π™²πš’πš—πšπšŠ πšƒπšŠπš—πš™πšŠ πš‚πš’πšŠπš›πšŠπš





" Saya suka sama kamu, Trisha?"
" Maaf, Mas Damar. Saya belum bisa kasih jawaban apapun buat pernyataan kamu.... "

Sudah hampir satu bulan setelah Damar menyatakan cinta kepada Trisha saat menemani gadis itu menikmati sunset di pantai, tidak ada satupun jalur komunikasi yang kembali terbuka. Seolah lenyap begitu saja. Tidak ada kejelasan apapun yang terungkap di antara mereka. 

Damar terus saja memperhatikan layar handphone nya yang gelap. Berharap ada pesan masuk yang dikirim oleh Trisha walau hanya sekedar menanyakan soal jadwal konsultasi kesehatan mentalnya. Tapi yang ditangkap Damar hanya pesan singkat dari beberapa kolega kerjanya. 

Sebetulnya Damar ingin sekali menghubungi Trisha lebih pertama. Tapi, hatinya begitu munafik. Ia masih saja malu untuk sekedar mengetik pesan, menanyakan kabar Trisha. Hatinya masih karuan. Damar ingin mendapatkan kejelasan dari perasaannya. 

" Trisha, saya kangen kamu. "


Di sisi lain, Trisha mencoba mencari kesibukan dengan menerima banyak pekerjaan dari rekan- rekan kerjanya. Bukan karena dia ingin terjebak dari lembur di akhir jam, tapi ingin menyibukkan diri agar pikirannya tak teralih pada ucapan Damar satu bukan yang lalu. 

Ya, Trisha sengaja menghindar dari Damar. 

Bukan tanpa alasan. Trisha bahkan belum siap membuka hati untuk orang lain pasca melihat dengan mata kepalanya sendiri tentang pernikahan Irza dan Helfa. Rasa sakitnya masih mengganjal di hatinya. Ia belum selesai dengan masa lalu nya. Sejujurnya, Trisha sudah merasakan kenyamanan hatinya saat bersama Damar. Namun, sisa perasaan Trisha kepada Irza yang sudah memupuk lama itu belum juga hilang. Trisha tak ingin Damar menjadi tidak nyaman atau merasa terbeban ini dengan kondisi Trisha sekarang. Yang Trisha butuhkan sekarang hanyalah ketenangan hatinya. 

" Mas Damar, aku kangen kamu. Maaf ya.... "

Damar memutuskan untuk melajukan mobilnya ke pantai di sisi kota ketika jam sudah menunjuk ke angka 5. Ia ingin menenangkan diri di tempat kesukaan Trisha. Sembari melangitkan doa- doa terpendam agar ia dan Trisha menemukan titik kebahagiaan yang direstui Tuhan. 

Sesampainya di lahan parkir dekat sisi pantai, Damar melangkahkan dirinya menuju bebatuan yang menjadi tempat mengobrol terakhir kalinya bersama Trisha. Ia raih airod di saku celananya dan menyumpalkan kedua telinganya untuk menikmati lagu yang ia putar di aplikasi musik. 

Aku belajar mencintaimu. 
Mencintai tanpa syarat apapun. Meski kau yang tersulit untukku. Tapi aku tak ragu.

" Trish, tidak ada satu keraguan apapun yang aku sampirkan pada bahumu. Saya percaya bahwa takdir yang mempertemukan kita untuk saling menjadi dan mendukung apapun kondisi yang kita hadapi selama ini. Saya menemukan rumah untuk hati saya yang sudah bersemayam begitu lama."

Kini kita sudah semakin jauhBahkan sulit untuk kembaliKu beri semua yang ada padakuTanpa syarat apapun

" Sejak saya menyatakan cinta padamu, saya belum berani untuk menghubungimu. Saya seperti kehilangan satu kebiasaan yang saya lakukan setiap harinya. Mengibrol dengan kamu. Saya kehilangan kamu, Trish. Saya sangat merindukan kamu. "

Aku ingin terus ada di hatimu. Aku lelaki yang tak bisa mudah menggantimu. Meski aku takut akan kelemahanmu. Ku takkan lari karena cintaku sempurna. 

