Write a letter to your father.
Assalamu'alaikum, Papa.
Udah 13 tahun ya, Pa? Ngga kerasa. Waktu berjalan terlalu cepat untuk aku yang harus mengahadapi sulitnya hidup sejak kepergianmu.
Kepergian Papa yang sama sekali aku tak bisa berasa di sisi mu di sisa terakhir nafasmu.
Untuk mencium keningmu yang terakhir kalinya saja tak sempat terealisasi.
Kepergianmu, yang membuat duniaku runtuh.
Bukan sebagian, tapi seluruh isi duniaku hancur tak bersisa.
Sejak kepergianmu, yg saat itu aku masih berusia 10 tahun, dengan berat hati aku menjalani hidupku selayaknya tak terjadi apapun.
Aku yang ceria, aku yang aktif, aku yang selalu rajin belajar demi mewujudkan mimpimu agar aku masuk 3 besar, akhirnya terkabulkan setelah sebulan kepergianmu.
Papa, sekarang umur aku udah 23 tahun. Bulan depan aku naik satu tingkat menjadi 24 tahun.
Semakin ke sini, hidup aku sangat sulit dilalui.
Terlalu banyak hal yang menimpaku.
Terlalu banyak kejadian yang harus aku hadapi sendirian.
Terlalu banyak tekanan yang harus aku terima tanpa mempedulikan bagaimana perasaanku.
Aku terlalu sibuk mengejar dunia, sampai lupa aku sudah menyakiti diriku sendiri.
Aku terlalu sibuk menahan beban hidup sendirian, sehingga kondisi mentalku makin hancur dan tak tertolong.
Aku terlalu sibuk memikirkan perasaan orang lain, tanpa sadar aku juga perlu dimengerti.
Pa, aku bahkan tidak bisa menaggungnya sendiri.
Bebannya terlalu berat. Aku sudah tidak kuat sebenernya.
Aku selalu berusaha terlihat kuat dan baik- baik saja di depan orang.
Tapi nyatanya, aku se rapuh itu.
Pa, aku bahkan belum bisa membuat Mama hidup dengan damai dan tenang.
Terlalu banyak hal yg bergemuruh di kepala cantiknya itu.
Warung yg menjadi satu²nya warisan yang Papa tinggalin, mulai kehilangan titik rezekinya.
Warung sering sepi. Dan, Mama menjadi kepikiran terus menerus.
Padahal aku sudah berusaha maksimal membantu perekonomian keluarga.
Tapi terkadang, yang yg aku sudah sisihkan untuk keluarga untuk satu bulan saja tidak cukup.
Dan aku lagi dan lagi, mau tak mau, harus mengorbankan tabungan pribadiku.
Kesannya, uang yg ku tabung selama bekerja 3 tahun di pabrik tidak ada penambahan.
Makin sedikit, dan aku mulai kewalahan mengurus tabungan pribadiku.
Pa, makin ke sini juga, Mama makin sering mengekangku.
Mama selalu melarangku pergi ke tempat yang aku mau.
Alasannya terkadang masuk akal, dan terkadang juga selalu di luar nalarku.
Jika aku kukuh untuk pergi, nanti Mama selalu bilang " Mentang² udah punya uang sendiri, jadi seenaknya sama orang tua. Jadi ngerasa banyak uang bisa kemana²."
Tapi, ketika aku ajak pergi, selalu ditolak dengan banyak alasan.
Padahal, apa salahnya aku menghibur diriku setelah sebulan full bekerja tanpa istirahat, dengan banyak tekanan yg aku terima, untuk pergi ke satu tempat untuk menenangkan diri?
Aku muak di rumah terus, aku ingin bernafas dengan lega.
Jika Mama begini terus, kapan aku bisa melangkah lebih jauh lagi, Pa?
Mama hanya tahu aku memberi uang jika Mama butuh tanpa bertanya " Apa tabungan kamu aman?", atau pertanyaan sejenisnya.
Pa, apa aku berdosa karna telah menjelek²kan Mama?
Bukan punya maksud buruk, tapi itu kenyataannya setelah Papa pergi.
Papa, kini hidup yg aku jalani terasa hambar.
Mati rasa.
Aku bahkan tidak tahu untuk siapa lagi aku bertahan hidup.
Jika orang² di sekitar aku semakin menghancurkan aku.
Papa, mending jemput Milla pulang, ya?
Milla gakuat, Pa.
Milla pasrah jika pada akhirnya Milla masuk neraka. Asalkan kepergian Milla dari muka bumi ini membuat beban mereka berkurang.
Ur daughter,
Milla Try Komala
Komentar
Posting Komentar