π™·πšŠπšπšŠ πšπšŠπš— πš‚πšŽπš›πšŠπšπšžπšœ π™³πšŽπš•πšŠπš™πšŠπš— π™Ώπšžπš•πšžπš‘ π™·πšŠπš›πš’

𝙿. πš‚ : πš‚πšŽπš‹πšŽπš•πšžπš– πš‹πšŠπšŒπšŠ, 𝙸 πš›πšŽπšŒπš˜πš–πš–πšŽπš—πšπšŽπš 𝚒𝚘𝚞 𝚝𝚘 πš•πš’πšœπšπšŽπš— πšπš‘πš’πšœ πšœπš˜πš—πš! π™ΊπšŠπš›πš—πšŠ πšŒπšŽπš›πš’πšπšŠ πš’πš—πš’ πšπšŽπš›πš’πš—πšœπš™πš’πš›πšŠπšœπš’ πšπšŠπš›πš’ πš•πšŠπšπšž 𝚒𝚐 πšŠπš”πšž πšœπš‘πšŠπš›πšŽ πš•πš’πš—πš” nyaπŸ˜„. 



Ⓗⓐⓟⓟⓨ Ⓡⓔⓐⓓⓘⓝⓖ πŸ˜„




Rasanya semuanya seperti mimpi. Sudah satu tahun berlalu, dan semua kenangan itu masih merekat kuat di kepala. Semua janji itu. Janji bahwa kamu yang akan selalu berada di sekitarku tanpa lelah. Janjimu yang akan selalu menjadi benteng kuat dan tinggi untuk menjagaku dari segala kemungkinan terburuk yang akan menghadang. Dan janji- janji lain yang bahkan aku menulisnya dengan nyata di dalam otakku. Semua janji itu sudah semu. Hilang begitu saja tanpa jejak.

Pertama kali saat kita bertemu secara kebetulan di kafe “ Tuli”. Saat itu aku bekerja sebagai barista dan kamu adalah seorang pelanggan yang senang sekali membeli satu menu yang sama. Coffee latte dan sepotong tart coklat. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan se detail itu. Tapi karena kamu selalu datang dan memesan menu yang sama, aku langsung bisa mengenalimu. Senyummu saat berbicara membuatku dadaku berdebar tak normal. Aku bahkan menyimpan raut senyummu di dalam otakku. Karena kamu adalah mahakarya yang benar- benar terlalu sempurna.

Coffee latte nya satu sama kue tart coklatnya satu. Tolong antar ke meja dekat jendela, ya? Saya duduk di sana.” Ucapmu dengan nada lembut seperti biasanya. Aku hanya mengangguk. Walaupun sebenarnya aku ingin sekali menjawab ucapanmu. Namun apa daya aku tak bisa mengeluarkan sedikit pun suara dari ujung bibirku. 

Ya, aku bisu sejak lama.

Tidak usah terkejut. Itu kenapa aku bekerja di sini. Karena kafe ini memang diperuntukkan untuk orang- orang spesial seperti kami.


Hari berikutnya. Dan berikutnya lagi. Kamu jadi sering datang setiap hari dengan menu yang sama. Aku sudah mengingatnya di luar kepala. Kamu hanya datang sambil tersenyum dan langsung duduk di tempat biasa kamu berdiam diri ataupun sekedar sibuk dengan laptopmu. Dengan langkah setenang mungkin, aku menghampirimu dan menyajikan pesanan milikmu.

“ Apa kamu sibuk, Naira?” Aku sedikit terkejut bagaimana dia tahu namaku. Namun tak berselang lama aku tersadar bahwa aku menggunakan name tag di sisi kiri celemekku.
Tidak. Kenapa?” Aku menggerakkan tanganku untuk menjawab pertanyaannya.
“ Bisakah kita mengobrol di sini? Sepertinya akan seru jika kita berbagi cerita....” Aku tersenyum tipis mendengar jawabannya. Dia bahkan mau mengobrol dengan orang sepertiku. Ternyata tidak semua orang tak menyukai orang- orang disabilitas sepertiku ini.
“ Duduklah....” Dia tarik kursi kosong di depannya agar aku mendudukinya. 
Senyumku merekah. Dia laki- laki gentle. Dengan sedikit canggung aku duduk di depannya.
Terima kasih....” Aku menggerakkan tanganku lagi. Ia hanya mengangguk pelan dengan senyum hangat seperti biasa.
“ Aku Haga. Aku freelancer penulis di website. Kamu pasti bosan bertemu dengan aku setiap hari, ya?”
Aku langsung menggeleng, menyanggah ucapannya. “ Aku senang bertemu banyak orang yang datang ke kafe ini. Jadi kamu tidak perlu berpikir seperti itu, Haga.” Tanganku menjelaskan kata demi kata agar tersampaikan kepadanya. 
“ Hahaha..., iya iya.” Haga terkekeh pelan dan kembali menatap ke arahku. “ Kamu kayaknya capek, Naira. Kalau kamu butuh untuk teman bicara, kamu bisa melakukannya denganku.”

