𝘉𝘢𝘤𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘳𝘢𝘩.
Kemarin, waktu aku sibuk menggulir video tiktok, aku menemukan satu slide video yang membuatku sedikit penasaran. Judul nya" Baca ini sewaktu kamu kehilangan arah. " Aku jelasin isi nya di bawah ini, ya? 
.
.
.
.
.
𝙷𝚊𝚛𝚒 𝚒𝚗𝚒, 𝚖𝚞𝚗𝚐𝚔𝚒𝚗 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚝𝚎𝚛𝚋𝚊𝚗𝚐𝚞𝚗 𝚍𝚎𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚜𝚎𝚓𝚞𝚝𝚊 𝚙𝚎𝚛𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊𝚊𝚗 :
𝘼𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙥𝙞𝙡𝙞𝙝 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧?
𝙈𝙚𝙣𝙜𝙖𝙥𝙖 𝙧𝙖𝙨𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙖𝙝𝙪 𝙠 𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙜𝙞.
𝙎𝙚𝙢𝙚𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙙𝙞 𝙨𝙞𝙣𝙞, 𝙠𝙚𝙗𝙞𝙣𝙜𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙩𝙪𝙟𝙪𝙖𝙣?
Baru kalimat pertama saja sudah sangat mewakilkan perasaan aku selama ini. Setiap bangun tidur, banyak sekali ketakutan yang aku ciptakan sendiri padahal belum tentu itu terjadi. Itu kenapa terkadang aku merasa kelelahan padahal sudah beristirahat semaksimal mungkin. Kelelahan itu tercipta karena pemikiran ku yang sudah kacau saat fajar menyingsing. Aku baru paham sekarang.
.
.
𝙺𝚊𝚖𝚞 𝚖𝚎𝚕𝚒𝚑𝚊𝚝 𝚝𝚎𝚖𝚊𝚗 𝚝𝚎𝚖𝚊𝚗𝚖𝚞 :
𝘼𝙙𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙖𝙣𝙩𝙖𝙥 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙞𝙚𝙧 𝙣𝙮𝙖.
𝘼𝙙𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙢𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙖𝙨𝙨𝙞𝙤𝙣 - 𝙣𝙮𝙖.
𝘼𝙙𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙧𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙡𝙞𝙢𝙖 𝙩𝙖𝙝𝙪𝙣 𝙠𝙚 𝙙𝙚𝙥𝙖𝙣.
𝘼𝙙𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙝𝙪 𝙥𝙚𝙧𝙨𝙞𝙨 𝙖𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣.
Point ke 2 ini membuat dadaku seketika berhenti. Sudah se jauh itu rasa kebingungan itu melanda diriku. Jiwa insecurity aku seketika mendominasi. Setiap aku melihat sosial media, aku melihat semua teman - teman semasa sekolah ku dulu sudah sangat sukses. Mereka bisa kuliah, mendapat gelar sarjana, mendapatkan prospek kerja yang mereka inginkan, bisa berlibur kemana saja, menikmati masa muda dengan sangat indah, dan ada juga yang sudah menemukan pasangan hidup mereka. Hati kecil ini secara tidak sadar membentuk rasa iri dan iba kepadaku. Iri karena aku tidak semua beruntung mereka, dan iba karena aku tidak bisa maju barang se langkah pun karena tertahan oleh banyak hal. Termasuk rasa trauma yang aku simpan rapat- rapat selama ini.
.
.
𝚂𝚎𝚖𝚎𝚗𝚝𝚊𝚛𝚊 𝚔𝚊𝚖𝚞 :
𝙈𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙩𝙚𝙧𝙨𝙚𝙨𝙖𝙩 𝙙𝙞 𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖 𝙚𝙠𝙨𝙥𝙚𝙩𝙖𝙨𝙞 𝙙𝙖𝙣 𝙧𝙚𝙖𝙡𝙞𝙩𝙖.
