π™·πšŠπš›πš’ π™°πš’πšŠπš‘ πš’πšŠπš—πš πšƒπšŠπš” π™Έπšœπšπš’πš–πšŽπš πšŠ

Ring ring ring. 


Jam digital yang bertengger di samping nakas ranjang ku mulai mengarah ke angka 7. Ini sudah pagi, ternyata. Padahal aku baru saja tertidur 3 jam yang lalu. Aku mengusap mataku perlahan. Nyawaku belum terkumpul sepenuhnya. Tapi, kepalaku sudah berdering mengingatkan beberapa deadline pekerjaanku yang ku pantau dari rumah.

Aaaarrrrggggghhhh hoooaaammmm! 

Ku regangkan kedua lenganku ke arah atas, men streching kan beberapa otot tubuhku nyang tegang setelah tertidur. Aku melangkahkan diri ke arah kamar mandi untuk mencuci muka bantal ku. Hari ini mungkin hanya menu roti oles coklat saja sebagai sarapan ku. Beberapa bahan makanan sudah mulai menipis, namun aku malas untuk sekedar berbelanja ke minimarket yang jaraknya hanya 5 menit berjalan kaki. Sungguh! Aku tak punya banyak tenaga untuk sekedar mengambil sebungkus chiki favoritku di antara berjajaran rak minimarket itu. Makanya, 2 helai roti tawar ini adalah penyelamat ku hari ini. Terimakasih sudah menyelamatkan lambung ku dari suara demo asam lambung, roti tawar dan selai coklat favoritku! 

Setelah mengoles sisi bawah roti tawar itu, aku langsung menyantapnya dalam diam. Suasana nya begitu hening, dan mungkin sedikit hampa. Tak terdengar suara riuh anak- anak sekitar flat ku yang bersahutan untuk berangkat ke sekolah bersama. Atau kumpulan ibu- ini yang bergosip ria sembari berbelanja di Mang Ayok, tukang sayur langganan kompleks perumahan ini. 

Aku melihat beberapa daftar deadline yang harus diselesaikan hari ini. Untung saja bos di tempat ku bekerja memberikan waktu yang cukup panjang untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan hari ini. Mungkin, sekedar bersantai di kedai ice cream di jantung kota bisa menjadi opsi yang paling bagus. 

Hana, dul, set, net. 
Left and right, left and right, left and right. 
Seventeen, ha!

Dering tanda panggilan masuk dari handphone membuyarkan lamunanku. Kulirik dengan malas ke arah layar yang menampilkan nama Mbak Sonya, rekan kerja ku yang kebetulan hari ini jadwal dia Work From Office. Seperti nya dia lupa jadwalku minggu ini adalah Work From Home. 

" Assalamu'alaikum, Mba Sonya. Kenapa nih? " Tanyaku dengan suara sedikit sengau karena memang sejak bangun tidur tadi aku tidak mengatur suaraku. 

" Waalaikumsalam. Trish, sorry banget aku ganggu waktu kamu. Aku mau nanyain berkas terakhir yang kamu revisi buat meeting sama PT. Agashantika di file mana, ya? " Jawab Mbak Sonya dengan suara sedikit panik. Ya Allah! Aku lupa ngasih tau Mbak Sonya soal berkas itu! 

" Duhhhh aku lupa ngabarin kamu, Mbak! Maaf banget deh! " Aku menepuk dahi ku dengan agak keras. "..., file nya ada di Data E, terus aku udah tulis nama folder nya atas nama PT. Agashantika. Semua nya udah aku revisi. Mbak Sonya bisa cross check lagi deh takutnya ada beberapa poin di slide presentasi nya yang kurang. "

" Oke oke. Bentar dulu, ya? Aku cari file nya. Jangan dimatiin sambungan teleponnya. Biar langsung aku cross check takutnya ada beberapa yang belum aku cek.... " Suara ketukan keyboard Mbak Sonya mulai terdengar. Mungkin sedang mengecek hasil revisiku minggu kemarin. Aku menunggu sembari melahap potongan terakhir roti oles ku. 
 " Trish, file nya aman. Dan revisi nya pun udah sesuai. Makasih banyak, ya? Maaf banget malah ganggu waktu santai kamu. Panik banget soalnya Pak Bashkara minta file itu pas aku baru dateng banget . Hehehehe. "  Kepala ku refleksmenggeleng maklum mendengar keluhannya di pagi ini. 

" Sama-sama, Mbak. Sorry juga aku malah nggak ngabarin Mbak Sonya. Malah jadi panik banget yaa padahal masih pagi. " Aku tertawa tipis dengan jari telunjuk mengetuk meja makan. " Selamat bekerja kalo gitu, Mbak! "

" You too, Trish! Makasih yaaa. Assalamu'alaikum. "

" Okay. Waalaikumsalam. "

Bip! 

Aku mematikan sambungan telepon dan langsung beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Mungkin aku akan keluar rumah pukul 11 siang saja, biar sedikit santai. 

