egonya untuk berkirim pesan padanya. Ners Gama yang sedari tadi makan siang bersama di ruang kerja Damar menatap heran dengan sikap Damar hari ini.
" Dokter Damar, tumben banget senyum- senyum sendiri gitu? Ada apa nihhh?" Tanya Ners Gama dengan nada mengejek. Damar yang tersadar jika gelagatnya diperhatikan itu pun dengan pelan sambil menyimpan handphone nya ke meja sisi layar komputernya.
" Tidak. Saya cuma lihat- lihat chat saja." Jawab Damar mencoba untuk mengontrol wajahnya menjadi datar.
" Chat siapa, Dok? Calon istri yaa?" Goda Ners Gama sambil tertawa kecil. Wajah Damar seketika memerah. Ia kembali berdeham untuk mengontrol suara dan nafasnya.
" Ah sudah! Lanjutkan saja makannya! Habis ini masih ada pasien yang konsultasi ke sini." Damar kembali melahap makannya sambil tertunduk. Ners Gama semakin gemas dengan sikap salah tingkah Damar. Tapi ia menahan diri untuk menjahilinya dan melanjutkan santap siang hari ini.
.............
Komentar
Posting Komentar