ππ¦ππ π€π πΎππππ€ πππ¨ππ£ ππππ£
Setiap manusia
pasti mendambakan sebuah kehidupan tenang dan penuh kebahagiaan demi kelancaran
hidupnya selama di dunia. Tanpa harus terikat sebuah masalah dengan diri
sendiri ataupun orang- orang di sekitarnya. Menikmati ketenangan yang diimpikan
pikiran, dan meregangkan tubuh sejenak dari hiruk pikuk keramaian. Manusia juga
pasti mendambakan sebuah hubungan yang harmonis dengan manusia lainnya sebagai
sebuah kebutuhan utama. Dengan begitu mereka akan saling mencinta, saling
menjaga, saling mendukung, dan saling mendoakan sebuah kebahagiaan.
Semuanya terasa
semu. Semuanya terasa seperti mimpi konyol yang diharapkan manusia. Tidak
mungkin ada kehidupan yang seperti itu. Kehidupan realitas terkadang harus
dihadapi walaupun jauh dari ekspetasi. Lebih mengerikan dari yang dibayangkan.
Bahkan terkadang selalu saja terselip pikiran negatif jika masalah sepele yang
diperbesar menimpa manusia itu.
Termasuk Nesrin Ayara.
Gadis berusia 21 tahun yang kini hanya duduk terdiam menatap pantulan tubuhnya
di cermin dengan mata sembab luar biasa. Kepalanya ingin pecah rasanya. Ingin
menumpahkan semua luka yang ia tahan selama hidupnya, tapi bingung harus kemana
ia melepaskan semua beban di kepala dan pundaknya.
Kepergian
Ayahnya 15 tahun yang lalu menuntut Nesrin untuk berpikir dewasa sebelum
waktunya. Nesrin terbiasa hidup di bawah tekanan orang tuanya yang dikenal
diktator, posesif kelas kakap, dan protektif keras. Ia harus hidup di bawah
kendali orang tuanya. Jika ia ingin keluar dari zona itu, maka hukuman tengah
menanti.
Kakak dan
adiknya sama kerasnya juga. Mereka hidup seenaknya tanpa harus diperlakukan
seperti itu oleh orang tuanya dulu. Mereka bebas berbicara, mengemukakan
pendapat, atau ikut campur ke dalam urusan satu sama lain. Tapi tidak dengan Nesrin.
Mereka memperlakukan gadis itu dengan sangat berbeda. Nesrin tertekan. Ia
sangat menyerah dengan kehidupannya sendiri.
“Apa susahnya
sih jadi anak yang taat sama orang tua? Kan Ibu yang selama ini susah payah
membesarkan kamu sendiri!” – Ibu.
“ Kamu adik
yang benar- benar payah! Apa- apa selalu saja ditangisi! Harusnya kamu kuat!
Jangan cengeng kayak gitu!”- Kakak.
“ Aku cuma
minta uang buat patungan tugas sekolah doang! Bukan mau maling yang kamu! Kenapa
harus ditanyain dulu, sih? Lagipula aku ngga korupsi kok!” – Adik.
Semua ucapan
mereka berputar tanpa henti di kepalanya. Rasanya jahat sekali jika mereka
hanya menggunakannya sebagai ATM berjalan. Nesrin juga manusia! Dia ingin
diperlakukan selayaknya anak pada umumnya. Hanya itu yang ia mau.
Seperti saat
ini. Dia tidak dilibatkan dalam kehidupan rumahnya sendiri. Mereka bersikap
seenaknya saja. Hanya meminta uang untuk kebutuhan keluarganya. Nesrin lelah
luar biasa. Ia terlalu keras membanting tulang demi kebahagiaan keluarganya. Mengeluh?
Bukannya itu manusiawi? Nesrin bahkan gadis yang normal. Manusia pasti akan
merasa di titik paling lelahnya. Mereka akan meratapi kehidupan berat yang
harus dijalani sepanjang hidupnya, bukan?