Haga, itu pertama kalinya kita benar- benar bicara setelah satu bulan kamu mendatangi kafe ini. Kamu mencoba membuatku menaruh kepercayaan kepadamu. Aku bahagia sekali, Haga. Kamu benar- benar menganggapku sebagai manusia seperti yang lainnya. Sejak itu aku memutuskan untuk menyukai kamu sebagai seseorang yang aku harapkan cintanya. Bukan sekedar teman biasa yang terjalin di antara kita.


Di hari berikutnya, kamu mulai sering mengajakku untuk berjalan- jalan setelah jam kerjaku berakhir di pukul 8 malam. Membicarakan banyak hal di sepanjang jalan dan terkadang berhenti sejenak di taman kota sembari menikmati hembusan angin malam.

“ Naira....” Aku benar-benar terpaku saat suara hangat Haga memanggil namaku. Rasanya pas sekali ketika namaku keluar dari ujung bibirnya. Aku menoleh ke arahnya, dan mencoba mengontrol degup jantung yang semakin menggila jika hanya dengan laki- laki yang kukagumi ini.
Kamu kenapa, Haga? Kalau kamu ada masalah, kamu bisa ngomong sama aku.” Aku menggerakkan isyarat dengan pelan. Agar Haga bisa paham maksudku.

Haga meraih kedua tanganku. Jantungku semakin berdegup tak karuan. Haga mengusap tanganku dengan kedua ibu jari tangannya.
“ Apakah aku masih bisa bertahan di dunia ini?” Haga mengembuskan nafasnya sedikit berat. Lalu menatapku sendu. “ Aku sudah sangat kesepian di dunia ini. Ayah Ibuku bercerai dan menjalani kehidupan baru mereka dengan keluarga baru mereka tanpa mengajakku. Aku sudah sangat menyerah. Aku bekerja tanpa henti dan hanya beristirahat di kafe kamu bekerja dan di flat kecilku. Terkadang awalnya aku tidak mempermasalahkan itu. Tapi, semakin dewasa aku malah semakin hancur....”

Aku mengusap kedua punggung tangan Haga, mencoba memberi banyak kekuatan untuk laki- laki baik ini. “ Haga, lihat aku sebentar....” Aku meminta Haga untuk melihatku. Haga menurut. Dan melihatku dengan seksama.
Kamu tahu kan bagaimana Tuhan membuat skenario hidup manusia dengan begitu detail dan nyata. Tidak semua manusia hidup dengan kebahagiaan saja. Tuhan meracikkan kehidupan pelik yang melengkapi langkah hidup kita. Anggap saja kehidupan pelik itu sebagai tantangan kita untuk menunjukkan pada diri sendiri apakah kita bisa menghadapi masalah itu dengan baik atau tidak. Dan semua alur hidup yang kita lewati selama kita ada di dunia ini pasti ada pelajarannya. Kita bisa ambil hikmah positif nya dan mencoba menerima dengan lapang dada sisanya....” Haga memasang senyum lega setelah melihat gerakan isyaratku dan kembali menggenggam tanganku lagi. Aku menatapnya dengan tenang. Aku mencoba untuk menahan rasa sedihku agar Haga tidak khawatir.

“ Naira....” Haga mendekatkan tubuhnya ke ragaku. Dan seketika aku merasa terkejut saat Haga memeluk tubuhku dengan erat. “ ... Aku bakal menjaga kamu. Orang sebaik kamu harus tetap untuk hidup di muka bumi ini. Kamu jangan takut, ya? Aku tidak bakal jauh- jauh dari kamu. Aku cinta sama kamu.....”

 DEG! 

Dadaku terasa berhenti mendadak. Sebuah penyataan cinta dari Haga yang aku tunggu selama ini. Haga akhirnya mengungkapkan semua itu.
“... sebagai sahabat baru aku.”

Hatiku langsung hancur saat itu juga.


Sudah hampir empat bulan berlalu dan kita menjalani kehidupan sebagai teman dekat sebagai biasanya. Kamu yang selalu datang ke kafe dan bercerita bahwa ada beberapa penerbit besar berminat dengan karyamu. Aku senang mendengarnya. Karena aku pernah membaca beberapa cerita yang ada di blog pribadimu. Rasanya bodoh sekali jika orang- orang tidak mengenal karya- karyamu. 

Sudah seharusnya karya kamu diakui banyak orang, Haga....” Aku memasang senyum tipis setalah mendengar cerita panjang lebar darinya. 

