𝙻𝚊𝚗𝚐𝚒𝚝 𝙵𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝𝚔𝚞
" Kamu bakal dateng kan, Trish? " Tanya Akbar melalui sambungan telpon saat aku baru saja selesai melaksanakan shalat dzuhur di mushala kantor.
" Temen- temen minta semuanya dateng dengan formasi lengkap. Lagipula, udah sering banget aku skip dateng ke acara reuni. " Jawabku sembari merapikan mukena yang sudah selesai dipakai.
" Kamu udah mau ketemu Irza, kan? Dia juga dateng, Trish.... " Aku menghela nafas sejenak. Sebenarnya aku masih belum siap. Apalagi pertemuan - yang tidak disengaja - 2 bulan yang lalu di cafe dekat kantor saja masih menyisakan rasa sesak.
Aku belum siap sebetulnya. Tapi, mau sampai kapan aku menghindar terus?
" Gak apa- apa. Aku udah mulai lupain dia, kok. "
" Kamu yakin? Jawaban kamu nggak meyakinkan gitu.... "
DEG! Pertanyaan Akbar terlalu tepat sasaran.
"..., kalo kamu nggak nyaman, nanti aku minta tolong Wini buat nemenin kamu. Biar nggak terlalu canggung pas acara nanti. "
" Thanks ya, Bar. "
" Sama-sama. Nanti aku kabarin lagi yaa gimana teknis nya. Assalamu'alaikum. "
" Waalaikumsalam. " Aku segera menutup sambungan telepon dengan Akbar dan meletakkan handphone ku ke tas selempang.
Sebetulnya aku belum siap. Atau mungkin, tidak pernah siap. Aku belum sepenuhnya sembuh. Tapi keadaan memaksaku untuk bertemu dengannya. Tuhan seolah mempermainkan perasaanku sampai sekacau ini. Apa mungkin kelak aku bisa bertemu dengan orang yang lebih banyak cintanya padaku setelah melewati masa sulit ini?
Bagaimanapun juga, aku sudah terlalu sering tidak menghadiri acara reuni kelasku di SMK. Teman- temanku juga ingin aku datang. Semoga saja berjalan dengan baik dan aku bisa menata hatiku setelah pertemuan itu.
Aku meraih sepatuku yang tersimpan di rak sepatu dekat mushala dan segera memakainya. Karena aku mengejar waktu masuk kerja kembali yang tinggal 10 menit. Aku langsung berjalan cepat menuju kantorku sampai tak sengaja menabrak seseorang saking terburu- buru.
" Aduh! Maaf, Kak! Saya nggak sengaja. " Aku mengusap kepalaku yang terbentur dada orang itu tadi. Pria itu terlihat tinggi dan tubuhnya tegap. Sehingga membuatku sedikit tertegun.
" Kamu gak apa- apa? " Tanya pria itu menataoku khawatir. Aku hanya terdiam. Menatapnya tanpa berkedip.
Tampan.
" Oohh nggak apa- apa, Kak! Maaf yaa saya nggak sengaja soalnya buru- buru.... " Aku menggelengkan kepalaku cepat. " Maaf sebelumnya. Saya harus kembali ke kantor saya. Sekali lagi, maaf ya~" Aku langsung berlari meninggalkan pria tinggi tersebut karena harus mengejar waktu untuk kembali beraktivitas. Semoga saja dia tidak marah.
.
.
.
.
.
Hari reuni an pun tiba. Sesuai arahan dari Rifal, teman sekelasku yang menjadi panitia reuni tahun ini yang mengabarkan jika acara pertemuan kali ini dilaksanakan di Pantai Pondok Bali, aku langsung memesan tiket travel menuju kota kelahiranku. Aku mungkin akan berkunjung sebentar ke rumah, menghadiri acaranya, lalu kembali ke Bandung. Aku tidak ingin lama- lama di sini. Karena aku tak mau kembali larut dalam luka dan kecewa.
" Mbak Azka, kalo ada deadline yang belum beres pas meeting kemarin kabarin aku aja, ya? Nanti sekalian aku masukkin ke rekapan meeting kemarin sebelum diserahin ke sekretarisnya Pak Dirut.... " Ucapku melalui telepon sembari menyiapkan keperluan untuk kembali ke rumah.