Di kamar yang
sunyi dan gelap, Nesrin kembali meratapi hidupnya dengan tangis yang sejak sore
tadi tidak berhenti. Ia tidak sempat makan, lebih tepatnya dia enggan
memasukkan sesuap nadi atau segelas air ke kerongkongannya. Dia sudah merasa
jengah dengan hidupnya. Dia sudah sangat ingin menyerah, sungguh!
Nesrin kembali mendongakkan kepalanya setelah
bersembunyi di lipatan tangannya. Matanya terbelalak ketika pantulan di
cerminnya tidak memperlihatkan wajah sembabnya. Justru wajah penuh senyum dan
bersinar tengah menatapnya sambil melipatkan kakinya menyilang.
“ Nesrin....”
Nesrin kembali tertegun. Pantulan tubuhnya itu berbicara. Ia mengusap matanya
yang berair. Memastikan bahwa dia tidak tengah berhalusinasi. Dan benar!
Bayangan itu masih tersenyum di depannya. Nesrin hanya diam. Siapakah sosok
yang menyerupai dirinya itu? Wajahnya jauh lebih tenang dan begitu cerah.
“ Kamu tidak
usah terkejut. Aku adalah kamu. Sosok kamu yang kamu hidupkan demi kelanjutan
kehidupan kamu di sini....” Sosok itu kembali berbicara. Ia menegakkan
tubuhnya sebentar. Sebelum kembali duduk dengan rileks. “ Mata kamu bengkak.
Kali ini apa yang kamu tangisi, Nesrin?”
Nesrin kembali
terdiam. Itu sosok dirinya sendiri yang tumbuh di dalam tubuh dan pikirannya.
Sosok yang menjadi penguatnya dikala orang- orang berusaha membuat hatinya
hancur berkeping- keping. Hanya pantulan cermin yang tengah duduk di hadapannya
yang sanggup memeluk itu semua. Ya, itu dirinya.
“ Tangan kamu
terluka. Darahnya bahkan sudah mengalir sederas itu. Kali ini luka ke berapa
yang kamu torehkan si kulit cantikmu sekarang, Nesrin?” Pantulan cermin itu
kembali bertanya. Nesrin mati kutu. Ia bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan
dari pikirannya sendiri.
“ Ini akan
membuatku lega. Aku sedang tersiksa sekarang. Makanya aku mengambil cutter
kecil ini untuk menggoresnya di sini.” Nesrin menunjuk pada cutter yang
tergeletak tak jauh dari tempatnya duduk, lalu beralih pada luka di tengah
kirinya yang masih mengeluarkan cukup banyak darah.
“ Kamu bisa
mengobrol denganku. Pelan- pelan saja. Kamu akan semakin sakit jika terus
menahan semuanya sendiri....” Pantulan cermin itu menatapnya lembut. Nesrin
semula ragu. Ceritanya terlalu panjang dan rumit untuk didengar. Tapi, melihat
kesiapan pantulan cermin itu, ia akan mencoba sekeras mungkin untuk berbicara.
“ Aku sangat
lelah dengan kehidupanku sendiri. Semuanya terasa terbalik sejak kepergian
Ayah. Aku yang terpaksa menjadi dewasa di usia sepuluh tahun. Keluarga yang
begitu keras, diktator, dan mengerikan. Aku tidak bebas. Aku seperti terpenjara
di rumah sendiri....” Nesrin memiringkan kepalanya pelan. “ Ibuku menuntut
banyak hal. Aku harus bisa melakukan segalanya. Aku tidak boleh cengeng. Aku
tidak boleh manja ataupun menjadi gadis lemah. Aku diperlakukan dengan berbeda.
Kakak dan adikku begitu bebas dan terbuka mengenai kehidupan mereka. Tidak
memandang situasi dan kondisi. Tapi, jika aku yang bicara, mereka bilang bahwa
aku tidak bisa membaca situasi rumah yang sedang tidak kondusif. Sejak itu aku
tersadar, bahwa keterbukaanku mengenai isi kepalaku akan menjadi bumerang
untukku....”
