ππππππππ'π π½πππππ 4
Kamu pernah dengar lagu " Jernih " punya Kunto Aji nggak?
Ada satu bait di lagu itu yang membuat aku terdiam sejenak.
Pertama kali aku mendengar lagu ini dari Tiktok sebenarnya.
Dan, ada satu bait part dari sekian bait yg dilantunkan beliau yang membuatku terdiam saat itu juga.
" Mengapa dunia tak adil? "
Singkat, tapi membuatku nyaris tak bergerak.
Setiap hari, aku melantunkan pertanyaan yang sama seperti lirik itu.
Bahkan sebelum liriknya rilis.
Mengapa sulit sekali bagiku mendapatkan bahagia untuk diriku sendiri.
Banyak sekali halangan yang selalu berdiri tegak di hadapanku.
Seolah melarangku untuk masuk ke gerbang yang di sebut dengan " damai ".
Seolah masa sulit yang harus aku alami setiap harinya tanpa absen, namun tak memberi ending yang bahagia.
Anak yang harus tumbuh dewasa secara
" terpaksa " karena kondisi keluarga yang harus tetap hidup tanpa sosok kepala keluarga.
Kepergian Papa yang sampai detik ini aku belum juga lepas untuk mengikhlaskan.
Dan, didikan keras orang tua ku yang membentuk karakter ku menjadi sosok yang keras dan dituntut untuk bisa hidup mandiri.
Memaafkan diriku sendiri saja sudah sulit.
Memaafkan keadaan dan takdir ini saja sangat sulit.
Menerima semua hal yang sudah terjadi padaku sejak saat itu saja masih sangat sukar.
Lantas, bahagiaku kapan akan datang di saat aku masih dipaksakan untuk memprioritaskan orang lain dan malah mengabaikan diriku sendiri?
Aku banyak mengorbankan seluruh jiwa ini untuk memahami perasaan orang lain.
Tapi mereka begitu sulit mengerti aku.
Lagi itu terngiang di kepalaku, dan aku kembali bertanya.
" Apakah aku sudah memaafkan? "
Komentar
Posting Komentar