" Sip, Trish! Santai aja padahal mah. Bukannya kamu mau prepare buat balik ke rumah ibu kamu, ya? Sambil reuni an sama temen-temen sekolah kamu? "
" Iya, Mbak. Biar nggak suntuk aja di jalan. Jadi aku kerjain di tab dulu. Nanti aku ganti format ke pdf buat gampang aja.... "
" Yaudah. Nanti aku kirimin beberapa poin nya aja, ya? Kamu hati- hati di jalan ya, Trish! "
" Okay, Mbak. Aku tutup dulu ya? Assalamu'alaikum. "
" Waalaikumsalam. "
Aku langsung meninggalkan rumah flat yang sudah kutinggali sejak pindah ke Bandung untuk kembali ke rumahku yang dulu. Untung saja mobil travel nya sudah menunggu di depan. Jadi aku tidak menunggu lama di depan minimarket depan rumah flat.
Di sepanjang jalan, hatiku rasanya tak karuan. Sudah lama sekali aku tidak pulang. Aku hanya belum siap. Terlalu banyak kenangan yang kualami di sana. Entah kenangan keluarga, pertemanan, dan juga kisah cinta bertepuk sebelah selama 8 tahun itu.
Aku ingin kembali saja ke Bandung dan tak menghadiri acara reuni tahun ini rasanya. Ternyata, aku belum siap bertatap muka lagi dengannya.
Butuh waktu 1 jam hingga aku sampai di depan rumah ku. Sudah tampak ibuku yang menunggu di depan pintu rumah. Senyum nya tetap terlihat teduh walaupun wajahnya mulai terlihat menua di usia 60 tahun. Aku menyalami tangannya dan menyimpan tas di kursi tamu.
" Kamu cuma dateng ke reunian terus balik lagi, Trish? " Tanya ibu sambil menyimpan segelas air dingin di meja. Aku hanya mengangguk dan menyimpan oleh- oleh yang kurasakan untuk ibu.
" Kerjaan aku lagi banyak. Ini juga aku nggak enak kalo gak hadir ke acara. Soalnya tahun- tahun sebelumnya aku gak pernah hadir. " Aku mengikat rambutku dan berdiri meninggalkan ruang tamu.
" Aku izin istirahat sambil siap- siap pergi lagi ya, Bu? Nanti soalnya Akbar mau jemput ke sini.... " Ibu hanya mengangguk lalu kembali ke ruang depan untuk menonton TV.
Aku membuka pintu kamarku yang terlihat masih sama saja. Tidak ada yang berubah sejam terakhir aku berkunjung ke sini 4 tahun yang lalu. Kamarnya masih bersih. Mungkin ibu rajin membersihkan kamarku walaupun jarang digunakan.
Aku merebahkan tubuhku ke ranjang dengan helaan nafas yang sedikit berat. Aku ingin tidur saja dan tidak datang ke sana. Tapi sayangnya, pesan singkat yang dikirimkan Yolan mengalihkan pikiranku tadi.
Yolan
Trish, kata Akbar kita otewe 1 jam lagi ya? Soalnya Akbar mampir dulu nyari camilan buat di acara nanti.
" Huuuffttt. " Aku memejamkan mataku yang lelah. Setelah berhasil mengumpulkan niat, aku bersiap untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian sesuai dresscode yang sudah ditentukan panitia.
Warna putih dan coklat.
.
.
.
.
Saat aku tengah merias wajahku, tiba- tiba suara ketikan pintu terdengar.
" Trish, itu Akbar sama Yolan nya udah dateng. Kamu udah beres? "
" Udah, Bu. Bentar yaa.... " Aku memoles sedikit lip matte di dua bilah bibirku dan kembali mengecek barangkali ada yang tertinggal di tas. Setelah semuanya sudah siap, aku langsung pergi meninggalkan kamar dan menghampiri Akbar dan Yolan yang menunggu di ruang tamu.
" Yuk! Mau langsung berangkat aja? " Tanyaku sambil meraih air minum kemasan di meja tamu.
" Oke. Bu, Akbar sama Yolan izin dulu ya?"
" Iya. Hati - hati di jalannya. Jangan ngebut ya, Bar.... "
" Siap, Bu. Assalamu'alaikum. "
" Waalaikumsalam. "
.
.
.
.
Saat aku sudah duduk di kursi penumpang belakang, aku baru menyadari jika camilan yang dibawa Akbar dan Yolan untuk acara nanti begitu banyak.
" Aku kira kamu nggak akan ikut, Lan." Tanyaku sembari memakai seatbelt agar tetap safety.