𝙈𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙗𝙞𝙣𝙜𝙪𝙣𝙜 𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖 𝙢𝙞𝙢𝙥𝙞 𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖𝙖𝙣.
𝙈𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙗𝙞𝙣𝙜𝙪𝙣𝙜 𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙞𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙝𝙖𝙩𝙞 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙪𝙧𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙪𝙣𝙩𝙪𝙩𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙠𝙞𝙩𝙖𝙧.
𝙈𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙩𝙖𝙠𝙪𝙩 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙗𝙞𝙡 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙝.
Sepanjang aku menjalani hidup, hal-hal hal itu juga ikut menyertai.
Banyak ketakutan dan keraguan yang terlahir satu per satu di kepalaku.
Semua kekhawatiran dan ketidakpercayaan diri atas diriku sendiri.
" Aku gak pantes dengan hal ini. "
" Kira-kira aku bisa ngerjain ini nggak ya? "
" Kalo aku ngasih pendapat, kira- kira mereka mau nerima nggak ya? "
" Apa aku harus ikutin apa ya g mereka mau biar tetep ditemenin? "
" Aku pengen nunjukkin diri aku yang sebenernya. Tapi kenapa itu semua seolah sebuah kriminam di mata mereka? "
Setiap hari, ketakutan itu selalu mengiringi langkahku.
Sehingga untuk bernafas saja aku harus berpikir agar orang lain tidak terganggu atas tindakanku.
Ternyata, aku sudah se jahat itu kepada diriku sendiri.
.
.
𝙺𝚊𝚖𝚞 𝚖𝚞𝚕𝚊𝚒 𝚋𝚎𝚛𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊- 𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 :
𝘼𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙣𝙤𝙧𝙢𝙖𝙡 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙣𝙞 𝙙𝙞 𝙪𝙨𝙞𝙖 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜?
𝘼𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙬𝙖𝙟𝙖𝙧 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙩𝙖𝙝𝙪 𝙖𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣?
𝘼𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙥𝙖𝙣𝙩𝙖𝙨 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙖𝙧𝙞- 𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙟𝙖𝙩𝙞 𝙙𝙞𝙧𝙞?
𝘼𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙖𝙢𝙗𝙖𝙩 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙢𝙪𝙡𝙖𝙞?
Pertanyaan ini adalah sarapan pagi bagiku.
Pertanyaan yang pertama kali aku langit kan setelah membaca doa bangun tidur.
Overthinking yang kemarin malam belum terjawab karena terlalu tenggelam dengan rasa kantuk, dilanjutkan di pagi harinya.
Tentang
" Aku siapa?"
" Untuk apa aku terlahir di muka bumi ini? "
" Orang lain sudah melangkah begitu jauh dengan mulus, mengapa aku masih terasa sedang berjalan di tempat? "
" Mereka sudah tahu tentang hal yang sedang terjadi sekarang, mengapa aku masih tertinggal begitu jauh? "
" Mereka sudah bisa memenuhi semua wishlist yang dibicarakan saat masa sekolah, mengapa aku masih kebingungan dengan apa yang aku inginkan sebenarnya? "
Perlahan, semua pertanyaan itu membunuh akal sehat ku sehingga hidupku mulai mati rasa.
𝙳𝚎𝚗𝚐𝚊𝚛𝚔𝚊𝚗 :
𝙏𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙙𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙖𝙢𝙗𝙖𝙩 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙢𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙧𝙞.
𝙏𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙙𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙙𝙞𝙧𝙞.
𝙏𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙙𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙣𝙚𝙝 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙨𝙚𝙨𝙖𝙩.
𝙏𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙙𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙡𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙠𝙪𝙞 𝙠𝙚𝙗𝙞𝙣𝙜𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣.
Orang-orang orang di sekitarku seringkali merapalkan saran ini ketika aku berada di titik yang paling terendah.
Rasanya aku ingin berteriak :
Bukan ini yang ingin aku dapatkan dari semua ketersediaan mereka berada di sisiku!
