πΌππππππππ πππππππ
P. S : cerita ini terinspirasi dari lagu Nabila Taqiyyah - Melangkah tanpamu.
For typo i'm say sorry. Kesamaan tokoh atau alur cerita itu pure dari aku ya?
Happy reading π
" Guys, duluan ya? " Akan melambaikan tangan ke arah teman- teman kantorku setelah berpisah di lobby kantor tempatku bekerja. Sudah pukul 17.10, matahari pun sudah mulai tenggelam meninggalkan jejak orange yang menghiasi langit Bandung hari ini. Masih ada waktu sebelum aku kembali ke indekost ku. Mungkin berkunjung ke kafe yang jaraknya hanya beberapa meter dari kantor menjadi solusi paling tepat.
Aku memutuskan untuk berjalan kaki saja sambil menikmati pemandangan jalanan Bandung yang tidak pernah sepi di sore hari. Orang- orang mulai berbondong- bondong pulang bekerja atau mungkin ada yang baru keluar rumah untuk sekedar jalan- jalan. Bukan hal yang aneh sebetulnya. Tapi aku menyukainya.
Kakiku berhenti melangkah tepat di depan pintu masuk " Hara's Cafe", kafe langganan ku untuk sekedar melamun atau mengerjakan beberapa deadline kantor saat Work From Cafe ditemani menu favorit. Aku tersenyum tipis saat netraku bertemu pandang dengan Balgi, barista kafe ini setelah membuka pintu masuk.
" Hai, Gi! Menu biasa, ya? "
" Siap, Trish! Di tempat biasa juga kan? "
Aku hanya mengangguk pelan dan melanjutkan langkahku menuju meja yang terletak di paling ujung, dekat sekali dengan jendela yang menawarkan pemandangan orang- orang yang berlalu lalang. Aku menyimpan tas ransel berisi laptop dan beberapa buku jurnal ke atas meja. Aku membuka handphone dan membalas beberapa pesan singkat dari rekan kerja dan atasan.
" Kamu tunggu dulu di sini, ya? Aku pesenin makanannya ke sana. "
Suara itu.
Suara yang aku sangat mengenalinya.
Aku nggak mungkin halu, kan?
Aku mendongakkan kepalaku pelan ke arah depan. Memastikan bahwa telingaku kali ini tidak salah. Suara yang begitu tidak asing. Suara dengan dominan bass tetapi masih lembut di telinga. Suara orang itu.
Suara cinta pertamaku.
" Oke. Aku tungguin, ya? " Jawab gadis yang menghadap membelakangiku. Iya. Aku mengenali lelaki yang tengah bersama wanita itu. Sosok yang kuusahakan begitu keras untuk melupakannya. Sosok yang menjadi alasanku untuk melarikan diri ke Bandung. Untuk mengubur kisah cinta bertepuk sebelah tanganku.
Irza Angkasa Dault.
Aku memperhatikan punggungnya yang tengah bicara dengan Balgi dengan senyum tipis. Sudah begitu lama sekali aku tidak melihat wajahnya. Aku memutuskan untuk menghapus kontak WhatsApp nya, membatasi akun sosial media nya agar tidak berkeliaran di linimasa ku agar benar- benar tidak pernah melihat dia lagi. Setelah untuk pertama kali nya dia menunjukkan potret nya dengan seorang wanita yang dia nobatkan sebagai kekasih dengan tiba- tiba itu. Aku memutuskan untuk berhenti menyukainya.
Hey, apa kabarmu?
Semoga kau tak lupa denganku.
Aku yang dahulu.
Menunggumu dari jauh.
Ingin sekali aku menghampirinya. Seolah bertemu sebagai teman yang sudah lama tak bersua. Tapi, itu berat sekali. Dadaku bergemuruh perih dengan melihatnya saja, apalagi aku menyapanya nanti.
Tak terasa sudah.
Bulan demi bulan.
Berganti tahun.
Ku harus akhir ini sampai di sini.
Sudah hampir 6 tahun aku tidak pernah melihatnya lagi. Aku sengaja menutup semua akses yang kemungkinan memberiku peluang untuk mengetahui kabarnya kini. Aku bahkan sering menolak ajakan teman- teman SMA ku untuk ikut acara reuni sekolah dengan berbagai alasan agar aku tidak melihat sosoknya lagi. Aku butuh waktu begitu lama untuk memulai hidupku yang baru. Menghilang total kan perasaanku untuknya. Cinta dalam diam ku berakhir menyedihkan. Dan untuk melupakannya saja sudah menjadi pekerjaan rumah tetsukit yang pernah aku hadapi.
Bukan ku tak memegang janjiku.
