π•ƒπ•’π•žπ•’-π•π•’π•žπ•’ 𝕓π•ͺ π”Ήπ•–π•£π•Ÿπ•’π••π•ͺ𝕒.

Bernadya, apakah aku lebih baik mundur saja? 


Ini hari Minggu. Dan aku sudah sibuk melamun di kafe tempatku bekerja. Setelah sibuk meracik kopi dan beberapa menu makanan untuk pengunjung yang datang silih berganti dari siang hari, akhirnya aku bisa rehat sejenak. Melemaskan beberapa otot tubuhku yang tegang efek kesibukan beberapa jam yang lalu. Pengunjung sore ini tidak terlalu banyak. Entah jika malam hari tiba. Mungkin aku akan sibuk berkutat dengan pekerjaanku kembali. 

" Are you okay, Kak? " Seseorang menepum bahuku. Ternyata Ilma, pegawai kasir yang baru keluar dari arah dapur dengan segelas air putih di tangannya. 

Aku mengangguk pelan. " I'm okay. Kenapa, Ma? "

" Ngga. Aku sedikit khawatir sama Kakak. Dari tadi Kakak ngelamun terus. Istirahat dulu aja Kak. Jangan berdiri mulu. Nggak pegel itu kaki?" Omel Ilma sembari menyidirkan gelas yang dipegang tadi ke arahku. " Minum dulu, gih! "

Ilma begitu cerewet. Tapi dia begitu baik dan juga ramah. Dia senang bertemu banyak orang dan bahkan tak segan untuk membuka obrolan dengan orang baru untuk sekedar mengakrabkan diri. Aku sedikit bersyukur karena Ilma memaklumi sifat pendiamku dan bisa mengimbangi sikapku. 

" Gak apa- apa. Aman kok. Cuma yaaa pengen merhatiin suasana kafe yang tenang ini. Ditambah lagu nya pas banget, ya? Lagu Bernadya. " Jawabku sembari meneguk sedikit air putih pemberian Ilma. Dia penggemar berat penyanyi pendatang baru itu. Dan bahkan sudah mengajukan cuti untuk nonton konser nya 2 minggu lagi ke Kak Bara, kakakku. 

" Iya. Ini juga bentar lagi ganti lagu Kak. Lagu
' Apa mungkin' terlalu relate buat aku. Hehehe... " Ucap Ilma dengan kekehan khas nya. Aku hanya tersenyum tipis melihat tingkahnya. 

Lagu mulai berada di detik-detik terakhir, dan lagu yang sempat aku putar akhir- akhir ini malah menjadi daftar lagu selanjutnya. Lagu nya terlalu menyentil ku. Bukan menyentil fisik ku. Tapi hati yang sudah mati rasa ini. 
Lagu yang terlalu gamblang menggambarkan perasaan ku kepada Semesta, seorang pria yang membuatku terjebak cinta sepihak selama 8 tahun ini. Berawal dari pertemanan karena sekelas di sekolah. Tapi, perlahan hatiku tertarik pada sosoknya dan sampai detik ini pun, aku masih memendamnya untuk diriku sendiri. 

' Bernadya, tolong ya, besok- besok jangan nyanyi lagu yang terlalu relate untuk orang yang sedang patah hati sepertiku. Ini terlalu nyata untukku yang masih menunggu sebuah keajaiban dalam kehidupan cintaku. '


" Berusaha tetap terjaga. 
Tunggu sampai kamu selesaikan semua kesibukan."
Hal yang paling menyenangkan bagiku adalah bercerita denganmu. Aku merelakan menyelesaikan semua pekerjaanku dan menahan kantukku untuk menunggu waktu untuk berbicara dengan mu. Walau hanya melalui pesan singkat. Dengan sabar dan yakin bahwa kamu akan selesai dengan semua kegiatanmu, aku bersedia menunggu. 


" Dering yang paling kunantikan
Akhirnya datang hanya menyapa sebentar. 
Pamit tidur duluan."
Pesan singkat yang ku kirim beberapa jam yang lalu mendapat respon darimu. 
Kamu tahu? Aku senang mendengar notifikasi yang berdering khusus untuk pesanmu. 
Aku sengaja membedakan notifikasi pesan singkat yang masuk dari mu dengan yang lain. 
Agar aku tahu, bahwa aku mendapat respon darimu. 
Tapi sayang, kamu hanya menjawab singkat tanpa berbalik tanya padaku. 
Pesannya singkat. Dan berakhir begitu saja tanpa lanjutan yang aku harapkan. 