Aku hanya menginginkan solusi yang bisa membangun ku dengan perlahan.
Bukan kata- kata klasik yang bahkan tidak semua orang sanggup mengakuinya.
Aku bahkan sangat muak.
Maka dari itu, aku menarik diriku untuk tidak membicarakan soal kehidupan privasi ku, dan malah sibuk menjadi pendengar untuk mereka.
Karena, hidupku bahkan lebih drama dari yang kupikirkan selama ini.
.
.
.
𝙺𝚊𝚛𝚎𝚗𝚊 𝚝𝚊𝚑𝚞𝚔𝚊𝚑 𝚔𝚊𝚖𝚞? :
𝙈𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙥𝙖𝙨𝙩𝙞 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥𝙣𝙮𝙖, 𝙢𝙪𝙣𝙜𝙠𝙞𝙣 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖- 𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙙𝙞𝙖𝙢𝙣𝙮𝙖.
𝙈𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙖𝙢𝙥𝙖𝙠 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙥𝙞𝙡𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖, 𝙢𝙪𝙣𝙜𝙠𝙞𝙩 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙖𝙧𝙞- 𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙨𝙚𝙥𝙞.
Tapi, aku mulai menyadari.
Bahwa setiap orang pasti punya titik masalahnya masing- masing.
Mereka yang begitu pandai berlagak bahagia seolah tidak pernah terjadi apa- apa, pada akhirnya mereka akan menunjukkan dirinya yang sebenarnya.
Mereka yang terbiasa kuat, akan ada waktunya mereka akan meneteskan air mata penuh luka.
Aku mulai menyadari segalanya, bahwa mereka juga butuh bahu untuk sekedar bersandar barang sebentar.
Mereka juga butuh telinga untuk sekedar mendengarkan tangis penuh keputusasaan.
Mereka, sama- sama punya masa hancurnya sepertiku.
Tapi, mungkin mereka lebih terlatih untuk tidak menunjukkannya ke publik.
.
.
.
𝙺𝚎𝚑𝚒𝚕𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚊𝚛𝚊𝚑 𝚋𝚞𝚔𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚊𝚛𝚝𝚒 𝚐𝚊𝚐𝚊𝚕, 𝚓𝚞𝚜𝚝𝚛𝚞 𝚍𝚒 𝚜𝚊𝚊𝚝 𝚝𝚎𝚛𝚜𝚎𝚜𝚊𝚝 𝚜𝚎𝚙𝚎𝚛𝚝𝚒 𝚒𝚗𝚒 :
𝙆𝙖𝙢𝙪 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙟𝙖𝙧 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣𝙖𝙡 𝙙𝙞𝙧𝙞𝙢𝙪 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢, 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙢𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙞𝙨𝙞 - 𝙨𝙞𝙨𝙞 𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙟𝙖𝙢𝙖𝙝, 𝙠𝙖𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙪𝙟𝙞 𝙗𝙖𝙩𝙖𝙨- 𝙗𝙖𝙩𝙖𝙨 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙣𝙩𝙪𝙝.
Jujur, semakin usia bertambah, makin semakin tersesat bagiku untuk menemukan jalan pulang.
Kebingungan, keraguan, dan juga ketakutan yang terlalu membalut tubuhku semakin membuatku tidak nyaman.
Aku berusaha keras mengenal diriku di berbagai perspektif.
Aku mencari benang kusutnya.
Aku mencari posisi tepat titik hidupku berada dimana.
Aku melangkah begiru pelan.
Satu hari untuk satu langkah.
Demi menemukan dimana tepatnya diriku sebenarnya, aku rela lelah berkelana seorang diri.
.
.
.
𝙹𝚊𝚕𝚊𝚗 𝚑𝚒𝚍𝚞𝚙 𝚋𝚞𝚔𝚊𝚗𝚕𝚊𝚑 𝚔𝚘𝚖𝚙𝚎𝚝𝚒𝚜𝚒 :
𝙏𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙙𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙘𝙚𝙥𝙖𝙩.