Tapi ku juga punya hati.
Maafkan...
" Aku cuma suka sama dia. Gatau kenapa, ya? Apa mungkin dia emang kriteria aku banget gitu? " Ucapku dengan nada santai kepada Akbar, sahabat dekatku saat di SMA 5 tahun yang lalu. Untuk pertama kali nya aku jatuh cinta kepada sosok Irza, teman satu kelasku.
" Masa sih ga ada alesan kamu suka sama dia? Trish, apa mungkin dia baik banget ke kamu, trus suka bantu kamu, diajak ngobrol suka nyambung, makanya kamu nyaman sama dia? " Tanya Akbar sambil mengganti posisi duduknya menjadi menyilangkan kakinya. " Coba confess, gih! "
" Gila aja aku yang confess! " Tolak ku dengan cepat. " Lagian kan aneh juga kalo cewek yang confess duluan ke cowok yang disuka.... "
" Ihhh sekarang tuh emang lagi musim emansipasi wanita. Saatnya wanita yang berani bicara. Termasuk buat confess juga." Akbar menunjukkan jari telunjuk nya ke arahku seolah menasihati. " Percuma aja kamu diem- diem suka sama dia tapi dianya ngga peka, atau bahkan nggak tahu kalo kamu suka sama dia. Mana kamu tuh kayak bertingkah biasa aja gitu. Nggak ada cegil- cegil nya. " Lanjut Akbar dengan nada sedikit sebal. Benar juga. Aku bahkan tidak pernah menunjukkan sikap yang seolah ' aku menyukainya' saat bersama Irza. Benar- benar seperti teman biasa saja.
" Padahal kalian tuh ketua sama wakil kelas lohh! Banyak yang jodohin kalian. Masa kamu kagak salting sih, Trish? "
" Duhhh aslinya aku salting tau! Tapi nggak yang terang- terangan banget, Bar! " Jawabku sambil menepuk bahunya.
" Terus, mau sampe kapan kamu diem- diem suka sama dia? Padahal dia jomblo tauu.... "
" Janji deh, kalo aku udah ada keberanian buat confess, aku bakal langsung omongin ke dia deh! "
" Okay. Gua tunggu progress janji kamu yaa? " Akbar menyodorkan tangan kanan nya untuk berjabat tangan denganku.
" Deal! " Jawabku dengan tawa sumringah.
.
.
.
" Nggak, Bar! Ternyata aku gak bisa menuhin janji aku yang dulu buat confess ke Irza. Aku terlambat. " Gumamku pelan. Mataku kembali melihat pergerakan Irza yang baru kembali dari kasir ke tempat duduk di depanku.
Senyumnya masih sama. Masih terlihat teduh dan menenangkan seperti dulu.
Ku kan berjalan.
Perlahan, menata hatiku.
Hingga kutemukan lagi bahagia.
Meski itu tanpamu.
" Kamu beneran mau stay di Bandung, Trish? " Tanya Yolanda, kekasih Akbar saat mereka berdua mengantarku ke stasiun kota. Aku mengangguk pelan dengan senyum tipis.
" Kamu pergi ke Bandung bukan karna mau lari dan ngilang setelah tahu Irza ternyata diem- diem punya pacar, kan? " Selidik Akbar dengan curiga. Aku hanya menunduk. Tak tahu jawaban apa yang harus aku berikan agar Akbar percaya dengan keputusanku ini.
" Apa aku bantu buat kasih tahu Irza biar dia tahu faktanya—"
" Nggak usah! " Potongku dengan cepat. Kepalaku menggeleng pelan. " Nggak perlu segitunya, Bar. Gak apa- apa. Mereka udah jadian. Masa aku merusak kebahagiaan mereka, sih? " Lanjut ku dengan senyum tipis.
Akbar dan Yolanda saling melirik. Dan terlihat tangan Yolanda mengusap punggung tangan Akbar, mungkin untuk menenangkan emosi kekasihnya itu.
" Kalo itu pilihan terbaik kamu, kita gak bisa cegah, Trish. Tapi kamu janji ya kalo ada problem apapun, kamu cerita ke kita berdua. Jangan kamu ngerasa sedih sendirian. Bisa kan? " Tangan Yolanda beralih memegang tanganku. Aku menunduk sembari mengangguk.
" Okay. Aku gak bisa janji tapi bakal aku usahain. Makasih ya, Yol! Nitip si Akbar ya? Kalo kelakuannya bikin kamu tantrum dikit, kasih tahu aku aja! Nanti aku getok pake tongkat pramuka. Hahahahaha. " Aku mencoba tertawa agar terlihat baik- baik saja. Dan juga meyakinkan mereka dengan keputusanku untuk bekerja di Bandung.