Biasanya aku sangat malas mendengar cerita sepanjang itu dari orang lain. Tapi entah kenapa aku justru sangat bahagia dan bahkan menunggu kamu banyak menceritakan soal hidup kamu.

“ Kamu tahu, Naira? Kalau novel yang akan aku terbitkan nanti adalah cerita yang terinspirasi dari kamu?” Ucap Haga dengan santai. Mataku terbelalak kaget. 
Kisahku? Apa yang dia tulis soal aku di ceritanya? Apakah seorang pria yang jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang barista di kafe disabilitas dan berakhir bahagia? Atau hanya sekedar cerita zona pertemanan antara seorang penulis dengan seorang barista bisu yang hanya berakhir gantung begitu saja?

Apakah aku bisa melihat sedikit cerita kamu itu? Aku tidak pernah melihat cerita seperti itu di blog pribadimu....” Tanyaku penasaran.
Haga hanya menggeleng pelan. “ Ini rahasia. Nanti saat buku itu berhasil diterbitkan, aku bakal kasih novelnya buat kamu plus tanda tangan eksklusif dari aku. Jadi, kamu belum boleh tahu dulu....” Jawab Haga sembari menutup laptopnya.
 Wajahku sedikit kecewa karena Haga tidak memberiku kesempatan untuk melihat ceritanya. Melihat itu, Haga tertawa lepas.
“ Jangan marah dong, Cantik. Nanti beneran aku kasih deh first person buat kamu pokoknya!” 
Janji?” Aku mengulurkan jari kelingkingku ke arah wajahnya. Haga tersenyum. Lalu jari kelingkingnya menyambut uluran jari kelingking, kemudian menautkannya.
“ Aku janji. Tunggu sebentar, ya?”


Sebenarnya aku sangat bahagia saat itu, Haga. Kamu menjadikan aku sebagai tokoh di dalam cerita kamu. Walaupun aku harus patah hati karena kamu hanya menganggapku sebagai teman. Bukan lebih dari itu. Tapi tidak apa. Saat itu aku bersyukur karena aku masih bisa berada di sisimu dengan bebas tanpa rasa canggung atau pun ragu.


Di bulan ke lima, ketika aku sudah sangat dekat denganmu, akhirnya kamu menerbitkan buku pertamamu. Buku yang kamu sebut sebagai karya sederhana dengan kisah aku dan kamu di dalamnya. Aku tersenyum tipis ketika kamu datang ke kafe dengan baju yang sangat formal. Kemeja putih dan dengan lengan yang dilipat 3 kali dipadukan rompi abu- abu. Tak lupa rambutmu yang biasanya berponi kini berubah sedikit cepak. Aku terpaku sejenak. Betapa bodohnya aku karena terlambat menemui manusia se sempurna dirimu.


“ Naira, sesuai janji aku waktu itu. Aku mau kasih novel karya aku ini buat kamu. Langsung dan ekslusif ada tanda tangan aku juga....” Tangan Haga menyodorkan sebuah kotak kado berwarna biru dengan pita hitam sebagai pemanis. Aku menatap kado itu sembari mengangguk pelan.
Terimakasih. Kamu memenuhi janji kita waktu itu. Aku kira kamu akan lupa....” Aku menggerakkan tangan dengan pelan. “ Aku akan membacanya setelah pulang kerja nanti.
“ Jangan hari ini! Kamu bisa membacanya besok aja!” Ucap Haga menginterupsi niatku. 
Kenapa?” Tanyaku mengerutkan kening karena heran.
“ Aku mau mengajak kamu jalan- jalan. Ada satu tempat yang dari kemarin- kemarin aku ingin datangi dengan seseorang. Dan mungkin aku bisa mengajak kamu ke sana. Mau, ya? Nanti aku tunggu kamu selesai kerja.”

Aku sedikit ragu dan juga aneh. Kenapa tiba- tiba Haga ingin mengajakku jalan- jalan? Bahkan pergi ke tempat yang benar- benar ingin dia kunjungi dengan seseorang. Apakah aku benar- benar dijadikan prioritas olehnya?

Oke. Tunggu aku selesai kerja dulu, ya? Kamu mau makan apa dulu? Akun traktir kamu hari ini karna udah ngasih novel kamu ke aku.” Aku tersenyum tipis saat melihat raut bahagia Haga. 

Bersyukurlah Naira! Ini kesempatanmu untuk bisa lebih dekat dengannya!

“ Menu yang biasa aku pesan saja. Aku tunggu, ya?” Haga berlalu menuju meja yang selalu menjadi tempat dia untuk menikmati waktu senja di dekat jendela kafe. Aku membalikkan tubuh dan menyiapkan pesanan Haga dengan segera. 