𝙏𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙙𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙖𝙢𝙗𝙖𝙩.
𝙏𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙙𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡.
𝙎𝙚𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙬𝙖𝙠𝙩𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞.
Di kalimat ini, aku benar-benar benar terhenyak.
Aku sama sekali tidak terlambat mengenal sesuatu yang baru.
Aku sama sekali tidak tertinggal jauh dengan orang lain.
Aku bisa berjalan sejajar dengan orang lain, tapi mungkin membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama dari yang seharusnya.
Aku paham, bahwa pencapaian yang mereka raih pun pasti tidak instan.
Mereka merangkak, dan berjalan begitu konsisten.
Sehingga akhir dari usaha mereka menghasilkan akhir yang indah.
Aku juga bisa seperti itu, kan?
Tidak masalah kan jika aku berjalan dengan waktu yang sudah aku usahakan?
.
.
.
𝙼𝚞𝚗𝚐𝚔𝚒𝚗 𝚜𝚊𝚊𝚝 𝚒𝚗𝚒 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚖𝚎𝚛𝚊𝚜𝚊 :
𝙎𝙨𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙥𝙚𝙧𝙖𝙝𝙪 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙠𝙤𝙢𝙥𝙖𝙨 𝙙𝙞 𝙩𝙚𝙣𝙜𝙖𝙝 𝙡𝙖𝙪𝙩𝙖𝙣.
𝙎𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙡𝙖𝙣𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙥𝙚𝙩𝙖 𝙙𝙞 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖.
𝙎𝙨𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙗𝙞𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙩𝙖𝙙𝙞 𝙙𝙞 𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙨𝙖.
Aku tersesat sebenarnya.
Tapi aku tidak terima dengan fakta itu.
Aku hanya terlalu denial, memaksakan diriku untuk bisa meraih segalanya.
Padahal sebenarnya aku ragu akan pencapaian yang didapatkan dengan cara keterpaksaan itu.
Aku terlalu memaksakan diriku sendiri ya selama ini?
.
.
.
𝚃𝚊𝚙𝚒 𝚒𝚗𝚐𝚊𝚝𝚕𝚊𝚑 :
𝙆𝙤𝙢𝙥𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙞𝙩𝙪 𝙖𝙙𝙖 𝙙𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙝𝙖𝙩𝙞𝙢𝙪.
𝙋𝙚𝙩𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙚𝙣𝙜𝙠𝙖𝙥 𝙩𝙚𝙧𝙨𝙞𝙢𝙥𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙞𝙣𝙩𝙪𝙞𝙨𝙞𝙢𝙪.
𝙍𝙖𝙨𝙞 𝙥𝙖𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙠𝙞𝙧 𝙙𝙞 𝙢𝙞𝙢𝙥𝙞- 𝙢𝙞𝙢𝙥𝙞𝙢𝙪.
Aku hanya perlu meyakinkan diriku bahwa aku juga akan mendapatkan hapoy ending spesrti yang lainnya.
Aku tidak perlu bersinar untuk orang lain.
Aku tidak perlu menjadi petunjuk arah untuk orang lain.
Aku hanya perlu bersinar untuk diriku sendiri.
Agar aku bisa berjalan sesuai titik terang yang sudah aku buat sendiri.
.
.
.
𝙱𝚎𝚛𝚑𝚎𝚗𝚝𝚒𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚗𝚍𝚒𝚗𝚐𝚔𝚊𝚗 :
𝙋𝙚𝙧𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣𝙖𝙣𝙢𝙪 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣𝙖𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙞𝙣.
𝙋𝙧𝙤𝙨𝙚𝙨𝙢𝙪 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙥𝙧𝙤𝙨𝙚𝙨 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙞𝙣.
𝙒𝙖𝙠𝙩𝙪𝙢𝙪 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙬𝙖𝙠𝙩𝙪 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙞𝙣.
𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙨𝙚𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙧𝙞𝙩𝙢𝙚 𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞.
Dulu, seringkali, atau mungkin setiap harinya, aku selalu membandingkan kehiduoanku sekarang dengan teman teman lamaku.
" Wahhh dia kuliah yaa sekarang? "
" Ohhh dia punya pacar yaa? Padahal dulu dia gak suka deket- deket cowok. "
" Ini benaran si A udah nikah? Ya ampun enak banget dapet pasangan yang mapan. "
" Si B kerja di perusahaan gede itu ya? "
" Si C udah jadi karyawan tetap. Udh terjamin banget hidupnya. "
" Ihhh si D udah punya anak aja. "
"Waduhhhh aku masih belum punya pacar, tapi mereka kok bisa dapet pacar se loyal itu? "
" Jangankan punya pacar, setiap aku suka sama cowok, ending nya sad aja. "
" Aku benar-benar bener jelek deh kek nya, sampe nggak ada satu pun cowok yang mau sama aku. "
" Kayaknya aku orang nya boring yaa?? Makanya aku ngga punya banyak temen. "
Ternyata, aku terlalu memaksakan diri ya?
Aku harus seperti mereka, padahal kapasitas ku saja sangat berbeda jauh dengan mereka.
Wahhh, ternyata se menyedihkan itu kau aku?
.
.
.
𝙳𝚊𝚗 𝚔𝚎𝚝𝚒𝚔𝚊 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚖𝚎𝚛𝚊𝚜𝚊 𝚝𝚎𝚛𝚕𝚊𝚕𝚞 𝚝𝚎𝚛𝚜𝚎𝚜𝚊𝚝 :
𝘽𝙚𝙧𝙝𝙚𝙣𝙩𝙞𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙟𝙚𝙣𝙖𝙠.
𝙏𝙖𝙧𝙞𝙠 𝙣𝙖𝙛𝙖𝙨 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢- 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢.
𝙏𝙖𝙣𝙮𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙙𝙞𝙧𝙞𝙢𝙪 ;
" 𝘼𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩𝙢𝙪 𝙗𝙖𝙝𝙖𝙜𝙞𝙖? "
𝘽𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙠𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙝𝙖𝙜𝙞𝙖𝙠𝙖𝙣.
𝙏𝙖𝙥𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧- 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩𝙢𝙪 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥.
Aku selalu bahagia saat orang lain bahagia ketika bersamaku.
Aku bahagia ketika orang- orang di sekitarku bisa meraih apa yang mereka usahakan.
Aku bahagia ketika mereka bisa tertawa lepas ketika bersamaku.
Aku hanya ingin mereka bahagia.
Aku tak bahagia? Tak masalah bagiku.
Kebahagiaan mereka, adalah prioritas ku.
" 𝘼𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩𝙢𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙙𝙚𝙗𝙖𝙧? "
𝘽𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙣𝙟𝙞𝙠𝙖𝙣.
𝙏𝙖𝙥𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧- 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩𝙢𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩.
Ketika aku benar- benar jatuh cinta
Ya, aku sangat sulit merasakan jatuh cinta.
Aku sering berinteraksi dengan berbagai irang.
Entah itu wanita atau lelaki.
Tapi, setiap aku dekat dengan laki- laki, tak akan membuatku mudah jatuh cinta.
Ketika akhirnya aku menemukan pria yang bisa mengubah mindset ku tentang jatuh cinta, mungkin aku akan terjatuh lebih dalam kepadanya.
Aku akan setia padanya. Karena aku tahu bahwa lelaki itu menyerahkan seluruh hatinya padaku, maka aku akan memberikan cinta yang sama besarnya pada pria itu.
" 𝘼𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩𝙢𝙪 𝙙𝙖𝙢𝙖𝙞? "
𝘽𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙠𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙥𝙪𝙧𝙣𝙖.