Butuh waktu setengah jam sampai aku selesai membersihkan diri dan memakai baju yang santai. Kaos oversize polos warna biru langit dan celana jeans biru dongker menjadi outfit  ku hari ini. Aku mencepol rambut se bahu ku dan mulai sibuk merapikan dan membersihkan flat yang sempat kacau karena membereskan proyek buku ceritaku yang akan rilis dalam waktu dekat ini. 

Aku menyapu setiap sisi rumah kecil ini. Memastikan tidak ada debu atau mungkin sisa makanan yang tumpah saat aku makan. Mengepel, laku mengelap beberapa meja dan lemari pakaian yang ditempeli debu tipis. Aku sedikit benci dengan debu, karena membuatku alergi parah jika sampai aku terhirup debu. 

Aku membuka jendela depan dan dapur agar sirkulasi udara segar masuk ke dalam ruangan. Aku mencuci piring dan gelas kotor di wash disher. Syukurlah! Rumah sudah mulai bersih dan saat nya aku bersiap pergi ke kedai ss krim yang sedang ramai dibicarakan orang- orang di sekitar rumahku karena di kenal enak. 

Hello, Dear! You have a new massage! 

Aku mengambil handphone yang tersimpan di atas meja makan dan melihat notifikasi chat dari Banyu, teman sekolahku dulu. 

Banyuuuuuuuu
Kamu di flat kah? 
Sore ini sibuk ngga? 
Kulineran, yuk? Aku traktir kali iniπŸ˜†

Me
Ada kok. Tapi bentar lagi aku ke kedai es krim di kota. 
Sore aku free kok. 
Tumben, dalam rangka apa nihh traktir aku? 

Banyuuuuuuuuu
Aku udah lama ngga meet up sama kamu. 
Sklian mau curhat sama minta pendapat. 
Lebih enak langsung ga sihh ngobrol nya? 

Me
Okay boleh boleh😁
Kamu kabarin aja yaa jam brapa kita ketemu nya. 

Banyuuuuuuuuu
Okay. See you at afternoon, yaakkπŸ‘‹πŸ»

Me
OkayyyπŸ˜‚

Aku kembali ke kamar dan mulai merias tipis wajahku agar tak terlalu pucat dan kantung mataku tak begitu tampak gelap. Kali ini warna nude di bibirku tak begitu buruk. Perfect! 

Waktu sudah menunjuk ke angka 10.05 saat aku keluar dari flat. Aku memastikan kembali tidak ada yang tertinggal kali ini. Tas ransel dan laptop sudah ada. Headphone juga sudah bertengger di kepalaku. Rambutku sudah dirapikan dengan model pony tail. Okay okay jangan tunda- tunda waktu lagi sebelum matahari naik ke arah jam 12! 

" Mbak Trisha, kan? " Aku mengangguk pelan saat driver G*** berhenti di depanku. Segera aku pakai helm yang diberikan driver ojek online itu dan duduk di kursi penumpang. Setelah dirasa sudah aman, kendaraan roda dua itu melaju menuju tempat tujuanku kali ini. 

15 menit berlalu dan aku sudah tiba di kedai es krim yang kumaksud tadi pagi. Setelah memberikan helm pada driver dan memastikan aku sudah membayar menggunakan e- wallet, aku mengucapkan terimakasih dan berpedan agar hati- hati di jalan kepada driver ojol tadi. 

Aku berjalan dengan santai ke arah pintu masuk kedai itu. Suasana nya sedikit ramai, tapi bukan yang begitu membludak. Masih aman untuk aku bersantai dan mengerjakan pekerjaan ku di lantai dua kedai. Ku hampiri meja kasir untuk memesan menu favoritku. 

" Selamat siang, Kak? Mau pesan menu yang mana? " Sapa kasir perempuan itu dengan sedikit ramah. Aku tersenyum tipis sembari memperhatikan beberapa menu yang tak jauh dari arah pandanganku. 

" Aku mau lemonade zest tea normal ice sama sundae fiesta chocolate nya satu, ya?" Jawabku sambil menunjuk ke arah dua menu yang kuinginkan. 

" Oke, Kak. Aku ulang lagi ya, Kak. Lemonade zest tea normal ice sama sundae fiesta chocolate nya satu. Ada tambahan lagi, Kak? "

" Udah. Itu aja, Kak. "

" Dine in kan, ya? Nanti aku anter ke atas ya, Kak? Atas nama siapa?" 

" Trisha. Makasih banyak ya, Kak. "

" Sama- sama. Mohon ditunggu sebentar, ya? " Aku mengangguk pelan dan berlaku menuju lantai dua kedai. Sedari tadi aku memperhatikan banyak orang tua membawa anak nya untuk jajan es krim juga di sini. Seperti nya ada acara istimewa sehingga mereka bisa kumpul keluarga hari ini. 

Tapi, perayaan istimewa apa yang mereka rayakan, ya? 

Masalahnya bukan hanya 1 keluarga saja, tapi banyak sekali keluarga yang berkumpul di sini. Saat aku sedang memesan pun, di belakangku ada sepasang suami istri bersama anak laki-laki- laki berusia sekitar 4 tahunan di gendongan Ayahnya. Kenapa aku tiba- tiba bingung sendiri? 

