π°πππ " π³ππππ" π’πππ πππππππππ’π.
Seringkali, di setiap akhir bulan Ramadhan menuju Idul Fitri, orang- orang berbondong- bondong mengucapkan permintaan maaf dan saling berdamai dengan sesama manusia. Saling mendo'a kan, saling menguatkan, dan saling memaafkan satu sama lain.
Tujuannya?
Agar kelak setelah di hari fitrah yg akan disambut esok harinya, dan di hari- hari selanjutnya, semua lingkup kehidupan dilakukan dengan hari yang damai dan tenang.
Tapi, apa menurutmu sebuah kata " maaf " dan suasana " damai " kamu dapatkan setelah melakukannya dengan manusia lainnya?
Bagaimana dengan dirimu sendiri?
Apakah kamu sudah memaafkan
" sosok " yg terjebak di tubuhmu selama bertahun- tahun?
Apakah kamu sudah berdamai dengan
" sosok " yang setiap hari nya harus kerepotan menghadapi beratnya hidup yang menimpamu?
Bagaimana?
Apa kamu sudah bertanya padanya?
Apakah dia bersedia berdamai dengan jiwamu?
Apakah dia masih bersedia mendampingi hidupmu yang terkadang sulit ditebak bagaimana gambaran hari esok yang akan kamu hadapi?
Sudah bicarakah kamu dengan "nya"?
Bagiku, " berdamai" dan " bermaaf - maafan" bukan sekedar diucapkan ketika kamu berinteraksi dengan orang lain di luaran sana.
Tapi, itu pun menyangkut dengan sosok yg ada di dalam dirimu.
Ajaklah dia untuk bicara.
Jangan meninggikan gengsi mu untuk meminta maaf padanya.
Bagaimana pun juga, dia yg tetap ada pada dirimu dalam kondisi apapun.
Jadi, jangan lupakan sosok " dirinya " yang memiliki peran besar dalam hidupmu.
Di bulan fitrah ini, benar kata orang- orang.
Sebelum kamu berdamai dengan orang lain, alangkah baiknya kamu berdamai dengan dirimu sendiri.
Memaafkan segala sesuatu yang sudah dialami bersama.
Menguatkan dirinya untuk tetap mau berada di sisimu.
Setelah itu, percayalah!
Bahwa bahagia akan mudah didapat jika kamu selesai dengan jiwa di dalam dirimu.
Komentar
Posting Komentar