𝔻𝕦𝕒 𝕎𝕒𝕛𝕒𝕙

Bagaimana jika orang yang kamu anggap seperti malaikat ternyata seorang iblis, dan orang yang kamu anggap seperti iblis ternyata seorang malaikat?

Sempat terlintas beberapa waktu ke belakang pemikiran seperti ini. Atau mungkin itu dialami oleh diriku sendiri.

Orang di sekitarku acap kali menilai jika aku terlihat dingin dan menyeramkan jika marah. 
Aku mengernyitkan keningku. Sedikit heran.
Aku mengakui jika aku cenderung diam dan jarang bicara. Iya, aku mengakui itu.
Itu bawaan dari pabriknya. Sudah sejak kecil aku jarang bicara banyak.
Jika pun aku cerewet, hanya kepada orang- orang terdekat yang bisa aku percaya.
Tapi jika dingin dan terkesan seperti monster saat marah? Mungkin aku harus menganalisa kembali.
Kecenderunganku yang harus tuntas dan rapi saat bekerja mungkin memberi sedikit pengaruh.
Aku hanya marah dan kesal saat rekan kerjaku kurang maksimal dengan pekerjaannya. 
Hanya memberikan teguran. Bukan emosi yang meledak.
Tapi, mereka menilai jika teguran itu sama dengan amarah.
Jadi disimpulkan secara instan, jika diriku adalah sosok yang menyeramkan jika sedang marah.

Kamu tahu?
Beberapa kali aku menegur orang jika mereka berbuat sesuatu yang kurang tepat, sekalipun aku sudah bicara dengan sangat lembut, mereka anggap jika aku seolah mengatur gerak- gerik mereka.
Namun, apa kabar mereka yang bahkan jika aku mengucapkan satu kata atau bertindak 1 hal adalah sebuah dosa di mata mereka?

Mereka memiliki kecenderungan menghakimi tindakan orang lain yang belum tuntas sempurna menjadi sesuatu yang buruk.
Mereka memiliki kecenderungan untuk menyimpulkan bahwa orang yang jarang bicara itu sangat anti sosial dan enggan berbaur dengan banyak orang.
Padahal, diamnya aku hanya sebagai tanda jika omong kosong membuat energi terkuras habis. 
Jika banyak bicara hal yang buruk mengenai orang lain membuat diriku menjadi tamak dan egois.
Tapi sayang, mereka menilai ku sudah seperti iblis.

Padahal mereka tidak tahu, bahwa orang yang mereka anggap berhati malaikat dan selalu terlihat ramah di pandangan mereka itulah yang aslinya seorang iblis. 
Mereka me manuver semua cerita yang ke seolahan jika mereka adalah korban, dan aku adalah tersangkanya.

Bahasa kerennya " playing victim "

Dia yang mengemis rasa iba dari mereka, dan menaikkan rasa percaya pada ucapannya akan merasa menang.
Karena beranggapan jika ucapannya berhasil menggaet mereka untuk berkeroyok untuk membenciku.

Dari hanya sebuah teguran tipis mengenai ucapan dia yang tidak bisa dijaga, kemudian menganggap aku sok mengatur ucapannya, dia membondong orang - orang untuk menjauhiku tanpa bertanya bagaimana cerita dari perspektif ku.

Jika saja aku bisa jahat, aku akan membongkar semua kebusukan dia. 
Bisa saja. Aku punya power untuk itu.
Tapi, aku masih punya nurani dan logika yang masih berfungsi.
Dan memutuskan untuk menutup semua nya karena menganggap hal itu akan menguras energi dan pikiranku.
Aku hanya percaya pada pepatah " jika waktu yang akan menunjukkan segalanya." 
Maka aku akan diam dan menikmati tikaman jahat dari tatapan mereka yang membenciku padahal belum mengenal diriku yang sebenarnya seperti apa.
Dan membiarkan waktu yang kini tengah melangkah jauh akan menjawabnya.

Komentar