" Ku maklumi selalu. 
Kumengerti kamu. 
Punya sibuk lain. 
Tak harus aku
Tak selalu aku."
Aku mengerti. Bahwa hubungan yang kita bangun hanya sebatas sebuah pertemanan. Kamu tak harus selalu ada untukku.
Kamu punya kesibukan sendiri. 
Kamu punya dunia kamu sendiri. 
Tapi sialnya, hati kecilku ini berharap sesuatu yang begitu besar darimu. 
Aku hanya ingin dianggap ada olehmu. 
Bukan sebagai sebatas teman. 
Tapi, menjadi seseorang yang diprioritaskan keberadaannya olehmu. 
Menjadi seseorang yang diistimewakan kehadirannya. 
Sial, aku jatuh hati padamu


" Lama- lama, lelah juga aku. 
Seperti hanya aku yang membutuhkan kamu. "
Aku jatuh hati padamu. 
Aku jatuh hati sendirian, tanpa kamu sadari. 
Awalnya, aku sanggup menahannya. 
Menyimpannya untuk diriku sendiri. 
Tapi, lama-lama, aku tak kuat menahannya. 
Semua rasa sakit dan kecewa yang ada pada diriku, yang bahkan kamu tak mengetahui hal itu. 
Tetapi aku malah menyalahkan semua itu padamu. 
Kamu masih bisa berjalan sesuai jalurmu, sementara aku berhenti jauh beratus- ratus langkah darimu. 
Aku lelah mengejarmu. 


" Lama- lama, habis tenagaku. 
Bila bukan lagi aku, tempat pulang yang kau tuju. "
Semakin banyak cinta yang kupendam untukmu, semakin berat juga beban yang kusimpan di hatiku. 
Semua atensi dan simpati yang kamu limpahkan padaku dulu membuat hati ini rakus menginginkan semua yang ada padamu. 
Kamu yang dulu pernah berbagi cerita padaku, seolah aku adalah orang yang bisa menjadi tempat untuk mengungkapkan isi hatimu itu. 
Tapi, kamu sendiri yang mundur dan kemudian menghilang. 


" Jangan ulur waktu. "
Jika kamu hanya singgah sesaat tanpa bertahan dalam waktu yang lama. 
Jika kamu hanya penasaran dengan semua yang berkaitan dengan cinta. 
Pergilah. 
Jangan bersikap seolah kamu menaruh hati padaku. 

" Semesta, lagu ini terlalu jelas menggambarkan kondisi perasaan ku yang teroendam untuk mu. San aku benci kenyataan itu.... " Gumamku pelan sembari memandang langit- langit atap cafe dengan pikiran kosong. 

Ku maklumi selalu. 
" Kumengerti kamu. 
Punya sibuk lain. 
Tak harus aku. 
Tak selalu aku. "

" Lama- lama, lelah juga aku. 
Seperti hanya aku yang membutuhkan kamu. "

" Lama- lama, habis tenagaku. 
Bila bukan lagi aku, tempat pulang yang kau tuju. "

"Jangan ulur waktu. "


"Berusaha tetap kujaga. 
Sampai habis tak tersisa tenaga yg kupunya. "
Ini sudah di titik terakhir . Semua tenaga yang ku keluarkan sudah tak bisa bertarunh lagi. Aku sudah mulai mati rasa. Karena semua usahaku untuk mendapat hatimu tak pernah membuahkan hasil. Aku begitu lelah. Cinta sepihak membuatku ingin berhenti bernafas saja. 
Aku kalah. 
Aku gagal. 


" Kini tak lagi kunantikan. 
Lakukan semua senyamanmu saja."
 Aku sudah tidak bersemangat dengan notifikasi pesan singkat di gawaiku. 
Aku akan berhenti. Dan kembali tenggelam dengan rasa cinta yang hancur. 
Aku akan berusaha keras menyatukan semua nya dan membingkai hatiku menjadi utuh lagi. Walau sulit, tidak apa.
Aku sudah terbiasa mengalaminya. 
Kamu sibuk dengan kegiatanmu, aku tidak akan menunggunya. 
Kamu membalas pesanku, tak akan aku langsung jawab.
Aku membutuhkan waktu yang panjang untuk menata hatiku kembali. 
Pergilah.
 Aku memang tidak ditakdirkan untukmu, Semesta. 

" Ku menyerah. "
Maaf, aku tidak bisa mempertahankan hatiku untuk kamu yang tidak tahu eksistensi perasaanku. 


                          _𝙏𝙀 π˜½π™š π˜Ύπ™€π™£π™©π™žπ™£π™ͺπ™š_

Komentar