" Atas nama Kak Trisha? " Lamunanku teralihkan oleh suara pelayan yang tadi ku lihat di dekat meja kasir tadi. Wajahnya sedikit bingung tetapi tetap terlihat ramah. Aku mengangguk pelan dan membantu memindahkan pesanan kusen dari nampan ke meja tempatku. 

" Kak, sorry. Aku mau nanya. Tumben banget yaa banyak keluarga lagi ngumpul. Emang ada perayaan apa, ya? "

" Ooohhh. Hari ini tuh ada perayaan Hari Ayah Nasional, Kak. Di kedai kami itu ada promo spesial Hari Ayah selama satu minggu ini. Makanya agak rame dari biasanya.... " Jawab pelayan itu dengan nada santai. 

Ah, Hari Ayah rupanya. 

" Oalah. Ternyata sekarang Hari Ayah, ya? " Gumamku dengan kikuk. " Yaudah. Makasih ya, Kak. "

" Sama-sama. Selamat menikmati, Kak. " Pelayan itu pamit undur diri dari tempatku duduk. 

Aku mengeluarkan laptop dari tas ransel ku dengan pelan. Hari Ayah. Sudah begitu lama aku tidak merasakan perayaan dan bentuk apresiasiku kepada Papa. Sudah 13 tahun berlalu, aku sudah kehilangan figur seorang Ayah. Aku tumbuh tanpa peran dan campur tangan Papa. Aku terbiasa hidup bersama Mama, dua kakak dan adikku selama ini. 

" Selamat Hari Ayah, Bapak! " Kepalaku memutar ke arah kiri. Aku melihat seorang anak perempuan yang begitu bersemangat memberikan suapan pertama es krim coklat kepada Bapaknya. 
" Terimakasih ya, Sayang. " Bapaknya melayangkan kecupan ringan di pipi anak kecil itu. Mereka berpelukan bertiga, mengajak sang Ibunya juga. Senyumnya begitu lebar. Tanda bahagia. 

Miris. Aku bahkan tak sempat merasakan pelukan terakhir Papa sebelum di panggil ke pangkuan Allah. Dadaku seketika sedikit nyeri. Ternyata, aku belum menerima semua kenyataan yang ku hadapi selama ini. 

Aku kembali mengarahkan pandangan ku pada laptop yang baru menyala. Layar desktop yang menampilkan sketsa Papa yang pernah aku buat saat SMA dulu terpajang jelas. Aku menghela nafas sejenak. Ku sandarkan punggungku ke kursi. Pikiranku kosong. Seketika tidak bisa berpikir apapun. 

13 tahun, bahkan aku masih berkabung atas kepergianmu, Pa. 13 tahun, bahkan aku menjadi satu-satunya yang belum menerima kepergianmu. Rasanya seketika dunia aku berputar terlalu cepat . Seolah kabar itu adalah sebuah kebohongan kecil untuk mengerjai ku. Pa, aku menjadi satu-satunya anakmu yang masih diselimuti kabut berkabung. Dunia aku pun masih belum kunjung terang. Semua yang aku lihat sejak saat itu hanyalah gelap dan sesak. Aku sudah mengabulkan permintaan mu untuk masuk 3 besar saat kenaikan kelas 4 saat itu. Aku sudah kabulkan, Pa. Tepat sebulan setelah Papa pergi, aku masuk tiga besar, sesuai keinginan Papa. Tapi sayang, Papa tidak bisa melihat itu, kan? 

Pa, bahkan setelah Papa meninggal, aku tak pernah merayakan Hari Ayah. Aku hanya merayakan Hari Ibu di bulan Desember untuk Mama. Tapi kali ini, aku menaruh iri pada anak perempuan yang duduk di seberang kiri ku. Dia bisa mengucapkan langsung di hadapan sang Bapak untuk perayaan Hari Ayah. Tapi, aku di sini, hanya diam menatap potretmu di layar laptopku. Dengan segudang penyesalan atas semua hal yang aku lakukan telah menyakitimu. Untuk mengatakan cinta padamu saja aku malah gengsi. 

Dan kali ini, dalam lubuk hati kecilku yang belum pulih jua, aku akan mengatakan semua nya. Segala ucap kata yang belum terlampir di ujung bibirku. Tertahan karena gengsi ku yang setinggi gunung berapi ini. Aku bakal bilang, 

Selamat hari Ayah, Pa. Trisha sayang Papa. Untuk di masa lalu, kini, dan mendatang. Papa akan selalu menjadi first love Trisha. I love you so much, Pa. Rest well in peace in heaven, Pa. 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

π™ΊπšŽπš™πšžπšπšžπšœπšŠπš— πšŠπš”πšž πš’πšœπšπš’πš›πšŠπš‘πšŠπš πšπšŠπš›πš’ πšœπš˜πšœπš’πšŠπš• πš–πšŽπšπš’πšŠ

πš„πš—πšπš’πšπšπš•πšŽ

πšƒπš’πšπš’πš” π™½πšŠπšπš’πš›