Jam di monitor komputer kasir menunjuk ke arah angka 19:30, waktunya aku menyelesaikan pekerjaanku dan menutup kafe. Setelah selesai mengunci pintu kafe, aku melihat Haga yang sedang berdiri di dekat lampu hias yang tak jauh dari kafe. Dia tak terlihat lelah. Tapi aku mulai merasakan aneh. Wajah Haga jauh lebih pucat dari biasanya.

Haga?” Aku menepuk bahu Haga pelan. Haga menoleh sebari tersenyum tipis. 

Benar, wajahnya terlihat sangat pucat.

“ Ayo! Kita langsung naik bus saja, ya?” Haga menarik tanganku lembut. Namun aku sengaja tak bergeming di tempat.
Haga? Kalau kamu sakit, kita batalkan saja ya? Wajah kamu pucat sekali....” Tanganku berisyarat dengan wajah khawatir. Haga hanya tersenyum. Lalu menarik tanganku kembali.
“ Aku tidak sakit, Naira. Aku benar- benar ingin jalan- jalan dengan kamu. Jangan karena melihat wajah aku yang kamu sebut pucat ini mengacaukan rencana kita....” Haga menggelengkan kepala dan meyakinkan aku bahwa dirinya baik- baik saja. Aku mengangguk sembari memasang senyum tipis. Dan akhirnya aku hanya mengikuti langkahnya menuju halte yang kebetulan sedang ada bus yang berhenti.

Di sepanjang jalan, kamu mengajakku mengobrol sembari melempar beberapa guyonan konyol. Aku tertawa tak bersuara. Tapi kamu terlihat tidak peduli dan terus melanjutkan bercandaannya. 

Tak terasa bus berhenti di tempat pemberhentian terakhir. Aku baru menyadari jika kamu mengajakku pergi ke festival lampion yang hanya hadir setiap tiga bulan sekali selama dua minggu belakangan ini. 

“ Aku ingin mengajak kamu ke sini. Indah, bukan?” Suara berat Haga membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke arahnya sambil tersenyum.
Terimakasih sudah mengajakku kemari. Senang sekali rasanya bisa datang ke sini dengan seseorang. Biasanya aku pergi sendiri saja....” Aku menggerakkan tanganku sembari menatap Haga. Wajah tampannya begitu bersinar malam ini. Aku benar- benar beruntung bertemu dengannya selama ini.

Kami melanjutkan perjalanan hingga akhirnya sampai di spot utama tempat ini. Ya, festival lampu lampion. Semua orang berlomba- lomba menulis semua keinginan mereka di kertas pelapis lampu lampionnya. Aku melihat Haga yang tengah mengambilkan dua buah lampu lampion dan spidol di kedua tangannya.

“ Kamu bisa menulis keinginan kamu di sini. Mungkin nanti Tuhan melihat tulisan kamu di atas sana....” Haga menyerahkan lampu lampion dan spidol ke arahku. 
Jangan konyol! Mana ada Tuhan melihat tulisan aku di sana?” Aku menggeleng pelan namun tetap saja aku berharap jika Tuhan benar- benar melihat harapan yang aku tulis di lampion ini. 

Kami menulis  semua permohonan yang ada di kepala dengan jarak yang sedikit jauh. Tanpa ragu aku langsung menggores kata demi kata di dalamnya. Aku tersenyum lebar. Doa yang tak muluk- muluk. Hanya keinginan sederhana. Bahwa aku ingin akhir yang bahagia dengan orang yang aku cintai dalam dia ini.

Tuhan, jika tulisanku ini memang sampai di tangan- Mu, aku tak meminta terlalu banyak. Aku hanya ingin kebahagiaanku dengan Haga. Aku ingin Haga mengetahui perasaanku. Aku ingin bersamanya. Jangan pisahkan kami ya?’

Haga menghampiriku dan menunjuk lampu lampion yang sudah ditulis nya.

Kamu nulis apa, Haga?” Tanyaku penasaran. Haga menggelengkan. Dan itu membuatku bingung.
“ Rahasia. Cuma aku sama Tuhan yang tahu. Nanti kamu juga bakal tahu, kok! Tapi bukan sekarang....” Haga membantu menyalakan lampu lampion kami. Seketika lampu lampionnya mulai terbang perlahan meninggalkan kami. Merangkak naik tanpa rasa takut diterpa angin. Aku menoleh ke arah Haga yang tengah menatapku sambil tersenyum. Bahagia sekali rasanya. Aku harap ini bisa terulang kembali.

Tapi aku tidak menyadari bahwa tidak akan ada pertemuan lagi setelah festival lampion itu. 