" Si Akbar minta ditemenin katanya. Padahal kan reunian temen sekelas ya? Masa masih minta ditemenin.... " Jawab Yolan denga nada sebal.
" Ahhhh aku tau biar dia bisa flexing ke temen-temen kalo dia nggak jomblo lagi. " Ucapku dengan nada mengejek. Akbar yang merasa ketahuan dengan modus nya yang terbongkar itu hanya menyengir. Setekah obrolan singkat itu berakhir, mobil Akbar langsung meluncur menuju Pantai Pondok Bali.
.
.
.
.
Butuh waktu perjalanan satu jam tiga puluh menit untuk sampai ke tempat acara. Aku keluar dari mobil Akbar sambil merapikan bajuku yang sedikit kusut. Sementara Akbar menghubungi Adi, teman sekelasku yang lain untuk membantu membawakan camilan untuk yang lainnya. Aku dan Yolan berjalan duluan ke resor dekat Pantai tersebut.
" Untung ada kamu, Lan. Aku takut awkward kalo ketemu temen-temen karna udah lama banget nggak ketemu mereka.... "
" Santai aja, Trish. Aku tahu ini pertama kalinya kamu dateng lagi ke acara reunian setelah kamu nolak dateng di tahun- tahun sebelumnya. Temen-temen pasti seneng banget kalo kamu dateng. " Yolan mengusap tanganku yang berada di gandengan tangannya dengan pelan. Suara orang- orang yang tampak bahagia itu tertangkap oleh daun telinga ku. Dadaku semakin berdegup tak karuan. Ingin pulang lagi saja rasanya.
" TRISHAAAAAAAAA!!!!! " Aku sedikit terkejut saat Fia, teman sekelasku berteriak menyebut namaku. Semua teman- teman yang tengah berbincang itupun langsung mengalihkan fokusnya ke arahku. Mataku membola semakin terkejut saat mereka berhamburan memelukku.
" Akhirnya kamu dateng juga, Trish! Udah lama banget nggak ketemu kamu lagi! " Ucap Fijar sambil menepuk bahuku.
" Makasih banyak yaa temen-temen. Maaf aku baru dateng ke acara reuni an."
" Gak apa- apa. Kita seneng banget kok karna kamu udah hadir sekarang.... " Dia kembali memelukju dengan erat. " Ayo masuk! Temen- temen lainnya udah nunggu. " Fia menarik tanganku untuk masuk ke dalam. Aku melihat Yolan yang berjalan santai sambil tersenyum tipis. Aku hanya mengangguk dan mengikuti langkah Fia ke dalam ruang acara.
Setelah semuanya sudah berkumpul, Rival, selalu ketua penyelenggara acara membuka acara dengan banyak sambutan dan juga menjelaskan rundown acaranya. Aku melihat sekeliling dan melihat Irza yang berdiri di depan. Aku menundukkan kepalaku pelan. Dadaku masih saja sesak. Aku masih sedih, ternyata.
" Ayooo Bapak KM sama Ibu wakil KM nya mana? Kita buka acaranya sama mereka berdua! "Seru Akbar dengan semangat. Aku menatap Akbar dengan kesal. Mengapa dia sengaja sekali membuat aku harus berasa di dekat Irza saat acara seperti ini?
Teman-teman perempuan di kelasku itu mendorong pelan tubuh agar langsung ke depan agar acara pembukaan reuni tahun ini bisa dilaksanakan. Langkahku sedikit terseok- seok saat sampai di hadapan Irza. Aku melihat tangan Irza yang mengulur ke arahku. Tapi dengan cepat aku berjalan ke depan tanpa menerima uluran tangannya.
" Alhamdulillah ya temen-temen. Kali ini, di reunian tahun ini, acaranya dibuka bareng ibu wakil KM juga. Karna tahun- tahun sebelumnya, cuma Bapak KM aja yang buka acaranya...." Ucap Fijar sambil bertepuk tangan. Semua orang di sana pun bertepuk tangan sambil berteriak girang. Aku hanya memasang senyum kamu tanpa menatap Irza yang berdiri tepat di sisiku.
" Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, acara reuni ke 10 Jurusan design angkatan 2019 resmi dibuka.... " Ucap Irza bersamaan dengan diguntingnya pita oleh kami berdua. Semua orang bertepuk tangan dan saling berteriak semangat. Aku hanya menatap mereka dengan senyum tipis. Bertemu dengan mereka setelah sekian lama ini bukan ide buruk ternyata. Setidaknya aku punya tujuan khusus saat datang kemari.
