π™²πš’πš—πšπšŠ πšƒπšŠπš—πš™πšŠ πš‚πš’πšŠπš›πšŠπš πš™πš 2

Setelah perjumpaan tak terduga di sisi pantai tadi, dua insan yang saling menghindar beberapa waktu ke belakang itu akhirnya terduduk tenang di sebuah cafe kecil yang tak jauh dari pantai. Saling berhadapan dengan tatapan yang sedikit kosong. Saling merapikan benang merah yang kusut di kepala. Sesekali terdengar suara nafas yang terhembus begitu lembut. Hanya deburan ombak dan suara musik kecil dari dalam kafe yang menemani. Damar menyesap hot latte nya pelan. Sementara Trisha hanya melemparkan pandangan ke arah pantai yang mulai gelap. 

" Trish.... " Damar menyimpan cangkir minum nya ke meja. Trisha mengalihkan pandangannya dari pantai. Matanya begitu fokus menatap Damar. Seketika membuat nafas Damar sedikit tersendat. 
" Kenapa, Mas?" Trisha memiringkan kepalanya sedikit, menyimak. Damar kembali terdiam.

 Dia begini saja sudah membuat saya salah tingkah.

" Maaf ya karena terpaksa kita nginep di hotel deket sini malam ini...."
Trisha menggelengkan kepalanya pelan.
 " Gak apa- apa, Mas. Kalo kita maksain pulang pun bakal kejebak macet karna ada kecelakaan truck tadi." 
Damar mengangguk pelan. Dan melepas pandangannya ke arah pantai. Hari ini rasanya begitu lega. Setelah kembali bertemu dengan Trisha dan merapikan benang kusut yang sudah bersemayam lama di kepala tampannya. Padahal dia psikiater yang bisa menangani kondisi sederhana seperti ini. Tapi entah kenapa semuanya terasa buyar.

" Mas, biaya penginapan nya berapa? Aku mau bayar buat kamar inapnya."
" Gak perlu, Trish. Kan saya yang saranin buat nginep di sini. Kamu gak perlu bayar...." 
" Aku tetep mau bayar, Mas. Gak enak hati ke aku nya. Daripada jadi hutang nantinya..."
Damar mengetuk jarinya ke meja dengan pelan. " Anggap saja saya sedang traktir kamu—"
" Berarti biar aku yang bayar makanan ini ya? Biar kita impas."
" Trish~, gak usah—"
" Nggak ya, Mas! Kita impas. Biar sama split bill nya...." Potong Trisha dengan cepat, " ... yaa walaupun biaya penginapan kita nggak sebanding sama bayar makanan ini...."

Damar menyunggingkan senyumnya sembari mengusap kepala Trisha pelan.
 " Lain kali biar Mas aja yang bayar. Kamu gak perlu ngeluarin uang dengan dalih split bill. Oke?"
Trisha hanya mengangguk pelan dengan netra yang masih menatap ke arah Damar. 

" Mas.... " Trisha menunduk cepat saat Damar menggumam pelan, merespon panggilannya. 
" Kenapa, Trish? Sampein aja yang ada di pikiran kamu. Jangan dipendam.... " Damar meraih jemari Trisha dan menggenggamnya lembut. 
" Soal yang confess Mas sebulan yang lalu, aku izin mau jawab, boleh? "
Seketika dada Damar berdebar begitu cepat. Ia tak mengharapkan jawaban yang ia inginkan seperti yang lalu. Ia hanya ingin tahu bagaimana respon Trisha yang sesungguhnya. 
" Boleh. Tapi kamu harus ngasih jawaban yang jujur ya, Trish. Mau jawaban baik atau nggak pun bakal saya terima. " Damar mengulas senyum tipis, meyakinkan Trisha agar lebih percaya dengan ucapannya. 

