ᴋᴀʟɪ ɪɴɪ, ᴜɴᴛᴜᴋ sɪᴀᴘᴀ ʟᴀɢɪ ᴀᴋᴜ ʙᴇʀᴛᴀʜᴀɴ?
" Kalau bunuh diri itu dibolehkan, mending mati aja gasih?"
Sekilas kata itu mengalir begitu saja di kepalaku.
Bukan sekarang- sekarang ini terpikirkan di sudut otakku.
Tapi nyaris setiap hari, aku mempertanyakan hal yang sama.
Kali ini, aku begitu lelah.
Aku terlalu sering memaksakan diriku untuk tetap bisa berpikir jernih, padahal otakku sudah tidak bisa diajak kerjasama lagi.
Aku terlalu memaksakan tubuhku untuk tetap kuat, padahal ragaku bahkan sudah rapuh perlahan setiap harinya.
Aku memaksakan hatiku untuk tetap tegar, padahal perasaanku sudah hancur berkeping- keping tanpa bentuk.
Kali ini, untuk siapa aku bertahan hidup?
Aku sendiri saja sudah enggan untuk bertahan.
Keluargaku? Bahkan semakin ke sini semakin kacau yang kulihat.
Keegoisan ibuku, ketidak dewasanya kedua kakakku, dan adikku yang kehilangan arah hidup.
Aku berdiri di tengah, memaksakan diri untuk bersikap netral.
Tapi, aku tidak bisa.
Tubuhku sudah remuk sekali.
Otakku sudah bercabang.
Hatiku sudah melebur menjadi debu.
Aku pun sama. Aku kehilangan arah.
Tapi, kenapa harus berada di tengah- tengah emosi mereka.
Inner child ku? Aku bahkan melupakannya.
Aku begitu kasihan padanya.
Aku tak ingin memaksakan nya untuk tetap bertahan di sisiku.
Dia harus pergi bersamaku.
Menghadap Tuhan dan meminta maaf karena gagal menjalani skenario Tuhan yang terlanjur aku setujui sebelum lahir ke dunia.
Jika bunuh diri dibolehkan, lebih baik mati saja tidak, sih?
Sudah terlalu berat hari- hari yang aku jalani.
Orang- orang saja sudah tak membutuhkanku lagi.
Daripada menjadi beban Bumi, lebih baik kembali pada- Nya saja pilihan paling tepat.
Komentar
Posting Komentar