“ Aku selalu
bertanya pada diriku sendiri. Di mana semua letak kekuranganku itu? Aku harus
segera menemukannya dan memperbaiki itu semua. Aku sudah melakukan sekuat
mungkin untuk membuat mereka terkesan dan mulai melihatku sebagai anggota
keluarga mereka juga. Tapi ternyata itu semua tidak seindah ekspetasi. Aku
menghancurkan anganku sendiri.”
“ Ada di satu
waktu aku harus terlihat baik- baik saja ketika berada di lingkungan luar.
Bersikap seolah aku adalah gadis dengan kehidupan yang aman dan tenteram. Membuat
karakter lain untuk menutup wajah asliku. Aku yang terlihat kuat dan berani
ternyata berhasil menutupi diriku yang sangat rapuh dan hancur....”
“ Aku bekerja
dengan sangat keras. Siang dan malam. Demi mendapatkan uang. Aku ingin
keluargaku tidak merasa kekurangan. Aku menyerahkan semua hasil usahaku kepada
mereka dengan harapan mereka bisa menganggapku ada. Tapi sekali lagi, aku hanya
seperti bayangan saja di mata mereka. Mereka tetap tidak melihatku. Semua
usahaku rasanya sia- sia saja....”
“ Aku tidak
punya pegangan apapun. Uang, materi, rumah ataupun hal lainnya. Aku terlanjur
berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan melindungi mereka sejak Ayah pergi.
Tabunganku tak seberapa. Tapi demi mereka, aku rela miskin dan tak pernah
mengurus tubuhku dengan baik.”
Mata Nesrin
kembali meneteskan air mata. Hidupnya terlalu menyedihkan. Maka sulit untuknya
untuk membuat kehidupan bahagia dengan versinya sendiri.
“ Nesrin,
coba lihat aku sebentar....” Kepala Nesrin mendongak pelan saat suara itu
memintanya untuk menunjukkan wajahnya. Nesrin tertegun. Ia baru menyadari
betapa kuatnya jiwa inner child nya yang tengah berhadapan dengannya itu. Dia
tidak menangis ataupun meratapi hidupnya sendiri yang sudah sangat kacau. Nesrin
sangat bahagia jika sosok di depannya itu masih mau bertahan hidup bersamanya
selama ini.
“ Aku sudah
menemani kamu selama hampir 21 tahun, kan? Aku mengenal kamu melebihi diri kamu
sendiri. Kamu adalah sosok yang kuat dan tangguh. Kamu sudah mengasah
karaktermu dengan sangat tajam. Aku mengapresiasi kekuatan hati kamu selama
ini....” Sosok itu tersenyum tipis. Nesrin hanya menatapnya dengan raut
datar. “ Setiap kamu tertidur karena lelah bekerja seharian, aku selalu
berdoa kepada Tuhan agar aku bisa tetap kuat menemani kamu dalam kondisi
apapun. Aku selalu berusaha keras agar pikiran buruk yang ada di kepala kamu
itu mendominasi hidup kamu. Aku tahu kamu sering memikirkan soal mengakhiri hidup
kamu setiap kamu down seperti sekarang ini....” Nesrin menggigit bibirnya gugup.
Ternyata ia melihat semuanya. Merasakan penderitaan demi penderitaan yang Nesrin
alami. Nesrin yang semula merasa jika dirinya saja yang terluka, tapi ternyata
ada yang lebih hancur. Yaitu pantulan dirinya sendiri.