Karena mereka. Bukan Irza
.
.
.
.
.
Jam tangan di tanganku kini menunjuk ke angka 18.15. Setelah kami semua melaksanakan shalat berjamaah, acara makan- makan bersama pun dilaksanakan. Aku minta izin kepada mereka untuk duduk- duduk santai di bangku di dekat resort yang mengarah ke pinggir pantai. Aku ingin menenangkan diri. Sekaligus kembali menghindar dari Irza.
Kuraih handphone yang disimpan di tas selempang kecil biru ku. Langit sore menjelang malam ini terlihat cantik. Semburat jingga dan hitam saling mendominasi. Seolah sang jingga enggan pamit menyinari para peminatnya. Namun hitam harus segera datang agar para manusia di muka bumi bisa beristirahat dengan baik. Warna sunset yang cantik.
Langit favorit Irza.
" Kamu nggak kedinginan?" Aku sangat terkejut karena tiba-tiba seseorang menyampirkan jaket berwarna navy ke punggungku. Wangi parfum itu. Masih aroma yang sama dengan parfum di tahun 2016, parfum kesukaan Irza.
Aku hanya terpaku. Tak melihat ke arahnya. Dan tak menjawab pertanyaannya. Hingga akhirnya ia duduk di kursi panjang yang sama denganku.
" Udah lama banget ya kita nggak ketemu?" Buka Irza dengan suara lembut khas nya. Suaranya yang bahkan belum hilang begitu saja di pikiranku. Sekeras apapun aku menghilangkannya, suara itu nyaris seperti tanda hitam yang cukup membekas di kepalaku.
" Iya." Jawabku singkat. Tenggorokan ku sakit seketika. Tak sanggup menjawab lebih panjang pertanyaan Irza.
" Dua bulan yang lalu, pas kita ketemu di cafe itu, kita juga nggak sempet banyak ngobrol ya?" Aku hanya menunduk dalam.
Aku bahkan tidak sanggup dengan melihat ujung mata kamu, Za.
" Maaf, aku buru- buru waktu itu. Jadi nggak sempet banyak ngobrol...." Aku mencoba mengontrol suaraku agar terdengar biasa saja.
Suasana kembali hening. Hanya terdengar deburan ombak pantai yang lembut menyapa telinga kami. Tak ada satu pun yang bicara. Tanganku mengepal kuat. Perasaan canggung menyelimuti kami.
" Kamu mau dengerin lagu bareng aku?" Irza menyodorkan airport ke arahku. Aku melirik ke arah airpod itu ragu. Kamu bahkan bingung harus membicarakan apa lagi setelah sekian lama kami tidak bertemu.
Aku meraih airpod itu dengan tangan bergetar, lalu menyumpalkan ke telingaku.
Aku menatap ke arah pantai hingga akhirnya tubuhku menegang setelah mendengar intro lagu yang diputarkan Irza.
Langit favoritku, milik Teddy Adhitya.
Lagu yang sering aku putar setiap harinya. Lagu yang ingin ku sampaikan padanya dalam diam. Lagu yang mempresentasikan isi kepalaku.
Merayakan lagi.
Rasa yang pernah kita bagi.Pilih baju yang terbaik.Mengantar matahari yang cantik.
" Langit hari ini bagus ya? Estetik." Gumam Irza dengan senyum tipis. Aku hanya terdiam. Mencoba mencerna apa yang kualami sekarang.
Bermimpi bersama.Di kota yang banyak tawarnya.Kita buat jadi penuh rasa.Cerita yang kan kita jaga.
" Dulu, waktu masih sekolah, kamu sering bilang ke aku, kalo langit sore itu cantik banget. Sejak saat itu, aku jadi suka sama langit jingga...." Irza menatap langit yang mulai sedikit gelap. Dan lampu taman di sekitar resort mulai menyala begitu terang di setiap titik. Aku memalingkan wajahku ke arah lain, membelakangi pandangan dari Irza.
Dia bahkan masih ingat ucapanku.
Jika tak bersamaku lagi.Ingat warna langit favoritku.
" Kamu suka sama langit biru. Aku masih ingat itu, Trish...." Mataku bahkan sudah tak sanggup menahan derai air mataku yang berjatuhan satu per satu saat Irza kembali berbicara.
" Kamu suka langit jingga, Za. Aku juga inget."
Jika memang sudah tak berjalan seiring.Jaga diri masing-masing.
