ππ ππππ ππππͺππ£ππ, ππ ππππ πππ£π₯ππππ
Setiap tahun, ketika usiaku bertambah angkanya, aku sering sekali merenungi banyak hal.
Mempertanyakan soal eksistensi ku untuk menjadi salah satu umat manusia yang hidup di muka bumi ini.
Kenapa aku terlahir.
Kenapa aku dititipkan kepada keluarga ini.
Kenapa aku bisa bertumbuh.
Kenapa aku bisa berjalan dengan kakiku sendiri.
Kenapa aku bertumbuh di keluarga dengan didikan keras.
Kenapa aku harus merasakan hancurnya ditinggal oleh Ayahku.
Kenapa aku harus bertumbuh dewasa di usia yang bahkan baru saja menginjak angka 11.
Kenapa aku menjalani hari- hari sulit dengan banyak pasang mata yang menatapku begitu menjijikkan.
Kenapa aku bisa begini.
Kenapa aku bisa begitu.
Dan kenapa, aku bisa bertahan sampai titik ini.
Hidupku, dilingkupi banyak pertanyaan yang bahkan aku sendiri saja bingung kenapa kepalaku bisa mempertanyakan itu semua.
Di setiap langkah, aku selalu dihadapkan dengan banyak kebingungan.
Rasa penasaran, rasa senang, rasa sedih, hancur, kecewa, kacau, dan perasaan- perasaan lainnya yang hadir silih berganti.
Semua pertanyaan dan perasaan yang memelukku satu per satu ini tak bisa mendapatkan jawaban pasti dari orang-orang orang di sekitarku.
Terkadang, aku menghibur diriku sendiri dengan menjawab semua pertanyaan yang bergumul di kepala seadanya saja.
Aneh, ya?
Tapi, itu lah aku dengan semua kebingungan hidup yang harus aku jalani.
Karena sudah terbiasa bertanya dan menjawab semua persoalan itu seorang diri, aku membuat benteng hidupku, menciptakan duniaku sendiri, dan mengasingkan diri dari kerumunan manusia itu.
Aku sendiri. Dan aku harus terbiasa dengan hal itu.
Aku terbiasa sendiri.
Sehingga orang enggan dekat denganku.
Aku begitu aneh, dan juga menakutkan.
24 kali aku meminta Tuhan untuk mengembalikanku ke sisi- Nya.
Tekanan yang aku jalani di muka bumi ini tak sanggup aku tahan.
Keberadaanku adalah beban untuk orang lain.
Keberadaanku adalah hama untuk orang lain.
Keberadaanku adalah awal kehancuran bagi orang sekitarku.
Keberadaanku membuat orang lain membenciku.
Bukan hanya mereka saja, tapi aku pun begitu.
Aku, membenci diriku sendiri.
24 kali hatiku meraung ingin pulang kepada Tuhan.
Aku tidak sanggup menanggung semua rasa sedih yang aku sembunyikan di balik raut datarku.
Aku tidak sanggup menampung luka dan kesedihan yang ku hadang setiap harinya.
Aku tidak mampu menahan semua rasa sakit yang orang- orang torehkan secara tak sadar ke lapisan jantungku.
Aku tidak sanggup menahan laju air mata di ujung mataku ketika manusia lain secara terang- terangan membenciku.
Aku berusaha untuk mengatakan fakta, tapi mereka menganggapku sebagai pengacau.
Aku berusaha untuk berbaur dengan mereka, tapi yang kudapatkan berupa pengabaian dan tatapan dingin mereka.
Aku begitu benci dengan diriku sendiri.
Sehingga setiap mataku terpejam untuk beristirahat, doaku tidak jauh dari kalimat
" Bawa aku kembali ke sisi- Mu, Tuhan. "
24 kali, Tuhan masih memberiku kesempatan.
Aku masih bisa bernafas di sini.
Aku masih melihat banyak manusia yang berlalu lalang di depan ku.
Aku masih mendengar sebagai macam suara di berbagai sisi.
Aku masih bisa mengecap begitu banyak rasa di ujung lidahku.
Aku masih bisa menapakkan kaki dengan kokoh di permukiman tanah yang ku pijaki.
Aku masih bisa merapalkan banyak doa dan harapan di ujung bibirku di setiap sujud akhirku.
Tuhan masih membuka lebar- lebar kesempatan untuk bertahan hidup padaku.
Aku masih hidup.
Dan aku masih berusaha untuk bertahan hidup.
24 kali, Tuhan memintaku untuk bertahan.
Untuk bebarapa langkah panjang menuju kebahagiaan yang ku cita- citakan di setiap cerita di langit yang mulai menggelao.
Tuhan memintaku untuk bertahan sedikit lagi.
Karena, Tuhan menunjukkan bahwa ada manusia lain yang menyayangiku tanpa ku sadari.
Masih banyak orang yang bersyukur dengan keberadaanku di antara mereka.
Masih ada yang membutuhkan sepasang telingaku untuk mendengarkan semua cerita mereka.
Masih banyak yang ingin mendengar ceritaku.
Tuhan selalu menunjukkan padaku seolah
" Kamu tidak pernah sendiri di Bumi- Ku. "
24 kali menyerah, dan 24 kali pula aku bertahan.
Terimakasih ya?
Terimakasih sudah tetap bertahan dan kuat di sini.
Terimakasih sudah tetap menjadi manusia yang mau belajar untuk bersabar dan ikhlas di dunia ini.
Terimakasih,
Karena sudah mengajari ku banyak hal.
Tentang penerimaan diri sendiri dengan hati terbuka,
dan juga belajar untuk tetap bertahan hidup.
Aku, mengandalkan mu untuk bertahan.
Komentar
Posting Komentar