“ Sudah
banyak goresan luka yang kamu torehkan di sekujur kulitmu, Nesrin. Terlalu
banyak sehingga aku tidak begitu banyak mengingat luka itu. Aku mencoba menahan
sakitnya. Karena aku tahu jika kamu akan merasa lega setelah melakukannya. Tapi
sekarang aku sudah tidak bisa menahan itu. Aku harus membujukku untuk tetap
hidup. Karena aku masih ingin hidup di dunia ini. Walaupun terasa berat, tak
apa. Cukup aku saja yang terluka. Jangan sampai kamu yang terus menerus
menorehkan cutter kecil itu di setiap inchi tubuh kamu. Sudah terlalu banyak,
Nesrin. Aku sudah tidak kuat....” Semula matanya yang memancar penuh
ketenangan namun kini berubah menjadi begitu sedih. Air matanya mulai meluncur
di ujung matanya. Nesrin mengusap cermin itu, seolah bisa menghapus air mata
pantulan itu.
“ Mungkin
kamu mengira jika mengakhiri hidup adalah opsi terbaik agar keluargamu tidak
perlu menderita dengan kehadiranmu yang seperti pengacau. Tapi itu benar- benar
salah. Jika kamu memilih untuk membunuh dirimu sendiri, belum tentu Tuhan mau
menampungmu di surga. Kamu mengambil nyawamu sendiri tanpa persetujuan Tuhan
saja sudah sangat dibenci penghuni langit. Selian itu juga, jika kamu tetap
kukuh ingin mati, keluargamu akan merasakan dampak besarnya. Mereka menyesali
perbuatan mereka karena sudah mengabaikanmu. Mereka akan menangis meraung- raung
agar kamu kembali berada di sisi keluargamu. Mereka akan terus hidup terpuruk
di sisa hidupnya. Apa kamu tidak kasihan melihat itu semua?”
“ Aku tahu
kamu begitu sulit dengan kehidupan kamu yang sekarang. Dunia memang tidak
sebaik yang kita bayangkan. Mereka kejam. Mereka egois. Dan aku mengakui itu. Tapi
kita tidak bisa terus menerus larut dengan semua kekacauan itu. Kita harus
memperjuangkan hidup kita sendiri. Setidaknya demi masa depanmu yang mungkin
sedang menunggumu. Atau sebuah impian baik yang akan menyambutmu nanti....”
“ Aku hanya
minta sedikit saja dari kamu, Nesrin. Bersabarlah sedikit lagi. Aku mohon
tetaplah hidup sebagai Nesrin Ayara. Kamu perlu menjadi orang lain. Jika kamu
merasa keberatan dengan semua pemikiran orang lain, kamu tidak perlu diam.
Sesekali kamu harus mengungkapkan isi kepalamu. Aku yakin mereka akan bersedia
mendengarkanmu dengan baik. Jangan menahan semua rasa sedihku setiap hari. Aku
tahu kamu terbiasa menyimpannya rapat- rapat di kepalamu. Tapi, kamu harus
sesekali berbicara dengan orang yang sekiranya kamu mempercayainya dan siap
menampung semua ceritamu. Memang terasa sulit pada awalnya, tapi kamu akan
terbiasa nantinya. Aku melakukan semua itu demi kebaikan kamu juga. Agar kamu
sudi untuk melanjutkan hidup dengan tubuhmu sendiri.”
Mata mereka
saling bertemu. Saling menjelajahi ujung mata mereka dengan diam. Merenungi
setiap ucapan yang keluar dari ujung bibir pantulan itu. Nesrin seketika paham.
Bahwa tidak semua orang memiliki waktu untuk memahami dirinya kecuali jiwanya
sendiri. Nesrin hanya perlu bersabar dan menjalani hidup dengan nyaman dan
normal dengan caranya. Nesrin mengakui kesalahannya jika tindakan melukai
dirinya sendiri adalah sebuah kesalahan terbesar dan membuat inner child nya
harus menahan luka setiap hari.
“ Aku minta maaf
padamu. Maaf telah membuatmu menahan semua itu. Maaf sudah menyakitimu begitu
banyak. Aku tidak tahu ada jiwa di dalam diriku yang lebih terluka dati diriku
sendiri. Aku tidak peka dengan itu. Aku benar- benar menyesali tindakan di luar
nalarku.”