𝙏𝙖𝙥𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙨𝙣𝙖𝙧- 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩𝙢𝙪 𝙙𝙖𝙢𝙖𝙞.
Ketika aku benar- benar hidup.
Aku bisa menikmati hembusan nafas yang melegakan dadaku.
Aku bisa melihat pemandangan indah yang membuatku tenang.
Aku hanya perlu hidup yang seperti itu.
Hidup tenang tanpa drama di dalamnya.
.
.
.
𝙺𝚊𝚛𝚎𝚗𝚊 𝚝𝚎𝚛𝚔𝚊𝚍𝚊𝚗𝚐 :
𝙆𝙞𝙩𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙨𝙞𝙗𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙖𝙧𝙖𝙝,
𝙨𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙡𝙪𝙥𝙖 𝙗𝙖𝙝𝙬𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣𝙖𝙣 𝙞𝙩𝙪 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙩𝙪𝙟𝙪𝙖𝙣.
𝙆𝙞𝙩𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙨𝙞𝙗𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙟𝙖𝙬𝙖𝙗𝙖𝙣,
𝙨𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙡𝙪𝙥𝙖 𝙗𝙖𝙝𝙬𝙖 𝙥𝙧𝙤𝙨𝙚𝙨 𝙥𝙚𝙣𝙘𝙖𝙧𝙞𝙖𝙣 𝙞𝙩𝙪 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙢𝙗𝙚𝙡𝙖𝙟𝙖𝙧𝙖𝙣.
.
.
.
𝙼𝚊𝚔𝚊 𝚑𝚊𝚛𝚒 𝚒𝚗𝚒 :
𝙋𝙚𝙡𝙪𝙠 𝙚𝙧𝙖𝙩 𝙠𝙚𝙗𝙞𝙣𝙜𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣𝙢𝙪.
𝙍𝙖𝙣𝙜𝙠𝙪𝙡 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙚𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠𝙥𝙖𝙨𝙩𝙞𝙖𝙣𝙢𝙪.
𝙏𝙚𝙧𝙞𝙢𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙥𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙖𝙙𝙖 𝙠𝙚𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠𝙩𝙖𝙝𝙪𝙖𝙣𝙢𝙪.
Penerimaan.
Akun hanya perlu menerima diriku dengan apa adanya.
Aku hanya perlu belajar mencintai diriku sendiri.
Aku hanya perlu menyelesaikan apa yang belum selesai pada diriku.
Aku hanya perlu nerapikan kembali benang kusut itu menjadi untauan yang lebih rapi lagi.
Karena aku percaya, setelah aku bisa menerima semuanya, maka hal- hal baik itu akan datang padaku dengan brutal.
.
.
.
𝙺𝚊𝚛𝚎𝚗𝚊 𝚜𝚞𝚊𝚝𝚞 𝚜𝚊𝚊𝚝 𝚗𝚊𝚗𝚝𝚒, 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚎𝚛𝚝𝚒 :
𝘽𝙖𝙝𝙬𝙖 𝙨𝙚𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙝 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙖𝙢𝙗𝙞𝙡, 𝙨𝙚𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙠𝙚𝙗𝙞𝙣𝙜𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙧𝙖𝙨𝙖𝙠𝙖𝙣, 𝙨𝙚𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙠𝙚𝙧𝙖𝙜𝙪𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙝𝙖𝙙𝙖𝙥𝙞, 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙥𝙚𝙩𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞.
𝘿𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙩𝙞𝙠𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙞𝙩𝙪 𝙩𝙞𝙗𝙖, 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙨𝙚𝙣𝙮𝙪𝙢 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙖𝙙𝙖𝙧𝙞 : 𝘽𝙖𝙝𝙬𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙨𝙚𝙨𝙖𝙩 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙢𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧- 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙢𝙞𝙡𝙞𝙠𝙢𝙪.
𝕋𝕠 𝕓𝕖 𝕔𝕠𝕟𝕥𝕚𝕟𝕦𝕖.
Komentar
Posting Komentar