Trisha menarik nafas pelan, dan menatap Damar dengan bibir mengulum " Kita bisa jalani dulu yang sekarang berjalan nggak, Mas? Jujur, aku masih sedikit trauma dengan kisah cinta lama aku sama Irza. Aku butuh waktu yang lumayan lama untuk bisa membuka hati lagi. Tapi kali ini aku nggak akan ngehindar dari kamu lagi, kok! Biar hati aku bisa ngerasain tulusnya perasaan kamu.... " Jemari Trisha menggenggam sedikit erat. "..., jangan tinggalin aku dulu ya, Mas! Aku bakal berusaha untuk meyakinkan hati aku lagi. "
Jawaban yang begitu melegakan. Damar tersenyum tipis. Masih ada harapan untuk meyakinkan cinta Damar kepada Trisha itu nyata adanya. 
" Trisha.... " Damar mengusap pelan punggung tangan gadis itu. " ..., terimakasih atas jawaban jujur kamu. Saya harap kamu benar- benar jujur dengan perasaan kamu. Saya nggak akan memaksakan kamu untuk mencintai saya sepenuhnya. Kita jalanin dulu yaa biar dapet jalan tengahnya seperti apa." Damar bangkit berdiri dari kursinya sehingga dengan refleks Trisha mengikuti pergerakan Damar dengan tatapan bingung. 

Damar melepas genggaman tangannya dari Trisha, dan merentangkan kedua tangannya dengan lebar. " You wanna hug? "
Trisha terdiam untuk beberapa saat. Hingga langkah kakinya maju perlahan ke arah Damar dan menenggelamkan tubuh mungilnya di tubuh jangkung Damar. 

" Terimakasih yaaa sudah mau bercerita kepada saya.... " Damar mengusap pelan puncak kepala Trisha dan mengeratkan pelukannya. 
" Terimakasih sudah bersedia menunggu ya, Mas Damar.... " 

Hingga langit semakin menggelap karena malam telah tiba, dan hembusan angin yang bertiup sedikit kencang menjadi saksi pertemuan mereka hari ini. 

Semoga kamu selalu bahagia ya, Trish! Dan saya tak akan pernah berhenti lelah untuk selalu berada di sisimu.... 

" Mau langsung istirahat di hotel? Kamu pasti capek banget, Trish. " Damar melepas pelukan mereka dan menepuk lembut bahu Trisha. 
" Iya, Mas. Kamu juga pasti capek, kan? Biar besok kita bisa pulang dengan kondisi fit. " Trisha mengangguk pelan dengan senyuman yang tak lupa ia perlihatkan ke Damar.
Damar mengulurkan tangan kanannya ke arah Trisha. " Ayo. "
Dengan semangat Trisha meraih ukuran tangan Damar. Hatinya begitu lega. Ia akan berusaha untuk menjalani kehidupannya yang sekarang, dengan didampingi Mas psikiater nya itu. " Ayo.... "


Mereka menyelusuri jajaran kafe dan tempat makan lainnya dengan berjalan beriringan. Dengan perasaan membuncah tak karuan. Bahwa perlahan benang kusut yang saling melilit otak mereka mulai menemukan jalannya. Kini tinggal mereka jalani dengan bertahap proses pendekatannya. 

" Udah nyampe. Nanti bangun jam 7 aja ya? Kita mungkin berangkat sekitar jam 10. Gak apa- apa, kan? " Tanya Damar ketika mereka sampai di depan pintu kamar penginapan mereka. Trisha hanya mengangguk dan membuka kunci pintu kamar inapnya. 
" Selamat malam, Mas. " Trisha melambaikan tangannya sembari menutup pintu dengan pelan. 
Damar hanya mengangguk dan tersenyum tipis sebagai jawaban. 

Padahal dalam hatinya sedang bergemuruh melihat senyum tipis wanita terindahnya itu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

π™ΊπšŽπš™πšžπšπšžπšœπšŠπš— πšŠπš”πšž πš’πšœπšπš’πš›πšŠπš‘πšŠπš πšπšŠπš›πš’ πšœπš˜πšœπš’πšŠπš• πš–πšŽπšπš’πšŠ

πš„πš—πšπš’πšπšπš•πšŽ

πšƒπš’πšπš’πš” π™½πšŠπšπš’πš›