Irza, semoga kita tidak pernah bertemu lagi setelah ini, ya?
.
Tak berharap mudah
Perlahan lahan pasti terobati
Ku harus lewati ini tanpa sembunyi
Aku mulai menyibukkan diri setelah diterima bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang teknologi terbarukan di Bandung. Aku mulai membuka diri dan bersosialisasi dengan rekan kerjaku. Membuka relasi antar divisi. Menghadiri beberapa pertemuan dengan perusahaan lain bersama bos. Hingga perlahan, aku mulai melupakan sosok itu dan memprioritaskan pekerjaanku di nomor 2 setelah memprioritaskan keluarga.
Tapi kini, kenapa aku harus bertemu dengannya lagi setelah susah payah aku melupakannya selama bertahun-tahun?
Bukan ku tak memegang janjiku.
Tapi ku juga punya hati.
Maafkan...
Ku kan berjalan.
Perlahan, menata hatiku.
Hingga kutemukan lagi bahagia.
Meski itu tanpamu.
" Trish? " Pikiranku kembali ke raga setelah suara Balgi membuyarkan lamunanku. Tubuhku menegak sempurna dan mataku membola saat Balgi menyimpan sepiring Choco cake dan segelas ice lemon tea di meja ku.
" Duuuhhh kaget banget ihh Balgi! " Aku mengusap dadaku pelan, untuk menetralkan detak jantungku karena efek terkejut.
" Ya lagian tadi malah melamun. Mana aku manggilnya berkali- kali juga. " Sungut Balgi dengan sebal. " Jangan ngelamun terus, Trish! Kalo ada apa-apa cerita aja, oke? "
" Iya iya.... " Aku meraih ice lemon tea nya dan menyeruput minuman favoritku itu dengan pelan. " Thanks, ya? "
" Yooooo. " Jawab Balgi sembari kembali ke meja kasir. Aku menghela nafas dengan sedikit keras. Mencoba mengontrol detak jantungku agar lebih tenang. Dan juga merapikan kembali pikiranku yang kacau karena memikirkan Irza.
Aku menyantap choco cake itu dengan khidmat. Mencoba meresapi rasa coklat manis yang mendominasi indera pengecap ku. Rasa kue coklat itu sebenarnya sama saja seperti biasa aku menyantapnya. Tapi entah kenapa aku malah merasa kurang nyaman saat menyantapnya kali ini.
" Trisha? "
Suara Irza terdengar begitu dekat dengan telingaku. Tolong, ini halu lagi, kan?
Aku mencoba menetralkan detak jantungku. Nafasku juga sedikit berat. Kenapa aku menjadi seperti ketakutan begini?
Tuk tuk
" Trisha? Kamu Trisha, kan? " Aku menegakkan kepalaku ke atas. Mataku bertemu pandang dengan netra Irza. Tubuhku membeku seketika. Seseorang tolong beritahu aku bahwa ini bukan mimpi!
Bibirku seketika kelu. Sulit sekali untuk mengucapkan beberapa rentetan kata yang bertumpuk di kepalaku. Itu benar-benar Irza. Dia menyadari keberadaanku di sini.
" H— Hai..., Ir— za? " Ucapku dengan terbata. Nafasku semakin sulit saja ku hembuskan. Dia berdiri tepat di depan tempat duduk ku. Dia tersenyum lebar dan melambaikan tangannya.
" Ternyata itu beneran kamu, Trish! Udah lama banget nggak ketemu kamu. " Irza masih berada di posisi berdirinya dan tetap menampilkan senyum manisnya. " Kamu apa kabar, Trish? "
Aku masih terdiam. Mencoba untuk terlihat santai. Tapi rasanya begitu sulit. Ini terlalu tiba- tiba. Aku tak menyangka bahwa pertemuan kami akan seperti ini.
" A— aku baik. Aku baik! Kamu apa kabar?"
" Alhamdulillah baik. Kamu selama ini tinggal di Bandung? Kerja atau kuliah? " Tanya Irza penasaran.
" Aku kerja. Iya, aku kerja di perusahaan deket sini. Kamu sendiri kerja di Bandung juga kah? " Tanyaku berusaha terlihat biasa saja. Padahal aku penasaran bagaimana kehidupan nya setelah hampir 6 tahun tidak bertemu.
" Nggak. Aku kerja di Jakarta. Aku ke sini lagi pemotretan buat pre wedding aku sama Helfa." Irza menunjuk ke arah wanita yang tadi datang bersama nya dengan bangga. Wanita itu tampak tersenyum sumringah ke arahku. Masih wanita yang sama dengan foto yang pernah Irza tampilkan di story WhatsApp nya.