Esok harinya, ketika aku bekerja seperti biasa, aku tidak menemukan batang hidungmu di setiap sudut kafe. Aku tidak melihatmu duduk di tempat biasanya. Hingga senja mulai menunjukkan eksistensinya di ujung langit, aku tak kunjung melihat kehadiranmu. Aku mulai menyesali banyak hal sejak itu. Mengapa aku tidak meminta kontakmu agar aku mudah menghubungimu. Mengapa juga aku tidak meminta alamat rumahmu agar aku bisa mengunjungimu jika aku ada luang. Bodoh, Naira! Karena cinta buta, semuanya akan terlupakan, bahkan sekedar menyadari hal- hal kecil seperti itu.

Hingga di bulan ke enam, kamu benar- benar tidak pernah mengunjungi kafe. Aku mulai menjadi uring- uringan. Pekerjaanku kacau. Aku kerap melamun. Dan semua mood ku hancur karena kepalaku terlalu sibuk menanyakan keberadaanmu yang menghilang bak ditelan dalamnya bumi. Haga, sebenarnya niatmu untuk mendekatiku itu untuk apa? Rasanya sia- sia saja jika pada akhirnya kamu pergi dan memberi cinta sekaligus luka dalam waktu bersamaan.

Aku mencoba untuk menenggelamkan pikiranku dengan bekerja. Beruntunglah kafe  tidak pernah sepi pembeli. Pasti ada saja yang datang yang untuk sekedar minum kopi atau mengerjakan beberapa pekerjaan mereka. Jadi aku bisa mengerahkan semua pikiran dan tenaga untuk pekerjaanku.
Semuanya seperti terasa mudah. Perlahan aku tidak terlalu memikirkan soal keberadaanmu sekarang. Walaupun ada sedikit pikiran yang masih mengganjal. Tidak apa. Aku masih bisa menanganinya. Karena aku percaya kamu akan datang dan memenuhi sisa janji- janji kamu yang belum sempat ditunaikan.



“ Kamu Naira, kan?” Aku mendongak pelan saat suara berat seorang pria yang tidak aku kenali tiba- tiba sudah berdiri di depan meja kasir. 
Aku menyipitkan mata. Bagaimana dia bisa tahu namaku? Apakah dia mempunya niat jahat.
“ Jangan berpikir negatif dulu. Aku gak akan berbuat aneh- aneh....” Seolah mendapat jawaban dari yang aku pikirkan tentang pria di depanku ini, dia hanya memasang senyum canggung. “ Aku ingin bicara sebentar dengan kamu. Bisa?” Lanjutnya dengan raut memohon. Aku mengangguk pelan sembari bersikap sedikit waspada, takut- takut dia akan melakukan sesuatu yang buruk nantinya. 


Kami duduk berhadapan di meja yang biasa Haga tempati. Untunglah kafe sedang kosong. Jadi aku bisa mengetahui maksud kedatangan pria asing ini.

“ Kenalin sebelumnya, aku Barly. Sepupu dekat Haga....” Mataku membola sempurna saat nama Haga terucap dari ujung bibir pria itu. Apakah kedatangan dia kemari untuk memberitahu keberadaan Haga?

Aku buru- buru mengambil buku kecil di balik saku celemek depan untuk menulis beberapa kata untuk menjawab ucapan Barly.

“ Aku paham bahasa isyarat. Aku bekerja sebagai guru bahasa isyarat di SMA khusus disabilitas. Kamu gak perlu keluarin kertas itu untuk menulis. Karena aku tahu itu akan membuang waktu dan kamu pasti udah sangat penasaran soal keberadaan Haga sekarang, kan?” Barly menggerakkan tangannya untuk mengisyaratkan setiap ucapan yang dia ungkapkan. 
Terimakasih, Barly. Tapi bagaimana  kamu tahu soal aku adalah seorang tuna wicara?” Tanyaku dengan wajah penasaran. 
Barly menatapku intens dan tersenyum tipis. 
“ Haga banyak nyeritain tentang kamu ke aku. Kalian bertemu di kafe ini. Haga juga menyelesaikan beberapa karya tulisnya di sini. Makanya aku tahu tentang kamu....” 
Bagaimana kabar Haga sekarang? Sudah dua bulan lebih ini dia tak pernah datang ke kafe ini lagi. Apa dia sibuk sekarang?” Sungguh aku sudah sangat mati penasaran untuk mengetahui kabar Haga sekarang. Walaupun aku mencoba untuk melupakannya, tetap saja ada setitik tempat untuknya.

Senyum Barly perlahan luntur setelah sesaat aku menanyakan Haga kepadanya. Aku melihat gerak- gerik Barly yang tiba- tiba membuka tas ransel di kursi sebelahnya dan mengeluarkan sebuah buku. Dengan pelan ia menyodorkan ke arahku.