Perlahan wajah
pantulan itu menampilkan senyum hangatnya. Ia menatap Nesrin dengan lembut. Ia
mengangguk. Seolah menjawab ' aku tidak masalah dengan itu.’
“ Terima kasih
untuk tetap hidup hingga titik ini. Aku tidak tahu jika kamu lebih kuat dan
tabah dibandingkan aku. Aku belajar banyak darimu. Aku akan mengingat semuanya.
Tetap ingatkan jika aku mulai terasa melewati batas ku. Aku juga bahkan tidak
tak tahu harus membalas kebaikanmu dengan apa.”
“ Balas
kebaikanmu dengan niatmu sendiri, Nesrin. Datangi psikiater untuk terapi. Tetap
berdiri dengan kaki sendiri. Jangan dengarkan omongan buruk orang lain. Lebih
dekat kepada Tuhan dan bekerja dengan ikhlas. Belajar untuk menerima semua
takdirmu. Mulai dekatkan diri juga kepada keluargamu. Aku yakin mereka akan
menyambutmu dengan pelukan erat. Balaslah semua kebaikanku dengan hal itu.
Dengan begitu kita impas....”
“ Perlu kamu
ingat, Nesrin. Kamu gadis yang sangat kuat. Kamu normal. Kamu sanggup
mengahadapi dunia luar. Kamu adalah manusia yang Tuhan ciptakan dengan sangat
baik. Jangan dengarkan semua perkataan atau gunjingan buruk di luar sana. Tutup
mata telingamu untuk urusan itu. Tapi kamu harus tetap membuka kedua matamu
jika ingin memahami isi dunia. Dunia tidak selamanya berotasi di sekitarmu
saja. Dia bisa berpindah dengan sesuka hati. Kamu hanya ikuti alurnya saja. Itu
tidak akan terasa sulit jika kamu memahami maksudku.”
Dengan pelan, Nesrin
menganggukkan kepala. Ia benar- benar paham sekarang. Dia hanya perlu bersabar.
Dia gadis yang kuat. Dia akan menjadi gadis terbaik dengan caranya.
“ Terima kasih.”
Pantulan cermin
itu tersenyum.
“ Terima
kasih kembali. Tidurlah. Ini sudah larut malam. Cuci mukamu terlebih dahulu.
Jangan menangis lagi. Atau matamu tidak bisa terbuka lebar nantinya....”
Nesrin terkekeh pelan dengan suara serak. Ia harus bahagia. Setidaknya demi
dirinya sendiri dan pantulan dirinya itu. Nesrin menutup matanya sejenak. Tak
berapa lama, pantulan itu menghilang. Hanya terlihat sosoknya yang terlihat
kusut dan begitu menderita. Nesrin bangkit berdiri. Pertama dia akan pergi ke
kamar mandi, membasuh muka dan tangannya. Lalu beralih mengambil kotak P3K yang
biasa ia simpan di nakas sisi ranjangnya. Membalut luka panjang dan dalam itu
dengan obat merah dan plester. Setelah semua selesai, Nesrin merebahkan
tubuhnya perlahan. Besok ia harus kembali bekerja. Dia tidak boleh terlihat buruk
dan menyedihkan.
Ia berdoa di
dalam hati. Berharap hari esok dan seterusnya akan berpihak padanya dengan
baik.
Semoga saja.
---------- Selesai ----------
Sedikit informasi
:
*Arti nama Nesrin,
pemeran utama cerpen ini adalah “ Mawar Liar”, dan Ayara
memiliki arti “ puisi”.
Aku
mendedikasi kisah ini karena aku juga sedang di poisisi survive dari depresi
yang sudah aku alami sejak SMP. Dan sekarang aku masih berjuang biar tetap
sembuh. Sebagian kisah yang aku tulis itu nyata, sisanya hanya fiktif. Aku
harap kalian akan senang dengan tulisan ini. Walaupun tidak banyak dan terlalu
to the point, tapi aku harap semua pembaca bisa mengambil sisi positif dari
kisah ini.
Terimakasih
π
Komentar
Posting Komentar