" Bby, sini dulu! Kenalan sama temen sekelas aku pas SMA dulu. " Irza melambaikan tangannya ke arah wanita itu. Wanita yang menjadi calon istri nya Irza itu berjalan ke arah meja ku dengan senyuman yang begitu manis.
Pantas saja Irza menyukai nya. Helfa begitu cantik dan juga lembut.
" Salam kenal, Trish! Aku Helfa. " Helfa menyodorkan tangan kanan nya ke arahku. Aku menyambut ukuran tangannya dengan sedikit ragu.
" Hai. Aku Trisha. Salam kenal ya? " Jawabku dengan senyum tipis.
" Irza banyak cerita tentang temen sekolahnya. Termasuk kamu, Trish. " Ucap Helfa dengan sedikit basa- basi. Mungkin agar suasana nya tidak begitu canggung. " Tapi kamu gak pernah dateng ke acara reuni, ya? Kenapa? "
Tolong jangan tanya aku alasannya.
" Aku sibuk di sini. Jadi nggak sempet terus untuk ikut reunian sama temen-temen. " Jawabku sedikit kikuk. Sial! Aku mengarang cerita begitu tidak profesionalnya.
" Oh ya, kamu punya pacar nggak, Trish? " DEG! Pertanyaan itu. Pertanyaan yang aku benci. Pertanyaan yang jawabannya ada kaitan dengan dia.
Aku bahkan membutuhkan waktu yang lama untuk lupain kamu, Za. Bahkan sekarang hati aku tertutup untuk orang lain.
Ku akan terus berjalan (ku akan terus berjalan).
Hingga kutemukan lagi bahagia.
Meski itu tanpamu.
" Nggak ada hehehehe.... " Jawabku dengan sedikit candaan. " Aku terlalu sibuk sama kerjaan. Jadi nggak sempet nyari pacar. "
" Walahhh~ padahal kamu tuh pinter dan berwibawa, Trish. Ya kali nggak ada yang deketin kamu? " Canda Helfa dengan wajah penasaran.
" Belum dateng kali jodohnya. Do'ain aja, ya? " Jawabku dengan senyum tipis.
" Aaamiiinnn. Mudah- mudahan pas nikahan kita, kamu udah bawa pacar kamu ya? " Kalimat terakhir yang diucapkan Irza membuatku membeku seketika. Menikah. Ah~ iya mereka kan sekarang sedang melakukan sesi foto pre wedding untuk pernikahan mereka nanti.
Trish, ayo mundur. Dia sudah bahagia dengan pilihan hatinya.
" Ohh maaf ya aku harus pulang dulu! Udah hampir malem. Aku duluan ya? " Tanpa melihat bagaimana ekspresi mereka, aku langsung pergi meninggalkan kafe. Tak lupa aku melakukan scan QRIS untuk pembayaran di kasur dengan sedikit terburu- buru dan membuat Balgi keterangan.
" Buru- buru banget, Trish? Mau kemana? " Tanya Balgi penasaran.
" Mau pulang. Thanks ya, Gi! " Jawabku sembari mempercepat langkahku. Aku harus pulang. Menahan air mata di ujung mataku yang berat sekali keluar di hadapan Irza dan Helfa.
Ku kan terus berjalan.
Menata hatiku.
Hingga kutemukan lagi bahagia.
Meski itu tanpamu.
" Irza, ternyata aku masih belum melupakan kamu sepenuhnya. Aku masih patah hati ternyata. Mendengar kabar pernikahan yang keluar dari ujung bibirmu setelah hampir hilang kontak selama 6 tahun tak membuatku menerima semua jalan takdir ini. Aku hancur mendengar kabar itu. Aku cemburu kepada Helfa. Tapi, aku siapa kamu? Aku hanya yang jatuh cinta padamu dalam diam ini rasanya tak pantas untuk iri. Ternyata, aku belum sepenuh nya lupa sama kamu. Maafin aku, Irza.... "
Ku kan berjalan.
Perlahan, menata hatiku.
Hingga kutemukan lagi bahagia.
Meski itu tanpamu.
" Irza, selamat menempuh hidup dengan penuh kebahagiaan bersama pasanganmu. Selamat menjalani kehidupan bahagia dengannya. Setelah ini, semoga kita tidak pernah bertemu lagi. Biarkan aku pergi. Melangkah menikmati kehidupanku sendiri. Menikmati luka ini seorang diri. Menyembuhkan semua perasaan ini dengan pelan."
The end.
Semoga, kita tidak pernah bertemu lagi.
Komentar
Posting Komentar