“ Haga menitipkan ini sebelum akhirnya dia memutuskan untuk menyerah dengan kehidupannya....” Barly menatapku dengan raut sedih. Aku semakin tak paham. Apa maksud dari semua ini? Kenapa ucapannya seperti isyarat jika terjadi sesuatu yang buruk pada Haga.
“ Haga meninggal, Naira. Kanker otak. Dia udah nggak sanggup nahan sakitnya lebih lama lagi.”

 Seketika, pikiranku kosong begitu saja. Haga menghilang karena sakit yang dia tahan selama ini? Tapi kenapa?

Kamu jangan bohong, Barly! Jangan anggap kematian sebagai candaan! Kasih tahu aku dimana Haga sekarang?!” Aku berdiri dengan rasa tak karuan. Duniaku bahkan lebih hancur dari ekspetasiku.

 Kepergian Haga yang semula aku anggap karena kesibukannya. Tapi kenyataannya Haga lebih ingin menghampiri Tuhan dan memilih hidup bahagia di surga.

“ Buat apa aku berbohong soal ini, Naira? Aku bahkan baru bisa menghampiri kamu setelah dua minggu kepergian Haga....” Mata Barly menatap lembut ke arahku. Fakta apa lagi yang baru terungkap sekarang? Sudah dua minggu Haga meninggal dan aku baru mengetahuinya? Aku menutup kedua netraku bersamaan dengan rembasnya air mata di pipiku.

 Tuhan, kenapa Engkau jahat sekali padaku? Baru saja aku merasakan sebuah kebahagiaan yang belum pernah aku dapat sepanjang hidup dari seorang pria yang datang membawa janji- janji manis dan hangatnya, namun Engkau sudi mengambil nyawanya dariku!

“ Haga minta aku untuk kasih buku dia untuk kamu. Isinya semua yang terkait dengan kamu. Semua perjumpaan kalian dia tulis rapi di buku ini....” Barly ikut berdiri dan menatapku nanar. “... sampai nafas terakhirnya, dia masih sempat menulis pesan terakhirnya walaupun tangannya sudah sangat berat untuk bergerak. Aku harap kamu bisa mengikhlaskan kepergian Haga, Naira....” Aku meraih buku itu dengan gemetar hebat. Rasanya ini seperti mimpi.

  Seseorang tolong katakan bahwa itu hanya mimpi, kan?

“ Buku itu udah jadi hak milik kamu. Kamu bisa lihat semua isi buku dia. Kalau kamu dirasa udah siap untuk datang ke makam Haga, tolong kasih tahu aku, ya?” Barly mengeluarkan kartu nama di dompet hitamnya. “ ... Aku bakal temenin kamu ke sana. Jangan sungkan.”

Aku hanya terdiam. Karena aku tidak begitu yakin apakah aku benar- benar siap melihat pusara dengan tubuh tenang Haga di dalamnya.

Haga, kamu benar- benar membuat kehidupanku hancur melebihi ekspetasiku sendiri.



Keesokkan harinya, aku memutuskan untuk mengambil cuti kepada pemilik kafe untuk berdiam diri di rumah. Merenungi semua rasa sakit yang semakin teriris ketika aku melihat isi novel karya Haga yang baru aku baca sekarang. Betapa besarnya rasa kagum Haga terhadapku dan membuatnya terpacu untuk sakit dari penyakit yang sudah menggerogoti otak dan anggota tubuh lainnya. Semua janji- janji yang tertuang di novel itu persis seperti ucapan Haga padaku. Walaupun terbersit rasa salah yang besar karena dia tak bisa menjamin kehidupannya akan panjang tanpa penyakit kanker otak yang mendampinginya. Dadaku rasanya sesak sekali. Mataku sudah sangat sembab karena air mataku terkuras habis di hari kemarin. 

Dengan langkah gontai, aku meraih buku jurnal milik Haga yang diberikan Barly di meja rendah di samping lemari pakaian. Aku sudah membaca lembar demi lembar jurnalnya. Merasakan tekstur tulisan Haga yang begitu rapi. Semua perjuangan hidupnya. Saat titik balik kehidupannya pasca perceraian kedua orang tua nya, ketika rasa sakit yang begitu hebat dikepalanya berakhir diagnosis kanker otak stadium pertama, pengobatan yang selalu ia lewati karena efek jangka panjangnya berakhir menyakitkan. Pertemuannya denganku di kafe “ Tuli” , rasa cinta yang tumbuh di hatinya, motivasinya untuk sembuh dari penyakit mematikan itu dan pertemuan- pertemuan selanjutnya, dan berakhir pada tulisan satu bulan sebelum ia meninggal, ia memutuskan untuk kembali berobat dengan metode kemoterapi. Namun, rasa sakitnya mengalahkan semua kekuatan fisik yang dikerahkannya hingga ia mengibarkan bendera putih untuk menyatakan kekalahan kepada kehidupannya sendiri.