Sampai bertemu di lain bumi.Sampai bertemu di lain hari.
" Aku bahkan masih berharap kalo kita masih bisa bertemu di waktu selanjutnya...." Ucap Irza beriringan dengan helaan nafasnya. " ..., tapi kamu pergi. Tanpa ngasih tahu dimana kamu perginya. Kamu hapus semua akses komunikasi sama aku. Kamu ngebatasin akun aku biar aku gatau gimana kabar kamu...."
Kupejamkan mataku dengan erat. Dadaku sakit sekali rasanya. Aku bahkan tak sanggup menghentikan ucapannya. Kepalaku rasanya berputar. Aku bahkan belum juga berhasil mencerna momen hari ini.
Yang menjadi sedih.Biarkan bersedih.Yang kan datang nanti.Biar harap yang membawa pesan.Agar lebih berkesan.
" Aku nunggu kamu selama ini, Trish. Dengan perasaan pengecut ini, yang nggak berani ngomongin isi hati aku yang sebenarnya, aku nungguin kamu sampai kamu pulang dan aku bis confess ke kamu...."
" Ir— zaa...."
" Aku pengecut, Trish! Aku gak pernah bilang kalo selama ini aku suka sama kamu...."
Aku masih memejamkan mata. Aku tak berani menatapnya. Ini benar - benar di luar kendaliku. Aku masih tak menyangka dengan fakta yang baru kudengar ini.
Selama ini, Irza menungguku pulang.
Jika tak bersamaku lagi.
Ingat warna langit favoritku.Jika memang sudah tak berjalan seiring.Jaga diri masing-masing.
" Tapi, kamu udah punya Helfa, Za. Kamu gak boleh ngomong gini ke aku...." Dengan mengumpulkan keberanian, akhirnya aku bicara dengannya. " Tolong, hapus semua ingatan kamu yang ada aku di dalamnya. Aku bahkan bersusah payah buat lupain kamu. Aku bahkan menyangka bahwa selama ini hanya aku aja yang suka sama kamu. Makanya aku diem. Karna aku gak mau kita asing kalo aku jujur sama perasaan aku...." Kuraih nafas yang tiba- tiba seperti menjauh dariku. "..., kamu bahkan nggak ngerespon kode- kode kecil aku. Jadi aku pikir, kalo selama ini kamu nggak suka sama aku. Dan cuma anggep aku sebagai teman biasa." Aku mengusap wajahku yang sudah penuh dengan air mata. Fakta yang sulit diterima.
Bahwa kami sudah saling suka sejak awal.
Jika tiba waktunya nanti.
Yang tak dipaksa yang kan terjadi.Walau memang sudah tak berjalan seiring.Jaga diri masing-masing.
" Kamu udah mau nikah, Za. Udah saatnya kita kubur isi hati lama kita ini sedalam- dalam nya. Lupain semuanya, Za. Kamu berhak bahagia dengan perempuan yang kelak menjadi pendamping hidup kamu...." Aku menatap wajahnya yang mungkin sedari tadi menatapku dengan intens.
" Trish...."
" Aku gak apa - apa, kok. Emang udah nggak bisa berjalan beriringan lagi, kan? Takdir nya nggak berpihak ke aku. Aku bakal lupain kamu, Za." Aku menyerahkan airpod itu kembali kepada Irza. " Jadi, aku harap, kita nggak pernah ketemu lagi, ya? Kamu harus bahagia. Lupain semua kejadian ini seolah kita nggak saling mengungkap isi hati yang tertahan selama bertahun - tahun, ya?" Aku bangkit berdiri sembari menyimpan rapi jaket navy Irza meninggalkan pelataran pinggir pantai dengan langkah cepat. Aku menepuk dadaku pelan. Rasanya campur aduk. Tapi aku merasa bahwa jalan ini adalah yang terbaik untuk aku kelak. Dan aku bisa membuka hatiku untuk orang lain yang mungkin bisa memberikan cinta yang setara atau mungkin lebih besar daripada cintaku.
Sampai bertemu di lain bumi.Sampai bertemu di lain hari.Temukan jalan yang terbaik.Relakan.Lepaskan.
" Aku izin lupain kamu seumur hidup ya, Za? Aku ingin menjalani hidupku dengan nyaman tanpa bayang- bayang harapan agar kita bisa bersama selamanya padahal kenyataannya hal itu nggak akan pernah terjadi."
Komentar
Posting Komentar