ππππππππ
inanotherlifeπ
2025.06.28
Tepat hari ini, di jam setengah sebelas tadi, aku memutuskan untuk keluar rumah untuk merapikan isi kepala yg kusut beberapa waktu kemarin. Aku mengunjungi banyak tempat.
Aku memesan menu yang menurut ku bisa dinikmati, sembari melihat pemandangan manusia dengan kesibukannya.
Aku menepi, mencari tempat paling ujung dan sepi. Tempat paling tersembunyi dari pandangan manusia- manusia lain.
Aku menunggu pesanan datang sembari memotret beberapa space.
Kapan lagi aku bisa membidik setiap momen ini jika bukan sekarang?
Karyawan kafe itu memberiku menu yang sudah ku pesan tadi. Segelas charcoal milk dan affogatto. Aku memotret dia menu itu. Kemudian aku mulai membuka mulutku untuk menikmati setiap suapan menu ku dengan khidmat.
Di sana banyak orang yang sibuk bercengkrama dengan orang terkasih.
Tapi telingaku mendadak mendengung. Sunyi.
Ternyata, yang tersisa dariku hanyalah...
Diriku sendiri.
Aku menikmati ramen yg bahkan aku tak pernah menyantapnya lagi.
Kapan terakhir aku merasakan menu khas Jepang itu?
Mungkin sekitar tahun 2015.
Setelahnya, aku tak pernah makan lagi.
Tapi kali ini, aku mencoba menu itu lagi.
Kali ini, aku jatuh hati pada cita rasa ramen di kedai itu.
Aku mencari lagi tempat yang tampak menyepi.
Aku ingin makan tanpa harus bertatap dengan pengunjung lainnya.
Aku hanya ingin sendiri.
Menikmati menu yang sudah ku pesan sembari mengobrol pada sosok kecil yg melekat di dalam ragaku.
Iya, sosok yang kumaksud adalah,
Aku sendiri.
Aku memotret kembali.
Sepertinya ini akan menjadi hobi baruku setelah hobi menulis ku yang sudah lama sekali mendarah daging pada diriku.
Aku menikmati keheningan di sisi kedai itu.
Yang terdengar hanya sayup-sayup tipis karyawan kedai yang sedang memasak.
Tidak masalah. Aku tidak terlalu terganggu.
Aku diam, menikmati setiap waktu yang berjalan begitu cepat.
Mengobrol dengan sosok di dalam diriku secara perlahan.
Dia rapuh, dia lemah.
Makanya aku begitu berhati- hati, untuk menjaga perasaannya.
Sudah hampir 25 tahun aku hidup, aku sudah banyak menyulitkan kamu.
Aku begitu kekanakan.
Aku banyak menyusahkanmu.
Aku tetap berada di usia 10 tahun, sementara kamu terus berjalan sampai akhirnya usiamu berada di angka 25.
Keadaan sekarang begitu sulit, ya?
Aku bahkan sering bersembunyi di balik tubuhmu saat kamu berhadapan dengan banyak kesulitan.
Aku melihatmu yang memasang senyum tipis. Tapi matamu menunjukkan banyak kecemasan.
Dan kamu masih mau melangkah, padahal situasi itu membuatku takut setengah mati.
Kamu menghadapi itu semua seakan seringan menghadapi badai.
Kamu berbalik, melihat wajahku yang masih ketakutan.
Kembali mengusap bahu kecilku.
" Aku gapapa. Udah aman, kok. Jangan takut, ya? "
Kamu mengatakan itu semua seolah tidak terjadi apapun.
Kamu kembali melangkah. Memasang senyum lebar sembari menyapa orang- orang di sekitarmu.
Aku hanya terpaku di tempat.
Tak berani melangkah sedikitpun.
Karna aku begitu pengecut.
Membiarkanmu berjuang sendirian.
Sementara aku hanya terdiam dan menerima bersih kekacauan yang menghadang.
Tolong, di masa yg mendatang, jangan melindungi diriku lagi.
Atau mungkin aku meminta Tuhan agar kamu dilahirkan kembali di lingkungan yg bisa membuatmu bertumbuh dengan mental sehat.
Aku akan memantaumu dari jauh.
Memastikan duniamu hanya dikelilingi kebahagiaan.
Maaf, sosok kecil di dalam dirimu ini adalah sosok pengecut.
Komentar
Posting Komentar