Aku melihat tulisan terakhir Haga yang mulai tak terbaca jelas karena perjuangan menahan rasa sakit di kepalanya membuat aku tertegun sekaligus merasa semakin sakit. Tak bisa membayangkan betapa Haga ingin menuliskan pesan terakhirnya dengan sisa tenaga yang masih ada.


Naira, setelah kamu menerima buku jurnal pribadiku dari sepupuku, Barly, aku harap kamu mengerti dengan alasanku untuk tak mengabarimu kembali setelah festival lampion yang kita datangi waktu itu. Karena setelah mengantarmu pulang ke rumahmu, aku mengalami mimisan hebat, tubuhku lemah dan tak bisa bergeming di tempat aku berdiri saat itu. Hanya Barly yang bisa aku hubungi dan aku meminta ia menjemputku di halte dekat rumahmu dan membawaku ke rumah sakit. Dokter mendiagnosa kembali jika kankerku sudah menginjak stadium akhir. Aku harus melakukan kemoterapi. Dengan segala resiko besar dari efek kemoterapi itu, aku harus menerimanya. Salah satunya bahwa ingatanku perlahan akan hilang satu per satu. Aku tidak akan masalah dengan itu. Asalkan aku bisa tetap hidup dan selalu berada di sekitarmu. Walaupun aku sudah berada di kondisi yang membaik. Tidak akan mengingatmu sebagai wanita satu- satunya yang aku cintai. Tapi mungkin saja kita bisa kembali bertemu dan saling jatuh cinta pada akhirnya, kan? Aku harap kamu mengerti itu, Naira.

Awal pengobatanku berjalan dengan lancar. Dokter hilang sel kanker yang berkumpul di area dekat batang otakku mulai menghilang perlahan. Senang sekali aku mendengar pernyataan itu. Dan aku semakin yakin bahwa aku akan segera sembuh, lalu menemuimu untuk merangkai kisah romansa hingga hanya Tuhan yang berani memisahkan kita.
Tapi, beberapa hari beselang setelah dokter berkata bahwa aku sudah mulai sembuh dari kanker, tiba- tiba tubuhku mengalami drop luar biasa. Tubuhku semakin sakit. Rambutku sudah semakin menipis. Beberapa kali aku melihat Papa dan Mama yang tak berhenti memanggil dokter untuk memeriksa kembali kondisiku. Sayang sekali, Naira. Tuhan masih memberiku ujian lebih dari kemarin. Sel kankerku kembali menjalar di sekitar batang otakku. Dan jumlahnya lebih parah dari awal pengobatan. Aku memilih pasrah. Mungkin kematianku sudah menunggu di ujung jari. Aku sudah menyerah, Naira. Karena tubuhku benar- benar sudah tidak bisa menahan sakit lebih lama lagi.

Naira, aku minta maaf. Aku tidak sempat memberitahu kondisiku kepada kamu. Aku takut kamu akan sedih dan merasa iba padaku. Aku memilih untuk menghilang dari pandanganmu agar kamu kembali terbiasa tanpa aku. Maaf aku tidak sempat menyatakan perasaanku. Bahwa aku benar- benar mencintaimu sebagai seseorang yang spesial, bukan sekedar teman biasa.
Aku meminta Barly untuk mengawasimu dari jauh saat aku sedang di rumah sakit. Kamu terlihat sering melamun. Kamu mulai uring- uringan. Kamu pasti sangat kebingungan ya kenapa aku tiba- tiba menghilang? Maaf, Naira. Aku kira kamu tidak akan se khawatir itu terhadapku.

Lanjutkan hidup kamu, Naira. Kamu tidak perlu menangisi kepergian aku. Jika kamu sidah terlanjur menangis, cukup satu hari saja. Besok kamu harus kembali ceria dan menjalani hidupmu dengan tenang. Cintai pria yang bisa menerima semua kekuranganmu tanpa syarat. Buka hatimu untuknya. Dan simpan aku sebagai sebagian kenangan yang pernah menghiasi langkah kakimu. Aku akan mengawasimu dari langit. Kalau kamu sedih, aku akan meminta Tuhan untuk menurunkan hujan jika kamu tidak menuruti permintaanku.

Naira, sampai jumpa di kehidupan selanjutnya. Jika itu terjadi, aku akan meminta Tuhan untuk mempertemukan kembali denganmu. Walaupun hanya berakhir sepeti orang asing yang tak sengaja bertegur sapa.

Aku mencintaimu, Naira.

Dari Haga Bagaskara.