" Saya tahu, bahwa kamu masih terjebak di dalam labirin perasaan kamu kepada Irza. Kamu masih takut memulai hubungan baru. Bahkan, saat Irza menikah pun, hatimu se hancur itu. Kamu menangis sesegukan di barisan belakang para tamu. Saya yang berdiri di sisimu saat itu ikut merasakan hancur. Sebesar itu cinta dalam dia kamu kepadanya. Saya iri pada Irza, Trish. Saya ingin mendapatkan cinta yang besar itu dari kamu. Saya akan selalu di sisimu, tidak peduli bagaimana nasib akhir cinta saya. Hanya satu hal yang saya percayai sampai sekarang, bahwa akan akhir bahagia atas usaha saya untuk memperjuangkan kamu.... "

Kini kita sudah semakin jauh. Bahkan sulit untuk kembali. Ku beri semua yang ada padaku. Tanpa syarat apapun. 

Damar mengusap wajahnya frustasi. Ia sudah sangat ingin bertemu dengan pujaan hati impiannya. Namun, rasa gengsi dan ego nya yang tinggi itu belum luluh juga untuk menanyakan kondisi gadis itu. Damar menyalakan layar handphone nya. Terlihat potret Trisha yang tengah tertunduk melihat tulisan diary nya. Potret favorit Damar. Damar tersenyum tipis. Trisha akan menjadi wanita favoritnya sampai kapanpun. 

Aku ingin terus ada di hatimu. Aku lelaki yang tak bisa mudah menggantimu. Meskipun kini ku takut akan kelemahanmu. 
Ku takkan lari. Ku takkan lari. Ku takkan lari karena cintaku sempurna. 

" Mas Damar? " Suara itu mengalihkan fokus Damar dari layar gawainya. Damar mendongak. Tampak raga Trisha yang berdiri tak jauh dari tempatnya terduduk. Sesekali Damar mengusap matanya kencang. Memastikan bahwa yang ia lihat itu nyata, bukan imaji yang membayang efek rindu. 
" Trish?" Panggil Damar dengan suara bergetar. Rasanya sulit menyembunyikannya gugup suaranya. Damar melangkah perlahan ke arah Trisha terdiam. 
" Mas Damar ngapain ke sini? " Tanya Trisha heran. Matanya mengerjap begitu cantik. Damar mulai memperpanjang langkah kakinya dan segera merengkuh Trisha ke dalam pelukannya. 
" Trish.... " Damar memeluk erat tubuh pujaan hatinya. Dada Damar rasanya membuncah begitu kuat. Seperti kembang api yang meledak ke langit. Rindu yang awalnya masih bisa ia tahan, langsung tertumpah kan di hadapan Trisha. 
Trisha yang terkejut karena tindakan Damar yang tiba-tiba, mencoba menahan diri mengontrol rasa kagetnya. Gadis muda itu mengusap punggung lebar Damar dengan lembut. Mencoba menenangkan Damar yang mulai terdengar sesegukan karena tangis. 
" Mas Damar.... "Trisha membalas pelukan Damar. "... , maafin aku ya? Sebulan ini aku nggak menghubungi kamu. Aku berusaha mencerna pernyataan kamu waktu itu. Maaf, udah buat kamu khawatir.... " 
Damar melepaskan pelukan Trisha dan mengusap air matanya yang menghiasi wajah tegasnya. Senyum Trisha mengembang tipis. Sesekali tangannya membantu menghapus air matanya. 
" Saya kangen kamu, Trish.... " Suara Damar terdengar bergetar dan serak. Trisha hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. " ..., maaf ya? Saya malah ikut menghindar dari kamu. Nggak ada komunikasi apapun setelah saya confess sama kamu. Saya takut sekali jika kamu pergi. Saya merindukan kamu, tapi nyali saya menciut walau hanya sekedar menanyakan kabar kamu.... "
" Gak apa- apa, Mas. Habis ini kita jangan kayak gini lagi, ya? " Trisha mengusap lembut bahu Damar. Ssnyumnya mulai mengembang cantik. Damar mengangguk pelan, dan kembali memeluk Trisha. 

" Trisha, saya janji bakal selalu berada di sisi kamu.Jangan pergi lagi, ya? " Ucap Damar sembari mengecup puncak rambut Trisha. Wanita yang ada di pelukan Damar itu hanya mengangguk pelan. Mereka menikmati angin sore syahdu itu dengan saling merengkuh raga dan hati yang mulai saling menyatu dalam perasaan cinta. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

π™ΊπšŽπš™πšžπšπšžπšœπšŠπš— πšŠπš”πšž πš’πšœπšπš’πš›πšŠπš‘πšŠπš πšπšŠπš›πš’ πšœπš˜πšœπš’πšŠπš• πš–πšŽπšπš’πšŠ

πš„πš—πšπš’πšπšπš•πšŽ

πšƒπš’πšπš’πš” π™½πšŠπšπš’πš›