Aku menutup halaman terakhir dari jurnal terakhir milik Haga. Aku menarik nafas begitu banyak. Mencoba kembali mengikhlaskan kepergian seorang pria yang teramat sangat aku cintai. Aku memeluk buka jurnal dengan warna coklat musim semi itu di dadaku. Aku begitu merindukan sosok pria hebat bernama Haga Bagaskara. 

‘ Haga, aku akan mencoba kembali melanjutkan hidupku demi dirimu. Tolong awasi aku selalu dari ujung langit di sana, ya? Jika aku merindukanmu, jangan memarahiku dan meminta Tuhan untuk menurunkan hujan. Aku janji tidak akan menangis lagi jika aku merasa merindukanmu. Aku janji.’

Haga, sudah satu tahun setelah kepergian mu, aku baru berani mengunjungi pusaramu senam bulan belakangan ini. Aku hanya berdiam diri di samping gundukan rumah barumu, sembari mengusap nisan yang bertuliskan namamu. Di setiap senja hendak datang, aku selalu berada di sini untuk melepas rindu. Tidak apa, kan? 


“ Sayang, kamu udah selesai ngobrol sama Haga nya?” Ucap seseorang sambil menepuk bahuku pelan. Aku menoleh dan tersenyum tipis diiringi anggukan pelan. Aku berdiri dan memeluk tubuhnya dengan erat.

“ Kalau masih ada yang mau diobrolin, aku tunggu lagi di sana, ya?” Dagunya menunjuk ke arah bangku taman dengan berpayungkan pohon rindang. Aku menggeleng pelan dan menghirup aroma parfum yang melekat pada tubuhnya. Begitu menenangkan. Sosok yang sudah banyak membantuku untuk belajar mengikhlaskan sesuatu dan membuka hati untuk menyambut kehidupan baru. Dan tentunya dia dan keluarga besarnya mencintaiku tanpa syarat.
 
‘ Haga, kini aku diperistri oleh sepupumu sendiri, Barly. Dia yang begitu sabar menghadapiku dan bersedia menunggu agar aku bisa terbiasa hidup tanpa kamu. Dia orang yang sangat hebat. Terimakasih sudah mengirimkan malaikat yang akan menemaniku sehidup semati nantinya.’

“Kalau gitu, ayo kita pulang. Mama udah nungguin menantu kesayangannya buat masak menu baru hari ini. Mama sama Papa udah marah- marah karna aku jarang berkunjung ke rumah bareng si menantu kesayangan mereka ini....” Barly mengusap pucuk kepalaku dengan lembut kemudian mencuri satu kecupan di bibirku. Aku hanya menunduk malu saat suamiku ini menunjukkan bahasa cintanya tanpa ragu.

 Aku meraih tangan besarnya dan merangkumnya di telapak tanganku yang kecil. Kami melangkahkan kaki meninggalkan pusara Haga dengan membawa rasa lega dan lepas.

“ Nanti kalau mau ziarah lagi, kasih tahu aku, ya? Biar aku nemenin kamu lagi....” Ucap Barly sambil mengusap tanganku. Aku mendongak menatap tubuh jangkung Barly yang tingginya begitu jauh dengan tubuh mungilku.
Oke, Sayang. Makasih untuk hari ini dan seterusnya. Sebuah kebahagian tak terhingga aku bertemu malaikat sepeti kamu. Aku sayang kamu....” Tanganku bergerak untuk mengungkapkan isi hatiku. Senyum Barly semakin melebar setelah membaca isyarat pada kata terakhirku.
“ Aku lebih menyayangi kamu dari hidup aku sendiri....” Tangan Barly juga ikut berisyarat pelan dan jawabannya sekali lagi membuatku tersipu malu.




Haga, terimakasih sudah pernah hidup di seratus delapan puluh pertemuan kita. Dari kamu aku belajar banyak hal. Cinta, kesetiaan, janji, sabar dan ikhlas. Meski kini kamu begitu nyaman mengawasiku dari langit, kisah enam bulan kita akan tetap memiliki tempat tersendiri di sudut hatiku sebagai kenangan yang pernah menemani langkah hidupku. Sampai bertemu lagi di kehidupan selanjutnya. Entah itu akan bertemu sebagai orang asing, atau kembali terjebak pada kehidupan romansa tanpa rasa di dalamnya.


                               _ πšƒπ™·π™΄ 𝙴𝙽𝙳 _

Komentar

Postingan populer dari blog ini

π™ΊπšŽπš™πšžπšπšžπšœπšŠπš— πšŠπš”πšž πš’πšœπšπš’πš›πšŠπš‘πšŠπš πšπšŠπš›πš’ πšœπš˜πšœπš’πšŠπš• πš–πšŽπšπš’πšŠ

πš„πš—πšπš’πšπšπš•πšŽ

πšƒπš’πšπš’πš” π™½πšŠπšπš’πš›